Jemaat Diajak Menang atas Ketakutan Lewat Iman

Khotbah bertajuk "Iman Mengalahkan Maut" menjadi sorotan dalam ibadah mingguan yang dipimpin Pdt. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th. Tema tersebut diangkat

Sep 29, 2026 - 15:28
0 1
Jemaat Diajak Menang atas Ketakutan Lewat Iman

Khotbah bertajuk "Iman Mengalahkan Maut" menjadi sorotan dalam ibadah mingguan yang dipimpin Pdt. Horas Sianturi, S.H., M.H., M.Th. Tema tersebut diangkat sebagai respons atas gelombang kecemasan yang melanda sebagian umat di tengah tekanan kesehatan, ekonomi, dan kehilangan orang terdekat. Pesan utamanya tegas: ketika manusia menghitung semua jalan buntu, iman justru membuka jalan yang tidak terlihat oleh akal.

Awal Mula Tema Diangkat

Dalam pengantar khotbah, pendeta Horas Sianturi menjelaskan bahwa tema ini lahir dari pendampingan jemaat yang mengalami masa-masa sulit. Sejumlah keluarga kehilangan pencari nafkah, sementara lainnya bergumul dengan penyakit kronis. Menurutnya, situasi tersebut kerap memunculkan pertanyaan yang sama: mengapa orang beriman tetap menderita?

"Iman bukan jaminan hidup tanpa masalah. Iman adalah kepastian bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika kita tidak melihat jalan keluarnya," ujar Pdt. Horas Sianturi.

Ia menegaskan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal sehat, melainkan melengkapinya. Iman menjadi pijakan saat data medis, rencana keuangan, dan strategi manusia sudah mentok. Dalam perspektif ini, "mengalahkan maut" bukan sekadar soal kematian fisik, tetapi juga kematian harapan, semangat, dan keberanian untuk melangkah.

Tiga Penekanan dalam Khotbah

  1. Iman bekerja saat informasi tidak lengkap. Jemaat diajak untuk tidak menunggu keadaan sempurna sebelum percaya. Keputusan untuk tetap berharap sering kali harus diambil di tengah ketidakpastian.
  2. Persekutuan memperkuat individu. Beban yang ditanggung sendiri terasa lebih berat dibanding dibagi dalam komunitas jemaat. Pdt. Horas menekankan pentingnya saling meneguhkan, bukan saling menghakimi.
  3. Tindakan nyata merupakan wujud iman. Iman tanpa perbuatan disebut mati. Jemaat didorong untuk terus melayani, bekerja, dan merawat keluarga meski keadaan belum berubah.

Respons Jemaat

Seusai ibadah, sejumlah jemaat mengaku merasa diteguhkan. Salah satu warga yang mendampingi keluarganya menjalani perawatan panjang mengatakan, pesan khotbah mengingatkannya bahwa proses pemulihan tidak selalu berjalan linear. Perkembangan kecil tetap dihitung sebagai kemajuan.

Para pelayan juga mencatat peningkatan partisipasi dalam kegiatan pendampingan jemaat. Kelas dukungan keluarga dan kunjungan pastoral direncanakan diperkuat dalam beberapa pekan ke depan sebagai tindak lanjut langsung dari tema khotbah ini.

Relevansi bagi Masyarakat Luas

Meski disampaikan dalam konteks kehidupan beriman, pesan khotbah ini relevan bagi publik yang sedang menghadapi tekanan mental. Para profesional kesehatan mental menilai, komunitas dan makna hidup berperan penting dalam ketahanan psikologis. Dukungan sosial yang konsisten terbukti menurunkan risiko isolasi dan keputusasaan.

Pdt. Horas Sianturi menutup khotbah dengan ajakan sederhana namun menantang: tetap melangkah meski ragu, tetap melayani meski lelah, dan tetap percaya meski jalan belum terlihat. Bagi jemaat, pesan itu menjadi pengingat bahwa harapan tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada keyakinan bahwa selalu ada jalan di luar perhitungan manusia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User