JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih di Atas Rp18.000
JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia mengakhiri perdagangan dengan catatan beragam pada Selasa (1/4/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses membalik
Pembukaan: Pasar Dibuka Mendatar di Tengah Sentimen Global Campur Aduk
Lantai bursa pagi ini dibuka tanpa kejutan berarti. IHSG memulai perdagangan di level 5.975,23, hanya naik 3,1 poin dari penutupan sebelumnya. Investor tampak masih mencerna rilis data manufaktur Indonesia yang berada di zona kontraksi, sementara dari eksternal, bursa Asia bergerak variatif menanti data tenaga kerja AS yang akan dirilis akhir pekan ini.
- Pukul 09.00 WIB: IHSG dibuka di 5.975,23, menguat tipis 0,05%.
- Data manufaktur domestik: Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Maret tercatat 49,7, masih di bawah level ekspansif 50.
- Sentimen eksternal: Indeks Nikkei 225 naik 0,3%, Hang Seng melemah 0,1%, Straits Times turun 0,2% pada pembukaan.
Kepala Riset sebuah sekuritas swasta, Andi Setiawan, menyebut pelaku pasar sedang dalam posisi wait and see. “Data PMI yang masih kontraksi menahan minat beli agresif. Namun ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada Juni memberi bantalan,” ujarnya di Jakarta. Sementara itu, rupiah langsung dibuka di Rp18.050 per dolar AS, melemah dari penutupan kemarin di Rp18.020, mengindikasikan permintaan valas yang tinggi di pasar spot domestik.
Sesi I: IHSG Bergerak Fluktuatif, Rupiah Sempat Sentuh Rp18.080
Memasuki setengah jam perdagangan pertama, tekanan jual mulai mendominasi. IHSG sempat terpuruk ke level terendah harian 5.950,41 pada pukul 10.15 WIB, atau turun hampir 25 poin. Sektor energi dan keuangan menjadi pemberat utama. Saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin pelemahan dengan koreksi masing-masing 1,2% dan 0,8%.
- 09.45 WIB: IHSG menyentuh level terendah di 5.950,41.
- Volume transaksi sesi I mencapai 8,3 miliar saham dengan nilai Rp7,1 triliun.
- Pukul 11.00 WIB: Rupiah menembus Rp18.080, level terlemah intraday, dipicu aksi impor korporasi besar.
- Bank Indonesia (BI) dikabarkan melakukan intervensi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menahan pelemahan lebih dalam.
Analis pasar uang dari Bank Mandiri, Renny Eka, menjelaskan bahwa rupiah menghadapi tekanan ganda. “Selain kebutuhan valas akhir kuartal, spekulasi tarif baru AS yang akan diumumkan pekan ini memicu risk-off di aset negara berkembang,” katanya. Meski begitu, intervensi BI dinilai efektif menjaga fluktuasi tidak menjadi volatilitas liar. Pada tengah hari, IHSG mulai memangkas kerugian menjadi hanya minus 10 poin di level 5.965.
Sesi II: Aksi Beli Akhir Sesi Angkat IHSG ke Zona Hijau
Memasuki sesi kedua pukul 14.00 WIB, pola window dressing akhir kuartal mulai terlihat. Investor institusi dan dana pensiun dikonfirmasi melakukan aksi beli selektif pada saham berkapitalisasi besar. Sektor teknologi dan telekomunikasi memimpin penguatan, dengan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 2,3% dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melesat 3,1%.
- 13.30 WIB: IHSG balik arah ke zona hijau, menyentuh 5.985,50.
- 14.45 WIB: Indeks menembus level 5.992,11 atau tertinggi sesi, didorong aksi borong saham TLKM, GOTO, dan BBCA.
- Nilai transaksi hingga satu jam terakhir loncat menjadi Rp12,5 triliun.
- Rupiah perlahan memulihkan sebagian kerugian ke Rp18.045 setelah BI menegaskan akan terus berada di pasar.
Direktur Perdagangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, dalam pidato singkatnya mengatakan bahwa partisipasi investor ritel justru meningkat hari ini. “Kami mencatat investor ritel menyumbang 40% dari total volume transaksi, tertinggi dalam sepekan,” ungkapnya. Fenomena ini disebut sebagai reaksi terhadap harga saham yang sudah terkoreksi cukup dalam pada pekan sebelumnya.
Penutupan: IHSG Naik 15,8 Poin, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Tepat pukul 16.00 WIB, IHSG ditutup di posisi 5.988,93, menguat 15,8 poin atau 0,26% dari penutupan sebelumnya. Meski gagal menembus 6.000, penutupan di jalur hijau ini mengakhiri tiga hari pelemahan beruntun. Sebanyak 247 saham menguat, 228 melemah, dan 185 stagnan. Total volume transaksi harian mencapai 19,6 miliar saham dengan nilai Rp16,2 triliun.
- IHSG ditutup di 5.988,93 (+0,26%).
- Rupiah ditutup di Rp18.040 per dolar AS, masih melemah 0,11%.
- Sektor teknologi memimpin penguatan (+1,8%), sementara energi terseret pelemahan (-0,7%).
- Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp320 miliar di seluruh pasar.
- Mata uang Asia lainnya: Yuan Tiongkok melemah 0,03%, Rupee India turun 0,1%, Peso Filipina stagnan.
Menurut pemantau Tim Analis Pasar Keuangan Beritainti.com, pergerakan hari ini mencerminkan pasar yang sedang melakukan konsolidasi. Level support kuat di 5.950 terbukti bertahan, sementara resistance di 6.000 masih menjadi tembok psikologis yang sulit ditembus tanpa katalis baru. “Pasar butuh sentimen positif yang lebih meyakinkan, entah dari data ekonomi domestik yang lebih baik atau perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok,” tulis laporan mereka.
Rupiah yang masih bercokol di atas Rp18.000 juga menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap arus modal keluar masih ada. Meski demikian, cadangan devisa Indonesia yang berada di level $138 miliar pada akhir Februari memberi keyakinan bahwa BI memiliki cukup amunisi untuk menstabilkan nilai tukar. Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada dua agenda penting: pengumuman kebijakan tarif AS yang dijuluki “Liberation Day Tariff” pada 2 April, dan laporan ketenagakerjaan AS yang akan mempengaruhi sikap Federal Reserve.
“Jika perang dagang kembali memanas, kita bisa melihat rupiah menguji level Rp18.200 dalam jangka pendek. IHSG juga bisa kembali turun ke kisaran 5.900–5.930. Tetapi jika ada kejutan positif, bukan tidak mungkin IHSG mampu rebound kuat menuju 6.100,” prediksi Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.
Dengan penutupan ini, kinerja IHSG sepanjang tahun 2025 masih mencatatkan koreksi 2,1%, sementara rupiah telah terdepresiasi 3,4% terhadap dolar AS. Para investor dan pelaku pasar disarankan tetap waspada dan memonitor setiap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
Comments (0)