Johannesburg Ubah Nama Lima Jalan untuk Tokoh Anti-Apartheid
Kota Johannesburg kembali menghidupkan debat panjang soal identitas ruang publiknya. Pemerintah kota mengajukan proposal perubahan nama bagi lima jalan di
Kota Johannesburg kembali menghidupkan debat panjang soal identitas ruang publiknya. Pemerintah kota mengajukan proposal perubahan nama bagi lima jalan di kawasan pusat kota (inner-city), dengan tujuan menghormati sejumlah tokoh yang dianggap berjasa bagi perjuangan kemanusiaan dan penentangan terhadap apartheid. Nama-nama besar seperti Desmond Tutu, Simeon Nkoane, dan Trevor Huddleston disebut-sebut masuk dalam daftar calon penghuni papan nama jalan baru.
Langkah ini bukan sekadar pergantian papan penunjuk jalan. Bagi banyak pihak, penamaan ulang jalan adalah cara sebuah kota menulis ulang ingatan kolektifnya — menentukan siapa yang layak diingat di persimpangan sehari-hari warga. Namun di sisi lain, proposal yang sama juga memunculkan pertanyaan praktis yang tidak kalah penting: berapa biayanya, dan siapa yang menanggung?
Daftar Nama yang Diusulkan
Proposal yang beredar memuat sejumlah kandidat perubahan nama di kawasan pusat kota. Meski keputusan resmi belum diumumkan, berikut ringkasan usulan yang diketahui publik:
| Tokoh | Kawasan | Alasan Pengusulan |
|---|---|---|
| Desmond Tutu | Pusat kota | Nobel Perdamaian, peran moral melawan apartheid |
| Trevor Huddleston | Pusat kota | Imam dan aktivis anti-apartheid |
| Simeon Nkoane | Pusat kota | Tokoh perjuangan lokal |
| Lainnya (2 nama) | Pusat kota | Belum diungkapkan sepenuhnya |
Yang menarik, pihak kota belum mengungkapkan berapa total biaya perubahan nama tersebut. Ketidakjelasan angka ini otomatis membuka ruang bagi kritik, mengingat setiap pergantian nama jalan memicu serangkaian biaya administratif: pencetakan ulang papan jalan, pembaruan peta digital, perubahan alamat pada dokumen resmi, hingga penyesuaian sistem perbankan dan kurir.
Sandton Drive: Debat yang Belum Selesai
Sementara lima usulan di pusat kota melaju, isu yang lebih sensitif justru masih menggantung: nasib Sandton Drive. Jalan utama yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan kaya Sandton itu sejak lama menjadi sasaran pengusulan penamaan ulang, terkait sejarah apartheid yang melekat pada nama aslinya. Namun hingga kini belum ada keputusan final.
Perubahan nama jalan harus dijalankan sebagai proses partisipatif, bukan keputusan administratif semata; kota perlu menjamin bahwa warga, pelaku usaha, dan komunitas sejarah terlibat dalam penentuan nama.
Analisis menunjukkan ketegangan inti di sini bersifat ganda. Di satu sisi, ada tekanan normatif untuk menghapus warisan simbolis apartheid dari ruang publik. Di sisi lain, ada kekhawatiran ekonomi: pelaku bisnis di Sandton khawatir perubahan nama mengganggu branding kawasan, membingungkan layanan antar-jemput, dan menurunkan nilai komersial alamat.
Biaya yang Tak Terlihat
Pengamat tata kota menilai bahwa ketidaktransparanan anggaran adalah kelemahan terbesar proposal ini. Sebuah kota yang ingin meyakinkan publik tentang urgensi perubahan nama seharusnya mampu menunjukkan perincian biaya, mulai dari papan jalan fisik hingga pembaruan basis data alamat.
Secara politis, sikap Kota Johannesburg juga rentan dituduh setengah hati: berani mengusulkan perubahan nama di pusat kota yang relatif mudah, tetapi ragu menyentuh Sandton Drive yang berdampak lebih luas. Padahal, di situlah uji konsistensi sebuah kota terhadap retorika rekonsiliasinya.
Publik kini menunggu dua hal: pengumuman resmi daftar nama final, dan angka biaya yang selama ini disembunyikan. Tanpa keduanya, proposal ini berisiko dipersepsikan sebagai gerakan simbolis tanpa substansi anggaran.
Comments (0)