Gianni Infantino: Presiden FIFA yang Mengubah Wajah Sepak Bola Dunia

Gianni Infantino bukan sekadar sosok administratif di balik meja hijau FIFA. Sejak dilantik sebagai Presiden FIFA pada Februari 2016, pria kelahiran Swiss ini menjadi arsitek utama perubahan besar dal...

Aug 25, 2026 - 06:38
0 0
Gianni Infantino: Presiden FIFA yang Mengubah Wajah Sepak Bola Dunia

Gianni Infantino bukan sekadar sosok administratif di balik meja hijau FIFA. Sejak dilantik sebagai Presiden FIFA pada Februari 2016, pria kelahiran Swiss ini menjadi arsitek utama perubahan besar dalam ekosistem sepak bola global—mulai dari perluasan Piala Dunia hingga kelahiran turnamen antarklub megah yang mengguncang kalender kompetisi sedunia.

Dari Pengacara Swiss ke Puncak Kekuasaan Sepak Bola

Perjalanan Infantino menuju kursi paling berpengaruh di dunia sepak bola dimulai dari kota kecil Brig, Swiss, tempat ia dilahirkan pada 23 Maret 1970. Berbekal gelar hukum dari Universitas Fribourg, ia mengawali karier internasional ketika bergabung dengan UEFA pada tahun 2000 sebagai bagian dari tim legal organisasi. Kariernya menanjak cepat: pada Oktober 2009, ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA, posisi strategis yang menempatkannya tepat di jantung roda kekuasaan sepak bola Eropa.

Momen penentu datang pada 26 Februari 2016 di Zurich. Di tengah krisis tata kelola yang melanda FIFA pasca-era Sepp Blatter, Kongres Luar Biasa memilih Infantino sebagai presiden baru usai unggul atas Sheikh Salman bin Ibrahim Al-Khalifa pada putaran kedua pemungutan suara. Mandatnya terus diperbarui sejak itu—terpilih tanpa lawan pada Juni 2019, lalu kembali dipercaya untuk periode ketiga di Kigali, Rwanda, pada Maret 2023, yang mengunci posisinya hingga 2027.

Reformasi Besar: 48 Tim, VAR, dan Turnamen Klub Megah

Di bawah kepemimpinan Infantino, FIFA yang membawahi 211 asosiasi anggota menjalani restrukturisasi kompetisi paling agresif dalam sejarahnya. Keputusan paling monumental adalah perluasan Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim mulai edisi 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—dengan total 104 pertandingan, naik signifikan dari 64 laga pada format sebelumnya.

Inovasi teknologi juga menjadi ciri khas era ini. Video Assistant Referee (VAR) resmi diperkenalkan di panggung Piala Dunia 2018 di Rusia, membuka babak baru penegakan disiplin wasit di level tertinggi. Sementara itu, Piala Dunia Antarklub 2025 hadir dengan format baru yang menghadirkan 32 klub dari enam konfederasi—menyamai skala Piala Dunia tingkat negara dan langsung menjadi ajang bergengsi baru bagi klub-klub elit dunia.

Dari sisi finansial, mesin pendapatan FIFA tumbuh pesat, didorong oleh hak siar, sponsor global, serta kesuksesan komersial Piala Dunia Qatar 2022—edisi pertama yang digelar di dunia Arab dan berakhir dengan Argentina juara lewat drama adu penalti atas Prancis pada final yang berakhir 3-3 setelah perpanjangan waktu.

Tantangan dan Sorotan Kritis

Namun, jalur reformasi tidak selalu mulus. Usulan Piala Dunia dua tahunan yang sempat digelorakan bersama Arsène Wenger memicu gelombang penolakan keras dari konfederasi Eropa dan Amerika Selatan sebelum akhirnya dibekukan. Kalender internasional yang semakin padat juga menuai kritik dari klub-klub top dan serikat pemain yang mengkhawatirkan beban fisik para pemain profesional.

Kontroversi politik pun tak lepas dari langkahnya. Penetapan Qatar sebagai tuan rumah 2022, penjadwalan turnamen di tengah musim Eropa, hingga kepastian Arab Saudi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 kerap memicu perdebatan sengit soal keseimbangan antara kepentingan olahraga dan isu kemanusiaan. Meski begitu, angka-angka komersial yang terus meroket dan perluasan partisipasi global tetap menjadi amunisi utama pembelaan arah kebijakannya.

Arah ke Depan: Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Utama

Fokus terdekat FIFA kini jelas: Piala Dunia 2026 yang akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah. Edisi 2030 juga telah ditetapkan dengan format unik—Spanyol, Portugal, dan Maroko menjadi tuan rumah utama, sementara tiga laga peringatan seratus tahun digelar di Amerika Selatan pada Uruguay, Argentina, dan Paraguay.

Dengan mandat hingga 2027, Infantino masih memiliki ruang luas untuk mengecor warisannya. Apakah transformasi besar-besaran ini akan tercatat sebagai era keemasan tata kelola FIFA atau justru titik balik kontroversi berkepanjangan, satu hal pasti: tidak ada pihak yang bisa mengabaikan jejak Gianni Infantino dalam sejarah sepak bola modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User