Javier Milei Tiba di Lima untuk Pelantikan Presiden Keiko Fujimori

Hari Kemerdekaan Peru kali ini terasa berbeda. Bersamaan dengan peringatan kemerdekaan yang jatuh setiap 28 Juli, ibu kota Lima menjadi saksi pergantian kekuasaan sekaligus titik temu para pemimpin Am...

Aug 25, 2026 - 07:42
0 0
Javier Milei Tiba di Lima untuk Pelantikan Presiden Keiko Fujimori

Hari Kemerdekaan Peru kali ini terasa berbeda. Bersamaan dengan peringatan kemerdekaan yang jatuh setiap 28 Juli, ibu kota Lima menjadi saksi pergantian kekuasaan sekaligus titik temu para pemimpin Amerika Latin. Pesawat kepresidenan Argentina mendarat membawa Javier Milei, yang datang untuk menghadiri pelantikan Keiko Fujimori sebagai presiden terpilih Peru pada Selasa, 28 Juli 2026. Kehadiran tokoh libertarian paling vokal di kawasan itu langsung menjadi sorotan, bukan hanya karena statusnya sebagai kepala negara, tetapi juga karena bobot politisnya yang jauh lebih besar.

Sinyal Kuat dari Buenos Aires

Sejak dilantik pada Desember 2023, Milei memang tidak pernah menyembunyikan ambisinya membangun poros ideologis baru di kawasan. Agenda pengetatan fiskal ala gergaji mesin, kritik pedas terhadap populisme kiri, serta kedekatannya dengan figur seperti Nayib Bukele di El Salvador menjadikannya magnet bagi gerakan kanan baru. Karena itu, keberadaannya di area kehormatan pelantikan Fujimori mudah dibaca: ini adalah pengakuan atas kemenangan satu kubu, sekaligus investasi politik bagi masa depan relasi bilateral.

Bagi Milei, momentum ini juga penting secara domestik. Reformasi ekonominya yang menyakitkan di awal mulai membuahkan hasil—inflasi yang pernah menembus tiga digit kini melandai drastis—meski popularitasnya naik-turun mengikuti rasa sakit sekaligus lega warga Argentina. Tampil di panggung internasional bersama sesama pemimpin pro-pasar adalah cara efektif memperkuat narasi bahwa jalur yang ia tempuh bukan jalan buntu, melainkan arus yang sedang tumbuh di benua ini.

Tiga Kali Gagal, Akhirnya Sampai ke Puncak Kekuasaan

Bagi Keiko Fujimori, hari pelantikan ini adalah puncak perjalanan panjang yang penuh lika-liku. Pemimpin partai Fuerza Popular ini telah tiga kali melangkah ke babak balot—2011, 2016, dan 2021—dan selalu harus mengakui keunggulan lawan di ujung kompetisi. Kali ini, tiketnya akhirnya terpenuhi, dan ia resmi meneruskan warisan politik keluarga yang dibangun ayahnya, mendiang mantan presiden Alberto Fujimori.

Nama Fujimori sendiri selalu membelah publik Peru. Di satu sisi, ada segmen masyarakat yang mengenang stabilitas ekonomi era 1990-an; di sisi lain, rekam jejak otoriter dan berbagai skandal korupsi menjadi beban yang tak mudah dilupakan. Keiko pun bertahun-tahun menjadi target sorotan proses hukum, sehingga kemenangannya dibaca banyak analis sebagai bukti daya tahan mesin politik Fuerza Popular di daerah-daerah, terutama di luar ibu kota.

Tantangan yang menanti tidaklah ringan. Politik Peru lima tahun terakhir dikenal rapuh—kursi presiden sempat berganti-ganti dalam tempo cepat, kongres dan istana kepresidenan saling berhadapan, dan kepercayaan publik terhadap partai politik jatuh ke titik rendah. Fujimori membutuhkan dukungan stabil di Kongres dan kemampuan merangkul oposisi agar agenda pemerintahannya tidak mati di tengah jalan seperti beberapa pendahulunya.

Poros Kanan Kawasan Makin Terlihat Nyata

Dalam rangkaian kenegaraan nanti, Milei berpotensi berdiri bersama sejumlah kepala negara dan utusan tinggi dari berbagai benua. Namun yang paling dinantikan pengamat politik adalah interaksi para pemimpin sayap kanan: Milei dari Argentina, Bukele dari El Salvador, serta lingkup pengaruh Washington yang kini lebih hangat terhadap pemerintahan konservatif. Setiap jabat tangan dan sesi foto akan dibaca ulang sebagai peta kekuatan baru Amerika Latin.

Argentina dan Peru sesungguhnya memiliki benang merah historis yang cukup kuat, mulai dari gelombang migrasi hingga kerja sama ekonomi lintas dekade. Dengan dua eksekutif yang sama-sama berhaluan pasar bebas, ruang kolaborasi bisa terbuka lebar: energi, pertambangan termasuk litium dan tembaga, infrastruktur, hingga konektivitas dagang. Kalangan pengusaha kedua negara kini menunggu sinyal konkret, apakah retorika persahabatan ini akan ditindaklanjuti dengan kesepakatan nyata.

Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelah Seremoni

Semua mata akan tertuju pada pidato pelantikan Fujimori. Apakah ia menawarkan kontinuitas ortodoksi ekonomi, membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor asing, atau memilih langkah hati-hati demi kohesi sosial? Jawabannya akan menentukan respons pasar dalam hitungan jam setelah upacara usai. Bagi Milei, pengamatannya di Lima bisa menjadi bahan pembanding berharga: bagaimana resep serupa diterjemahkan dalam konteks negara dengan struktur politik yang berbeda.

Yang pasti, 28 Juli 2026 akan dicatat sebagai hari ketika dua narasi politik yang selama ini bergerak paralel akhirnya bertemu di satu panggung. Sebuah pelantikan, sebuah kemenangan ideologis, dan sebuah pembukaan babak baru bagi hubungan Buenos Aires–Lima. Sisanya, seperti lazimnya dalam politik, akan ditentukan oleh eksekusi—bukan seremoni.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User