Jakarta — Prabowo Perkuat Kemitraan Strategis dengan Belarus
Di bawah terik matahari siang, dentuman salut kehormatan mengiringi langkah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Belarus Alexandr Lukashenko menyusuri ka
Di bawah terik matahari siang, dentuman salut kehormatan mengiringi langkah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Belarus Alexandr Lukashenko menyusuri karpet merah di halaman Istana Merdeka. Inspeksi pasukan pada Kamis (02/07) itu bukan sekadar seremoni kenegaraan biasa. Di balik gemerlap barisan militer, tersimpan agenda ekonomi yang ambisius: membuka jalur perdagangan baru yang selama ini nyaris mati suri antara Jakarta dan Minsk.
Pertemuan bilateral ini menjadi sorotan tajam kalangan pelaku usaha sektor riil. Pasalnya, Belarus—negara Eropa Timur yang dikenal sebagai lumbung potas dan penghasil alat berat—selama ini nyaris absen dalam peta mitra strategis Indonesia. Data Kementerian Perdagangan mencatat, total perdagangan Indonesia-Belarus pada 2025 hanya menyentuh angka USD 87,3 juta, tertatih di kisaran 0,01% dari total perdagangan luar negeri Indonesia. Ibarat samudra, angka itu hanyalah setetes embun.
Jalan Sunyi Perdagangan Bilateral
Realitas pahitnya, neraca perdagangan lebih condong menguntungkan Belarus. Negeri yang dipimpin Lukashenko ini mencatat surplus signifikan berkat ekspor pupuk kalium (potash)—bahan baku vital bagi industri perkebunan Indonesia. Sementara di sisi lain, produk unggulan Tanah Air seperti minyak sawit, tekstil, dan elektronik masih harus berjuang menembus benteng distribusi di kawasan Eropa Timur. Defisit perdagangan Indonesia mencapai hampir USD 60 juta dalam lima tahun terakhir, sebuah paradoks mengingat besarnya pasar domestik kita.
”Potas adalah komoditas strategis, tapi ketergantungan pada satu pemasok tanpa resiprokal ekspor produk kita sendiri menciptakan struktur yang rapuh,” ujar Dr. Rizal Firmansyah, ekonom dari Institute for Economic and Trade Studies, saat dihubungi terpisah.
“Perkuatan kemitraan ini ibarat membangun kembali fondasi yang selama ini retak. Bukan sekadar membeli pupuk, tapi bagaimana agar crude palm oil dan tekstil kita juga bisa menembus pasar di sana.”
Diversifikasi Rantai Pasok di Tengah Disrupsi Global
Momen ini kian krusial jika ditilik dari kerangka diversifikasi rantai pasok global. Perang dagang yang kembali memanas antara Washington dan Beijing, serta sanksi ekonomi yang masih membelit Rusia, memaksa banyak negara mencari alternatif sumber pasokan pangan dan energi. Belarus—sebagai produsen potas terbesar ketiga dunia dengan volume produksi 8 juta metrik ton per tahun—berpotensi menjadi penopang penting bagi sektor agrikultur nasional yang tengah menggenjot target swasembada pangan 2028.
Di sisi lain, Minsk membutuhkan akses pasar baru setelah ekspornya ke Uni Eropa terhambat dinamika politik kawasan. Diversifikasi ekspor Belarus ke Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai pintu masuk dan hub regional, merupakan langkah bisnis yang masuk akal secara makroekonomi. ”Mereka butuh pasar, kita butuh suplai input pertanian yang stabil. Ini potensi win-win yang selama ini terlupakan,” tambah Rizal.
Dari Traktor hingga Transformasi Teknologi Pertahanan
Namun, narasi kerja sama tidak melulu soal pupuk. Sejumlah pelaku industri alat berat menangkap sinyal bahwa pemerintah mulai melirik teknologi traktor dan mesin pertanian Belarus yang terkenal tangguh di lahan gambut. Kementerian Perindustrian disebut-sebut membuka opsi lisensi manufaktur lokal untuk alat berat, sejalan dengan program hilirisasi dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Tak hanya itu, sektor pertahanan pun jadi isyarat tersirat. Belarus, yang mewarisi sebagian besar pabrik kendaraan militer era Soviet, termasuk truk berat MZKT, berpotensi menjadi mitra alih teknologi di bawah payung strategic partnership. Meski belum ada angka konkret yang disebut, potensi kontrak jangka panjang di sektor ini bisa mencapai ratusan juta dolar jika kedua kepala negara serius merealisasikan peta jalan yang telah ditandatangani bersama.
Langkah Prabowo menyambut Belarus, meski di mata publik hanya tampak sebagai upacara protokoler, sejatinya merupakan manuver ekonomi kalkulatif. Di saat arus investasi global mengalir deras ke Asia Tenggara, mengunci kemitraan dengan pemain alternatif di Eropa Timur ibarat menaruh bidak catur di papan yang tepat—antisipasi terhadap volatilitas sekaligus membuka gerbang menuju keseimbangan neraca perdagangan yang lebih sehat.
Comments (0)