Kartu Merah Embolo Hancurkan Swiss, Argentina Melaju ke Semifinal

Skor akhir 2-1 untuk Argentina di Lusail Iconic Stadium menjadi saksi bisu pahitnya malam Swiss. Namun, angka di papan skor tidak menceritakan seluruh kisah. Pertandingan perempat final Piala Dunia 20...

Kartu Merah Embolo Hancurkan Swiss, Argentina Melaju ke Semifinal

Skor akhir 2-1 untuk Argentina di Lusail Iconic Stadium menjadi saksi bisu pahitnya malam Swiss. Namun, angka di papan skor tidak menceritakan seluruh kisah. Pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 ini berubah total pada menit ke-67, ketika wasit asal Prancis, Clement Turpin, mengeluarkan kartu merah langsung untuk Breel Embolo setelah memeriksa tayangan ulang VAR. Momen itulah yang menjadi titik balik, mengubah laga sengit menjadi drama bertahan yang akhirnya meruntuhkan tembok pertahanan Swiss.

Babak Pertama: Adu Taktik dan Peluang Emas

Sejak kick-off, pelatih Swiss, Murat Yakin, mengejutkan publik dengan formasi 3-5-2 yang agresif. Mereka tidak datang untuk bertahan. Starting XI Swiss menampilkan Granit Xhaka sebagai jenderal lapangan tengah, berduet dengan Remo Freuler, sementara Embolo dan Dan Ndoye menjadi duet penyerang yang siap menusuk. Argentina, dengan formasi 4-3-3 andalan Lionel Scaloni, mencoba menguasai bola sejak awal. Statistik penguasaan bola di 45 menit pertama menunjukkan angka 62% untuk Argentina, namun Swiss justru lebih berbahaya melalui serangan balik kilat.

Menit ke-23, peluang emas pertama datang untuk Swiss. Ndoye menerima bola di sisi kanan, memotong ke dalam melewati bek Nicolas Tagliafico, lalu melepaskan tendangan keras ke tiang dekat. Kiper Emiliano Martinez bereaksi cepat, menepis bola dengan ujung sarung tangan. Shots on target babak pertama: Swiss 3, Argentina 2. Argentina sempat mencetak gol pada menit ke-38 melalui Julian Alvarez, namun wasit menganulirnya setelah VAR mendeteksi offside pada posisi Lautaro Martinez saat memberikan assist. Skor 0-0 bertahan hingga turun minum, dengan tensi yang mulai memanas di lapangan.

Babak Kedua: Embolo Diusir, Argentina Menggila

Memasuki babak kedua, Argentina meningkatkan intensitas. Scaloni menarik Tagliafico dan memasukkan Gonzalo Montiel untuk menambah daya serang. Menit ke-52, Argentina akhirnya memecah kebuntuan. Lionel Messi, yang dijaga ketat sepanjang laga, melepaskan umpan terobosan cerdik ke sisi kiri. Nicolas Otamendi yang ikut naik menyambutnya dengan crossing mendatar. Bola jatuh tepat di kaki Alexis Mac Allister yang berdiri bebas di kotak penalti. Tendangan first-time-nya meluncur deras ke pojok kanan gawang, tak mampu dijangkau kiper Yann Sommer. Skor 1-0 untuk Argentina.

Swiss mencoba bangkit, dan pada menit ke-60, mereka hampir menyamakan kedudukan. Embolo memenangkan duel udara melawan Cristian Romero, lalu melepaskan sundulan yang membentur mistar gawang. Namun, enam menit kemudian, bencana datang. Dalam sebuah perebutan bola di tengah lapangan, Embolo mengangkat kaki terlalu tinggi dan mengenai wajah Enzo Fernandez. Wasit Turpin awalnya hanya memberi kartu kuning, namun setelah melihat monitor VAR, ia mengubah keputusannya menjadi kartu merah. Swiss harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-67. Keputusan ini memicu protes keras dari bangku cadangan Swiss, namun keputusan final tetap berlaku.

"Kartu merah itu menghancurkan rencana kami. Kami sudah menyiapkan strategi untuk menekan di 20 menit terakhir, tapi dengan 10 pemain, semua menjadi mustahil. Ini pahit, sangat pahit." ujar Murat Yakin dalam konferensi pers usai laga.

