Kopenhagen Dinobatkan Kota Paling Layak Huni Dunia 2026

Ibu kota Denmark, Kopenhagen, kembali menempati puncak daftar kota paling layak huni di dunia versi Indeks Livabilitas Global 2026 yang dirilis oleh Econom

Jul 11, 2026 - 15:27
0 1
Kopenhagen Dinobatkan Kota Paling Layak Huni Dunia 2026

Ibu kota Denmark, Kopenhagen, kembali menempati puncak daftar kota paling layak huni di dunia versi Indeks Livabilitas Global 2026 yang dirilis oleh Economist Intelligence Unit (EIU). Kota yang dikenal dengan deretan sepeda, kanal bersih, dan arsitektur ramah lingkungan ini unggul dalam seluruh kategori penilaian: stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Dari sepuluh besar, hanya dua kota di Asia yang berhasil menembus dominasi Eropa dan Oseania.

Indeks tahunan ini mengevaluasi 173 kota di seluruh dunia dengan skor 0–100. Kopenhagen meraih skor sempurna 98,4, mengungguli Zurich (98,1) dan Melbourne (97,8). Posisi empat dan lima ditempati Vancouver dan Wina yang sama-sama mencatatkan skor 97,5. Sisi menarik dari pemeringkatan ini adalah masuknya dua kota Asia, yakni Osaka di peringkat ke-9 dan Singapura di peringkat ke-10, yang menandai kebangkitan kawasan setelah pandemi.

Sepuluh Kota Paling Layak Huni 2026

Berikut daftar lengkap 10 besar versi EIU yang dirilis pada 25 Juni 2026. Daftar ini menunjukkan pergeseran kecil dari tahun sebelumnya, di mana Calgary dan Jenewa terdepak dan digantikan oleh Osaka serta Singapura.

PeringkatKotaNegaraSkor TotalKekuatan Utama
1KopenhagenDenmark98,4Infrastruktur hijau, stabilitas
2ZurichSwiss98,1Kesehatan, transportasi
3MelbourneAustralia97,8Budaya, pendidikan
4VancouverKanada97,5Lingkungan, udara bersih
5WinaAustria97,5Stabilitas, perumahan
6HelsinkiFinlandia97,1Pendidikan, kesetaraan
7SydneyAustralia96,8Iklim, rekreasi
8MunichJerman96,6Ekonomi, mobilitas
9OsakaJepang96,4Keamanan, kuliner
10SingapuraSingapura96,2Infrastruktur, kesehatan

Sumber: Economist Intelligence Unit, Global Liveability Index 2026

Peneliti senior EIU, Martin Rowe, menjelaskan bahwa kriteria penilaian makin menekankan aspek keberlanjutan dan ketahanan iklim. “Kopenhagen kembali menjadi yang terdepan karena keberhasilannya memadukan mobilitas rendah emisi, ruang publik inklusif, dan kebijakan perumahan yang terjangkau. Ini bukan sekadar kota nyaman, tapi kota yang siap menghadapi krisis iklim,” ujarnya dalam konferensi pers virtual. Skor tinggi Kopenhagen dalam subkategori lingkungan mencapai 100, satu-satunya kota yang mendapat nilai sempurna di sektor itu.

Mengapa Hanya Dua Kota Asia?

Minimnya representasi Asia sebenarnya telah menjadi pola sejak indeks ini pertama kali dirilis. Selain Tokyo yang sempat masuk 10 besar pada 2023–2024, hanya sedikit kota Asia yang mampu menyaingi dominasi kota-kota di Eropa Barat, Skandinavia, Kanada, dan Australia. Para analis menilai bahwa tantangan utama kota-kota besar Asia terletak pada kepadatan penduduk ekstrem, ketimpangan sosial, dan tingkat polusi yang masih tinggi. Osaka dan Singapura dianggap sebagai anomali karena tata kelola urban yang sangat terencana dan investasi masif di transportasi publik serta ruang hijau.

Singapura, misalnya, mencatatkan skor infrastruktur 99,2, tertinggi kedua setelah Zurich. Sementara Osaka mendapat poin tinggi dalam kategori keamanan dan akses kesehatan, berkat sistem asuransi nasional Jepang yang komprehensif. Namun, keduanya masih tertahan di peringkat bawah 10 besar lantaran faktor lingkungan dan budaya yang dinilai kurang variatif dibanding kota-kota Eropa.

Komparasi dengan Tahun Sebelumnya

Jika dibandingkan dengan indeks 2024, terjadi sejumlah pergeseran menarik. Melbourne yang sempat turun akibat lockdown panjang kini kembali ke posisi tiga. Helsinki naik dua peringkat berkat perluasan sistem pendidikan gratis. Sementara itu, Genewa dan Calgary keluar dari 10 besar setelah terdampak krisis perumahan dan meningkatnya angka kriminalitas kecil.

Pandemi memang telah mengubah peta livabilitas global. Kota-kota yang mampu mempertahankan stabilitas politik, menyediakan layanan kesehatan universal, dan memperkuat komunitas lokal justru makin kokoh di puncak. Kopenhagen menjadi contoh paripurna: sejak 2020, kota ini menambah 112 hektar taman kota, meluncurkan program perumahan berbasis komunitas, dan menargetkan net zero emission pada 2030—satu dekade lebih cepat dari target nasional Denmark.

Implikasi dan Pembelajaran untuk Kota Indonesia

Bagi Indonesia, pemeringkatan ini bisa menjadi referensi berharga. Jakarta masih berada di posisi 112, sama seperti tahun sebelumnya. Meski ada perbaikan di sektor transportasi melalui MRT dan LRT, skor Ibu Kota terus tertahan oleh buruknya kualitas udara, kemacetan, dan ketimpangan akses layanan dasar. Belajar dari Kopenhagen, investasi pada infrastruktur hijau, jalur sepeda yang aman, dan penataan ruang publik ternyata tak hanya menaikkan estetika, tapi juga mendongkrak indeks kebahagiaan warganya.

Kopenhagen juga membuktikan bahwa livabilitas bukan sekadar kekuatan ekonomi. Kota ini memiliki PDB per kapita lebih rendah dibanding Zurich atau Singapura, tetapi unggul dalam distribusi kesejahteraan dan keberpihakan pada pejalan kaki serta pesepeda. Saat 62 persen warga Kopenhagen bersepeda ke kantor atau sekolah setiap hari, beban polusi dan biaya transportasi turun drastis. Inilah paradoks livabilitas: kota yang tidak terlalu cepat, justru paling nyaman ditinggali.