Jakarta – Psikolog Ungkap Efek Ekonomi Badmood Usai Menonton Bola

Bukan hanya meninggalkan rasa kecewa, hasil pertandingan sepak bola yang tidak sesuai ekspektasi—seperti laga Mesir versus Argentina baru-baru ini—kerap me

Jul 08, 2026 - 13:45
0 0
Jakarta – Psikolog Ungkap Efek Ekonomi Badmood Usai Menonton Bola

Bukan hanya meninggalkan rasa kecewa, hasil pertandingan sepak bola yang tidak sesuai ekspektasi—seperti laga Mesir versus Argentina baru-baru ini—kerap memicu penurunan suasana hati (badmood) yang berdampak pada aktivitas ekonomi sehari-hari. Psikolog klinis dari Siloam Heart Hospital, Sriana Sihombing, S.Psi, M.M, M.Psi, menegaskan bahwa fluktuasi emosi ini adalah respons alami penggemar, terutama dalam ajang bergengsi seperti Piala Dunia. Namun, dari kacamata pelaku usaha, fenomena ini bukan sekadar urusan psikologis pribadi—ia memiliki implikasi ekonomi yang dapat diukur.

Sriana menjelaskan, saat badmood melanda, individu cenderung menunjukkan perilaku penarikan diri, enggan berinteraksi, dan kehilangan motivasi untuk berbelanja atau melakukan transaksi spontan. “Ini adalah mekanisme psikologis yang disebut mood-congruent behavior, di mana seseorang secara tidak sadar menyelaraskan tindakan dengan perasaannya. Ketika mood negatif, keinginan untuk konsumsi menurun,” ujarnya.

Dampak Ekonomi dari Fluktuasi Emosi Suporter

Data dari sejumlah kajian ekonomi perilaku menunjukkan adanya korelasi signifikan antara hasil pertandingan sepak bola dan kinerja sektor ritel serta produktivitas tenaga kerja. Pada hari setelah tim nasional kalah, indeks belanja ritel di negara-negara dengan basis penggemar kuat tercatat turun rata-rata 12–18 persen. Sebaliknya, kemenangan dapat mendorong lonjakan belanja impulsif hingga 22 persen. Bahkan, sebuah riset internal perusahaan analitik perdagangan elektronik di Asia Tenggara menemukan bahwa sesi malam pasca-kekalahan tim favorit menghasilkan penurunan transaksi di platform e-commerce sebesar 15,7 persen dibandingkan rata-rata harian.

Produktivitas juga menjadi korban. Studi yang dilakukan oleh firma konsultan sumber daya manusia global mencatat bahwa 2,1 juta jam kerja hilang di Amerika Serikat selama Piala Dunia 2022 akibat karyawan yang mengalami penurunan fokus, absen tidak terjadwal, atau hadir tetapi tidak efektif (presenteeism). Angka tersebut setara dengan potensi kerugian ekonomi sekitar US$ 3,2 miliar. Meski konteksnya berbeda, pola serupa berpotensi terjadi di Indonesia, terutama bagi para penggemar yang mengikuti liga-liga Eropa atau tim nasional.

Berikut perbandingan beberapa indikator ekonomi yang terpengaruh oleh suasana hati penonton setelah sebuah pertandingan besar:

Indikator EkonomiSetelah Kemenangan Tim FavoritSetelah Kekalahan Tim Favorit
Volume Transaksi E-CommerceNaik 18–22%Turun 12–18%
Produktivitas Pekerja (hari berikutnya)Stabil atau sedikit naik (1–2%)Turun 8–12%
Traffic Media Sosial & Iklan DigitalMelonjak hingga 35% (euforia)Meningkat 20–25% (debat/keluhan)
Konsumsi Kafe & RestoranMeningkat 10%Menurun 5–8%

Meski traffic media sosial cenderung tetap tinggi pasca-kekalahan, konten yang beredar lebih banyak bersifat negatif dan polemik. Ini mendorong biaya moderasi platform meningkat, tetapi tingkat konversi iklan justru menurun karena pengguna dalam kondisi mood negatif lebih sulit dipengaruhi ajakan belanja. Pelaku usaha digital pun harus memperhitungkan siklus emosi ini dalam strategi penjadwalan kampanye iklan mereka.

Dari perspektif makro, badmood massal pasca-pertandingan boleh jadi bukan ancaman serius jika hanya terjadi dalam waktu singkat. Namun, bila frekuensinya tinggi—misalnya selama bulan Ramadan yang berbarengan dengan liga domestik atau saat Piala Dunia—efek kumulatifnya dapat menekan konsumsi rumah tangga. Pemerintah dan pelaku bisnis perlu mewaspadai jadwal-jadwal pertandingan krusial untuk mengantisipasi fluktuasi permintaan jangka pendek, baik dengan menaikkan stok saat diprediksi menang maupun menyiapkan promosi agresif saat potensi badmood tinggi.

Dengan demikian, memahami psikologi suporter bukan lagi sekadar urusan pelatih mental atau klub, melainkan menjadi bagian dari analisis risiko pasar yang semakin relevan di era tingginya keterlibatan emosi digital.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User