Langkah Gontai Messi Usai Spanyol Rebut Mahkota Piala Dunia 2026
EAST RUTHERFORD, N.J. — Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026 langsung membungkam puluhan ribu pendukung Albiceleste yang memadati MetLife Stadium, Minggu ...
EAST RUTHERFORD, N.J. — Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026 langsung membungkam puluhan ribu pendukung Albiceleste yang memadati MetLife Stadium, Minggu (19/7) malam waktu setempat. Satu per satu pemain Argentina berjalan lesu meninggalkan panggung kehormatan setelah menerima medali juara kedua. Lionel Messi, dengan wajah hampa, memimpin barisan bersama Rodrigo De Paul, Nicolas Otamendi, dan Leandro Paredes. Tidak ada lagi selebrasi, hanya langkah gontai yang menandai akhir dari era keemasan yang kini berganti menjadi kenangan pahit di dekat New York.
Kekalahan ini terasa begitu kontras dengan euforia empat tahun lalu di Lusail. Kini, Spanyol asuhan pelatih Luis de la Fuente tampil dominan dengan penguasaan bola 58 persen, 8 tembakan tepat sasaran berbanding 3 milik Argentina, dan keunggulan taktis yang membuat La Roja pantas menyandang gelar juara dunia untuk kedua kalinya sepanjang sejarah.
Babak Pertama: Dominasi Spanyol yang Mengejutkan
Sejak peluit pertama dibunyikan oleh wasit asal Inggris, Spanyol langsung mengambil inisiatif permainan. Formasi 4-2-3-1 yang diusung De la Fuente sukses mematikan lini tengah Argentina yang biasanya dikendalikan oleh De Paul dan Enzo Fernandez. Menit ke-12, Pedri melepaskan umpan terobosan yang membelah pertahanan Argentina dan langsung disambut oleh Lamine Yamal. Sayangnya, tendangan pemain muda Barcelona itu masih bisa ditepis oleh Emiliano Martinez. Namun, gol tidak butuh waktu lama untuk datang.
Menit ke-23, Nico Williams yang bergerak dari sisi kiri melewati Nahuel Molina dan melepaskan tendangan melengkung ke tiang jauh yang tak mampu dijangkau Martinez. Skor berubah 1-0. Argentina mencoba merespons melalui aksi individu Messi di menit ke-31, namun tembakan kaki kirinya masih melebar tipis. Hingga babak pertama usai, Argentina hanya mencatatkan satu tembakan tepat sasaran dan terkurung di area sendiri.
Statistik babak pertama menunjukkan ketimpangan: penguasaan bola Spanyol 62 persen, operan sukses 423 berbanding 211 milik Argentina. Tim asuhan Lionel Scaloni terlihat kehilangan kreativitas setelah Alexis Mac Allister mengalami cedera ringan di menit ke-28 dan terpaksa digantikan oleh Giovani Lo Celso.
Messi dan Harapan yang Perlahan Padam di Babak Kedua
Argentina memasuki babak kedua dengan semangat berbeda. Serangan lebih berani dilancarkan. Baru tiga menit berjalan, Julian Alvarez hampir menyamakan kedudukan andai sundulannya tidak membentur mistar gawang. Momentum itu berlanjut hingga akhirnya membuahkan hasil di menit ke-57. Messi, dengan kecerdikannya, menusuk dari sisi kanan dan melepaskan umpan tarik sempurna ke kotak penalti. Lautaro Martinez yang masuk di babak kedua langsung menyambar bola dan menjebol gawang Unai Simon. Skor imbang 1-1.
Sorak sorai pendukung Argentina menggema. Namun, euforia hanya bertahan 11 menit. Di menit ke-68, skema sepak pojok Spanyol menghadirkan petaka. Dani Olmo melepaskan umpan matang yang disambut sundulan keras Pedri di tiang dekat. Bola menghunjam ke sudut atas gawang tanpa bisa dihalau. Spanyol kembali unggul 2-1. Petaka berlanjut di menit ke-81: serangan balik cepat yang dibangun Yamal dan Olmo diakhiri oleh Gavi yang melepaskan tembakan first-time dari luar kotak penalti. Bola bersarang telak di pojok kiri bawah, mengubah skor menjadi 3-1.
Argentina mencoba mati-matian mengejar ketertinggalan. Messi nyaris memperkecil kedudukan di menit ke-87 melalui tendangan bebas, namun Unai Simon melakukan penyelamatan gemilang. VAR sempat memeriksa potensi penalti saat Di Maria dijatuhkan di kotak terlarang pada masa injury time, namun wasit memutuskan tidak ada pelanggaran. Hingga peluit panjang berbunyi, papan skor tetap 3-1.
Statistik akhir menegaskan superioritas Spanyol: total shots 18-7, shots on target 8-3, penguasaan bola 58%-42%, dan jumlah pelanggaran 11-14. Spanyol tampil sebagai tim yang lebih klinis dan terorganisir, sementara Argentina seperti kehabisan ide menghadapi pressing tinggi lawan.
Akhir yang Kelam dan Suasana di Panggung Kehormatan
Setelah para pemain Spanyol berpesta, tibalah momen pedih bagi Argentina. Satu per satu pemain naik ke panggung untuk menerima medali perak. Ekspresi para pemain sangat kontras—Otamendi menunduk dalam, De Paul menggigit medali dengan tatapan kosong, dan Messi hanya sekilas melirik medali yang dikalungkan sebelum berjalan pergi tanpa banyak gestur. Ribuan kamera mengabadikan langkah gontai kelompok yang dipimpin Messi, Paredes, De Paul, dan Otamendi itu. Sebuah potret akhir yang begitu emosional.
Pelatih Lionel Scaloni dalam konferensi pers usai laga mengungkapkan, “Saya bangga pada para pemain yang telah berjuang hingga titik terakhir. Spanyol pantas menang malam ini. Kami harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada dan memulai kembali dari awal.” Di sisi lain, Luis de la Fuente memuji timnya: “Kami menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan kepercayaan pada gaya bermain, kami mampu mengalahkan tim terbaik di dunia. Ini adalah kemenangan untuk sepak bola Spanyol.”
Kekalahan ini semakin menimbulkan pertanyaan tentang masa depan sejumlah pemain senior Argentina. Di usia 39 tahun, Messi belum memberikan isyarat pasti mengenai karier internasionalnya. Otamendi yang kini berusia 38 tahun juga tampak sangat terpukul. Sementara bagi Spanyol, masa depan cerah terbentang—Lamine Yamal, Pedri, Gavi, dan Nico Williams adalah fondasi generasi emas yang baru saja menulis sejarah di tanah Amerika.
MetLife Stadium malam itu menjadi saksi lahirnya raja baru sepak bola dunia. Trofi Piala Dunia 2026 terbang ke Madrid, sementara Argentina harus pulang dengan air mata dan medali perak yang tak mampu menutupi luka. Sepak bola memang kejam, tapi di sanalah letak keindahannya—selalu ada ruang untuk kisah baru, sekaligus akhir yang menyayat hati.
Comments (0)