Jakarta — IHSG Ditutup Menguat di Akhir Pekan
Aktivitas di lantai bursa terpantau ramai pada Jumat (22/9/2023), ketika para investor mencermati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta. In
Aktivitas di lantai bursa terpantau ramai pada Jumat (22/9/2023), ketika para investor mencermati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi akhir pekan dengan penguatan terbatas, menandai berlanjutnya optimisme pasar meskipun dibayangi ketidakpastian global.
IHSG ditutup naik 0,29% ke level 6.955,75, bertahan di atas level psikologis 6.900. Sepanjang hari, indeks bergerak di rentang sempit antara 6.925 hingga 6.967, dengan volume transaksi mencapai 18,5 miliar saham dan total nilai perdagangan sekitar Rp 11,3 triliun. Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 520 miliar, mencerminkan aliran dana asing yang tetap masuk ke pasar domestik.
Pendorong Utama Penguatan
Beberapa data penting mendukung reli tipis ini. Pertama, data inflasi Indonesia untuk Agustus 2023 tetap terkendali di kisaran 3,2% (tahun-ke-tahun), memberi keleluasaan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pekan ini. Kedua, sinyal dari The Fed bahwa laju kenaikan suku bunga global mungkin mendekati puncaknya meningkatkan apetito terhadap aset berimbal hasil tinggi seperti saham-saham emerging market.
“Pasar merespons positif langkah BI yang menjaga suku bunga stabil. Ini memberi kepastian bagi sektor perbankan dan konsumsi domestik, yang menjadi penopang utama indeks hari ini,” ujar Mira Sekarini, analis pasar modal dari Investindo Futures.
Sektor Keuangan Pimpin Kenaikan
Sektor keuangan menjadi kontributor utama penguatan IHSG, mencatatkan kenaikan tertinggi harian sebesar 0,8%. Saham-saham bank besar seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI secara bersamaan menguat, mendorong kapitalisasi pasar sektor tersebut naik signifikan. Berikut poin-poin penting pergerakan sektoral:
- Keuangan: naik 0,8%, didorong ekspektasi pertumbuhan kredit kuartal IV/2023 yang lebih tinggi.
- Energi: naik 0,4%, terbantu kenaikan harga minyak mentah global yang kembali mendekati US$92 per barel.
- Konsumen non-siklikal: naik 0,3%, dengan saham UNVR dan ICBP menguat di tengah proyeksi pulihnya daya beli.
- Teknologi: turun tipis 0,1%, aksi ambil untung setelah reli dua hari sebelumnya.
- Infrastruktur: stagnan, investor menanti kejelasan proyek IKN dan belanja pemerintah.
Dari sisi data teknikal, IHSG membentuk pola bullish harami pada grafik harian, dengan indikator stochastic mulai berbalik dari wilayah jenuh jual. Level 6.900 tetap menjadi dukungan kunci jangka pendek, sementara resisten terdekat berada di 7.050. Jika indeks berhasil menembus resisten ini pekan depan, potensi reli menuju level 7.100-7.200 semakin terbuka lebar.
Konteks Makro dan Prospek Pasar
Secara makro, pasar masih memperhitungkan dampak berlanjutnya tensi perdagangan global, terutama eskalasi hubungan AS-Tiongkok di sektor teknologi. Namun, menguatnya nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 15.350 per dolar AS pada perdagangan Jumat—menguat 0,5% dibanding penutupan kemarin—membantu meredakan tekanan inflasi impor dan mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Dari dalam negeri, angka penjualan ritel Juli 2023 yang tumbuh 1,4% secara tahunan memberikan sinyal positif bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor pertumbuhan, seiring dengan meredanya laju PHK di sektor padat karya. Transaksi digital, termasuk di segmen e-commerce, turut mencatat kenaikan volume di awal kuartal ketiga, menopang ekspektasi pendapatan emiten terkait.
Namun demikian, risiko tetap ada. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya dan rilis data tenaga kerja AS pekan depan bisa mengubah ekspektasi suku bunga global secara drastis. “Pasar pasti wait and see dulu,” kata Andi Rahman, kepala riset Bahana Sekuritas. Ia menyarankan investor untuk selektif, terutama pada saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang sudah terkoreksi dalam.
Dengan penutupan akhir pekan ini, IHSG mencatat penguatan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir—mengindikasikan kembalinya momentum beli pasca-rali September yang sempat mereda. Optimisme ini didukung oleh data ekonomi domestik yang solid dan stabilitas moneter, meskipun pelaku pasar tetap memonitor dengan ketat petunjuk dari bank sentral global.
Comments (0)