Kim Jong Un Awasi Langsung Uji Coba Artileri Canggih, Klaim Mampu Jangkau Seoul
Pyongyang kembali melancarkan aksi unjuk kekuatan militer dengan menguji coba sistem artileri dan rudal terbaru yang telah ditingkatkan kemampuannya. Uji coba yang diawasi langsung oleh Presiden Kim
Pyongyang kembali melancarkan aksi unjuk kekuatan militer dengan menguji coba sistem artileri dan rudal terbaru yang telah ditingkatkan kemampuannya. Uji coba yang diawasi langsung oleh Presiden Kim Jong Un ini dilaporkan mampu menjangkau sebagian wilayah ibu kota Korea Selatan, Seoul, menandai eskalasi demonstrasi kekuatan terhadap pemerintahan di selatan.
Media kami melaporkan bahwa kantor berita resmi pemerintah, KCNA, mengonfirmasi Kim Jong Un secara pribadi hadir untuk mengawasi pengujian yang digelar pada Kamis (25/6) waktu setempat. Dalam inspeksi tersebut, pemimpin tertinggi Korea Utara itu menyaksikan penembakan peluncur roket berganda (multiple rocket launcher) serta pengujian hulu ledak untuk rudal balistik yang telah melalui proses modernisasi.
"Presiden Kim Jong Un menekankan perlunya pengembangan pertahanan nasional yang berkelanjutan untuk memastikan tidak ada musuh yang berani melakukan konfrontasi," demikian bunyi laporan resmi yang dikutip media kami, Jumat (26/6).
Uji coba ini terjadi di tengah kebuntuan diplomasi antara Korea Utara dan Korea Selatan. Secara teknis, kedua negara masih berada dalam status gencatan senjata, bukan perjanjian damai, sejak Perang Korea berakhir pada 1953. Ketegangan terus meningkat seiring dengan penolakan Pyongyang terhadap tawaran dialog dari Seoul.
Para analis militer menilai langkah ini merupakan sinyal yang disengaja dari rezim Kim Jong Un untuk menekan pemerintahan Korea Selatan dan sekutu utamanya, Amerika Serikat. Peningkatan spesifikasi artileri yang diklaim mampu mencapai area metropolitan Seoul—pusat populasi dan ekonomi Korea Selatan—menambah bobot ancaman tersebut, mengingat jarak ibu kota Korsel dari zona demiliterisasi sangat dekat.
Dalam pernyataan tambahannya, media pemerintah Korea Utara menyebut senjata-senjata ini sebagai "senjata utama" yang secara fundamental akan memperkuat postur pertahanan nasional. Frasa ini kerap digunakan Pyongyang untuk mendeskripsikan teknologi persenjataan bernilai strategis tinggi, termasuk kemampuan penyerangan presisi yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Uji coba ini juga dipandang sebagai respons terhadap latihan militer gabungan reguler yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan. Pyongyang secara konsisten mengecam manuver militer tersebut sebagai persiapan invasi, meskipun Washington dan Seoul menegaskan bahwa latihan itu bersifat defensif. Dengan mengerahkan sistem multiple rocket launcher yang dimodernisasi, Korea Utara tampaknya ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki opsi asimetris untuk menghadapi superioritas militer konvensional sekutu di selatan.
Rangkaian demonstrasi militer ini menandai tahun yang sibuk bagi program persenjataan Korea Utara. Komunitas internasional terus memantau perkembangan ini dengan kekhawatiran, mengingat potensi destabilisasi yang dapat terjadi jika ketegangan di Semenanjung Korea terus meningkat tanpa adanya jalur komunikasi yang terbuka antara kedua pihak.
Comments (0)