SBY Art Community Gelar Diskusi Seni Plein Air di Taman Ismail Marzuki
Jakarta, 19 Agustus 2026. Suasana hangat memenuhi salah satu ruang pamer di Taman Ismail Marzuki ketika para seniman, kurator, dan pecinta seni duduk bersa
Jakarta, 19 Agustus 2026. Suasana hangat memenuhi salah satu ruang pamer di Taman Ismail Marzuki ketika para seniman, kurator, dan pecinta seni duduk bersama dalam sebuah perbincangan yang tak biasa. SBY Art Community (SAC) menggelar Artist Talk pertamanya bertajuk "Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration", sebuah diskusi yang berusaha membuktikan bahwa kuas dan kanvas bisa menjadi jembatan antarbudaya yang jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata.
Acara ini menjadi rangkaian dari pameran lukisan kedua SAC bertema "Art for Peace and a Better Future: Collaboration", sebuah pameran yang menegaskan komitmen komunitas seni lukis tersebut dalam menyuarakan perdamaian lewat goresan warna. Kehadiran para seniman dari berbagai latar belakang membuat ruang diskusi terasa hidup, seolah setiap sudut ruangan menyimpan cerita tentang bagaimana seni mampu meruntuhkan sekat-sekat perbedaan.
Plein Air: Melukis di Alam Terbuka sebagai Bahasa Universal
Plein air, istilah yang berasal dari bahasa Prancis yang berarti "udara terbuka", adalah tradisi melukis langsung di lokasi sesungguhnya, bukan di dalam studio. Para seniman dituntut menangkap cahaya, suasana, dan kehidupan secara spontan dalam waktu yang terbatas. Metode ini menuntut kepekaan sekaligus keberanian, karena cuaca dan kondisi alam tidak bisa dikendalikan seperti di ruang tertutup. Dalam konteks kolaborasi lintas budaya, cara ini dianggap unik: dua seniman dari negara berbeda bisa duduk berdampingan melukis pemandangan yang sama, namun menghasilkan dua karya yang sama sekali berbeda sesuai perspektif masing-masing.
Perbedaan itulah yang justru menjadi kekayaan. Ketika seorang pelukis dari Jepang menangkap suasana pasar tradisional dengan palet warna yang tenang, pelukis dari Indonesia mungkin memilih goresan yang lebih berani dan ekspresif. Perpaduan dua cara pandang itu, menurut para peserta diskusi, adalah cermin nyata dari semangat kolaborasi yang ingin dibangun SAC.
Kolaborasi Lintas Negara dan Budaya
"Melukis di alam terbuka adalah bahasa universal. Kita tidak perlu menerjemahkan perasaan ketika berdiri di depan pemandangan yang sama. Justru dari perbedaan cara kita menangkap itulah dialog antarbudaya lahir," ujar seorang kurator yang hadir dalam Artist Talk tersebut.
Pernyataan itu mengundang tepuk tangan panjang dari para hadirin. Diskusi berjalan cair dengan berbagai pertanyaan seputar tantangan teknis melukis di lapangan, mulai dari membawa perlengkapan yang ringkas, mengatur waktu agar cahaya tidak berubah drastis, hingga menjaga kanvas tetap bersih dari debu dan angin. Namun di balik tantangan teknis itu, terselip pesan yang lebih dalam: kesediaan untuk membuka diri terhadap cara pandang orang lain adalah awal dari perdamaian yang sesungguhnya.
Art for Peace and a Better Future: Collaboration
Pameran "Art for Peace and a Better Future: Collaboration" menampilkan berbagai karya yang merekam proses kolaborasi para seniman, baik dalam sesi plein air bersama maupun dalam penciptaan karya secara individual yang saling memberi inspirasi. Beberapa hal yang dapat dinikmati pengunjung dalam pameran ini antara lain:
- Karya lukis plein air hasil kolaborasi seniman dari berbagai negara dan budaya.
- Rekaman proses kreatif, termasuk sketsa dan foto di balik layar pembuatan karya.
- Sesi Artist Talk dengan kurator dan seniman tamu secara berkala.
- Area diskusi terbuka bagi pengunjung yang ingin bertukar gagasan tentang seni dan perdamaian.
SBY Art Community dan Perjalanan Seni Lukis Indonesia
SBY Art Community merupakan komunitas seni lukis yang digagas oleh tokoh nasional yang juga dikenal sebagai pelukis, Susilo Bambang Yudhoyono. Komunitas ini lahir dari keyakinan bahwa seni lukis bukan sekadar hobi, melainkan medium diplomasi budaya yang halus namun berdampak. Melalui pameran pertama yang mendapat sambutan hangat, SAC terus memperluas jejaring kolaborasi dengan seniman di dalam dan luar negeri.
Pameran kedua ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya SAC menggelar Artist Talk sebagai ruang dialog yang lebih mendalam. Bagi para seniman muda yang hadir, acara seperti ini adalah kesempatan langka untuk belajar langsung dari para maestro dan memahami bahwa seni tidak pernah berhenti pada karya jadi, tetapi terus hidup dalam perbincangan yang menyertainya. Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian tertua di Jakarta kembali membuktikan perannya sebagai rumah bagi gagasan-gagasan besar, termasuk gagasan bahwa kolaborasi lintas negara melalui seni adalah salah satu jalan menuju masa depan yang lebih damai.
Pameran ini terbuka bagi masyarakat umum dan diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk melihat seni lukis sebagai sarana membangun persahabatan antarbangsa. Sebab, seperti yang kerap diingatkan dalam setiap sesi diskusi, kuas dan kanvas tidak mengenal paspor, dan keindahan tidak pernah meminta izin untuk melintasi perbatasan.
[SOCIAL_TWEET]: Artist Talk pertama SBY Art Community di Taman Ismail Marzuki buktikan melukis plein air bisa jadi jembatan kolaborasi lintas budaya. #Seni #PleinAir[SOCIAL_TG]: Kuas dan kanvas tak mengenal paspor. Artist Talk SBY Art Community di TIM buktikan seni plein air jadi jembatan perdamaian lintas negara 🎨🕊️
Comments (0)