Sepuluh Pemain Swiss: Perlawanan Epik yang Berakhir Tragis

Alih-alih menyerah, Swiss justru menunjukkan mentalitas baja. Yakin menarik Ndoye dan memasukkan bek tengah Fabian Schar, mengubah formasi menjadi 5-3-1 yang lebih bertahan. Argentina mendominasi dengan penguasaan bola mencapai 78% di sisa waktu normal, namun pertahanan Swiss yang rapat dan disiplin membuat Messi dan kawan-kawan frustrasi. Sommer melakukan tiga penyelamatan krusial, termasuk menepis tendangan jarak dekat dari Lautaro Martinez pada menit ke-78.

Menariknya, Swiss justru mencetak gol penyama pada menit ke-84 melalui skema sepak pojok. Xhaka yang mengambil eksekusi, mengirim bola ke tiang jauh. Manuel Akanji memenangkan duel udara, lalu menyundul bola ke arah gawang. Martinez menepis, namun bola liar disambar oleh Silvan Widmer yang masuk dari lini kedua. Skor berubah 1-1 dan stadion bergemuruh. Namun, euforia Swiss hanya bertahan lima menit. Pada menit ke-89, Argentina memanfaatkan kelelahan fisik lawan. Messi menerima bola di sisi kanan, menarik dua pemain bertahan, lalu melepaskan umpan silang presisi ke kotak penalti. Julian Alvarez yang baru masuk di menit ke-70, melompat lebih tinggi dari bek Swiss dan menanduk bola ke pojok kiri gawang. Skor akhir 2-1 untuk Argentina.

Analisis: Kartu Merah dan Keputusan VAR yang Mengubah Laga

Dari sisi statistik, Argentina unggul telak: penguasaan bola 71% vs 29%, shots on target 8 vs 4, dan total operan sukses 612 vs 198. Namun, Swiss sebenarnya tidak kalah dalam hal peluang emas sebelum kartu merah. Mereka memiliki dua peluang besar yang gagal dikonversi. Kartu merah Embolo menjadi titik balik utama. Sebelum insiden itu, Swiss justru lebih berbahaya dalam serangan balik. Setelah kehilangan satu pemain, mereka kehilangan dimensi serangan dan hanya bisa bertahan.

Keputusan VAR untuk mengubah kartu kuning menjadi merah memang kontroversial. Banyak analis berpendapat bahwa kaki Embolo memang tinggi, namun tidak ada niat untuk melukai. Namun, dengan aturan baru FIFA yang menekankan perlindungan pemain, wasit memiliki mandat untuk bertindak tegas. Ini adalah kartu merah pertama Embolo dalam 87 penampilan internasionalnya. Argentina, di sisi lain, menunjukkan kematangan taktik. Scaloni berhasil membaca permainan dengan memasukkan Alvarez dan Montiel untuk menambah daya gedor. Messi, meski tidak mencetak gol, mencatatkan satu assist dan tiga peluang kunci.

Kekalahan ini menjadi akhir yang menyakitkan bagi Swiss, yang telah menunjukkan performa terbaik mereka sejak babak grup. Mereka mengalahkan Brasil di fase grup dan menyingkirkan Kroasia di babak 16 besar. Namun, sepak bola adalah permainan yang kejam. Satu momen bisa mengubah segalanya. Bagi Argentina, kemenangan ini mengantarkan mereka ke semifinal untuk bertemu pemenang laga Prancis vs Portugal. Messi, yang kini berusia 39 tahun, masih memiliki mimpi untuk mengulang kesuksesan Piala Dunia 2022. Dan dengan performa seperti ini, mimpi itu bukanlah hal yang mustahil.

Pertandingan ini juga mencatatkan rekor: total 7 kartu kuning dan 1 kartu merah, menjadikannya laga paling keras di turnamen sejauh ini. Swiss harus pulang dengan kepala tegak, sementara Argentina melaju dengan keyakinan baru. Satu hal yang pasti: drama di Lusail malam ini akan dikenang lama oleh para penggemar sepak bola di seluruh dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User