Jakarta — Liga Aspal U13 Menteng Jaya Hidupkan Ekonomi Libur Sekolah
Di bawah terik matahari Jakarta, tepat di atas hamparan aspal yang membelah permukiman padat pinggir rel RT 09/RW 08, Menteng Jaya, riuh rendah sorak-sorai
Di bawah terik matahari Jakarta, tepat di atas hamparan aspal yang membelah permukiman padat pinggir rel RT 09/RW 08, Menteng Jaya, riuh rendah sorak-sorai bocah pecah. Bukan sekadar mengisi kekosongan libur sekolah, turnamen Liga Aspal U-13 yang digelar sejak Senin (29/6/2026) itu justru menjelma menjadi denyut nadi ekonomi baru bagi warga sekitar. Dari tukang es serut hingga penjual kaos oblong tim, semua mendapat berkah dari geliat si kulit bundar.
Turnamen Akar Rumput dan Geliat Ekonomi Lokal
Bila biasanya lapangan aspal di bantaran rel itu hanya menjadi tempat anak-anak bermain petak umpet, kali ini ia berubah menjadi ruang ekonomi informal yang sibuk. Pantauan di lokasi, sedikitnya 18 pedagang kaki lima menggelar lapak, menjual aneka makanan ringan, minuman dingin, hingga aksesori suporter mini. Salah seorang penjual cilok, Pak Haryono (52), mengaku omzetnya naik tiga kali lipat selama turnamen berlangsung.“Hari biasa paling laku Rp80 ribu, ini bisa bawa pulang Rp250 ribu sampai Rp350 ribu sehari. Anak-anak yang main haus, yang nonton juga pada lapar. Ya saya bersyukur,”ungkapnya di sela-sela melayani pembeli. Dari sisi ekonomi, fenomena ini adalah contoh sederhana namun jelas tentang multiplier effect yang dimulai dari sebuah inisiatif olahraga akar rumput. Uang yang dibelanjakan penonton dan peserta tidak mengalir keluar, melainkan beredar di dalam komunitas yang sama, memperkuat daya tahan ekonomi warga penghasilan rendah.
Dari Bakat Lokal Menuju Industri Olahraga
Liga Aspal U-13 bukan cuma panggung adu skill anak-anak usia 11–13 tahun, tapi juga etalase potensi yang menarik perhatian penggiat sepak bola lokal. Beberapa klub amatir dan scout independen tampak hadir, diam-diam mengamati calon-calon bintang. Hal ini membuka kesadaran warga bahwa lapangan aspal di depan rumah bisa menjadi entry point menuju ekosistem industri olahraga yang lebih besar — lengkap dengan peluang beasiswa, kontrak sponsor kecil, hingga pembinaan profesional.“Kami ingin mengubah persepsi bahwa anak-anak di permukiman padat hanya bisa bermain tanpa masa depan. Justru dari sini, ekonomi kreatif dan olahraga bisa tumbuh bersama. Ada potensi sport tourism mikro, penjualan merchandise tim, bahkan coaching clinic berbayar,”ujar Deni Irawan, ketua panitia turnamen, yang juga menginisiasi penggalangan dana swadaya warga.
Comments (0)