Langka, Senat AS Minta Trump Akhiri Operasi Militer di Iran
Jakarta, Beritainti.com – Senat Amerika Serikat (AS) pada Selasa (23/6) menyetujui sebuah resolusi yang mengarahkan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri aksi militer AS terhadap Iran. Keputusan i
Jakarta, Beritainti.com – Senat Amerika Serikat (AS) pada Selasa (23/6) menyetujui sebuah resolusi yang mengarahkan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri aksi militer AS terhadap Iran. Keputusan ini menandai teguran bipartisan yang jarang terjadi terhadap Gedung Putih, tepat di saat pemerintahan Trump mengklaim tengah mendorong perdamaian dengan Teheran.
Resolusi yang lebih bernilai simbolis ini lolos dengan perolehan suara 50 berbanding 48 di Senat yang dikuasai Partai Republik. Sebelumnya, draf serupa telah mendapat persetujuan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan dukungan dari sejumlah anggota Partai Republik, menunjukkan adanya keretakan internal di dalam partai penguasa terkait kebijakan luar negeri terhadap Iran.
Resolusi Tanpa Tanda Tangan Presiden
Dokumen ini berstatus “resolusi bersama” (concurrent resolution), sehingga tidak memerlukan tanda tangan Presiden Trump untuk diberlakukan. Meski demikian, kekuatan hukumnya masih menjadi perdebatan di kalangan pakar hukum tata negara. Sejumlah ahli menilai resolusi ini lebih merupakan pesan politik dari cabang legislatif yang mengingatkan eksekutif agar tidak melampaui kewenangan konstitusionalnya dalam urusan perang dan damai.
Seorang analis politik yang diwawancarai media kami mengatakan, “Ini adalah momen langka di mana Senat yang dikuasai oleh partai presiden bersedia menantang kebijakan luar negerinya secara langsung. Resolusi ini mungkin tidak mengikat secara hukum, tetapi membawa bobot politik yang signifikan.”
Resolusi tersebut secara tegas menyerukan agar Presiden menghentikan penggunaan Angkatan Bersenjata AS dalam atau terhadap Iran, kecuali jika Kongres secara eksplisit menyatakan perang atau memberikan otorisasi khusus. Langkah ini diambil di tengah situasi keamanan yang masih memanas di Timur Tengah, dipicu oleh penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir 2018 dan serangkaian insiden di Teluk Persia.
Pemerintahan Trump sebelumnya berulang kali menyatakan tidak menginginkan konflik terbuka dengan Teheran, namun pemungutan suara ini mencerminkan skeptisisme tinggi di kalangan anggota parlemen. Dengan disahkannya resolusi ini, fokus kini tertuju pada respons Gedung Putih dan apakah langkah legislatif ini akan memengaruhi arah diplomasi AS terhadap Iran dalam beberapa bulan ke depan.
Comments (0)