BACH Resmi Melantai di BEI, Target Himpun Dana IPO Rp 150 Miliar
PT Bach Multi Global Tbk (BACH) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/7/2026). Dalam konferensi pers pascalantai, jajaran m
PT Bach Multi Global Tbk (BACH) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/7/2026). Dalam konferensi pers pascalantai, jajaran manajemen mengonfirmasi perseroan melepas sebanyak 1,2 miliar lembar saham atau setara 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan harga penawaran Rp 125 per saham. Total dana segar yang dihimpun mencapai Rp 150 miliar, menempatkan BACH sebagai emiten teknologi ke-12 yang melantai tahun ini di papan pengembangan. Direktur Utama menyebutkan bahwa 60% dana IPO akan dialokasikan untuk ekspansi jaringan infrastruktur internet-of-things (IoT) di empat kota besar, sementara 40% sisanya untuk modal kerja dan pengembangan platform smart city terintegrasi.
Melantainya BACH menjadi krusial di tengah tren pemerintah yang mengakselerasi transformasi digital melalui proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) tahap kedua. Saham BACH yang ditawarkan pada price-to-earnings ratio (PER) 12,5 kali—lebih rendah dari rata-rata sektor teknologi yang berada di 18,2 kali—langsung menyedot kelebihan permintaan (oversubscribed) sebesar 3,8 kali pada masa penawaran umum. Hal ini menandakan bahwa investor ritel dan institusi mulai memburu saham teknologi dengan valuasi yang moderat, menyusul koreksi harga pada semester pertama 2026 yang menekan saham-saham teknologi mega-kap. "Valuasi BACH sebenarnya konservatif untuk ukuran perusahaan yang sudah memiliki kontrak recurring dari pemerintah daerah. Ini bisa menjadi entry point yang menarik," ujar Andi Sutrisno, analis teknologi dari Mirae Asset Sekuritas.
Pasar IoT dan Smart City: Katalis atau Beban?
BACH mengklaim telah mengantongi kontrak senilai Rp 210 miliar dari tiga pemerintah kota untuk pengelolaan sistem pencahayaan pintar dan sensor lingkungan. Namun, realisasi kontrak semacam ini kerap menghadapi risiko keterlambatan pembayaran dan birokrasi yang panjang. Dari total dana Rp 90 miliar yang dialokasikan untuk belanja modal jaringan IoT, sekitar 40% akan digunakan untuk mengakuisisi menara mikro dan perangkat sensor. Sisanya untuk pengembangan aplikasi analitik data yang diharapkan mulai berkontribusi pada pendapatan di kuartal IV-2026. Secara historis, perusahaan sejenis seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) membutuhkan waktu 3-4 tahun untuk mencapai EBITDA positif pasca ekspansi besar-besaran.
| Keterangan | BACH (Bach Multi Global) | WIFI (Solusi Sinergi Digital) | MTEL (Dayamitra Telekomunikasi) |
|---|---|---|---|
| Dana IPO | Rp 150 M | Rp 180 M (2021) | Rp 2,6 T (2021) |
| Segmen Utama | IoT & Smart City | Infrastruktur Digital | Menara Telekomunikasi |
| PER Saat IPO | 12,5x | 15,1x | 14,3x |
| Oversubscribed | 3,8x | 2,1x | 1,5x |
| Porsi CapEx dari IPO | 60% | 70% | 85% |
Perbandingan di atas memperlihatkan bahwa BACH masuk dengan PER paling rendah, namun alokasi belanja modal dari dana IPO yang juga paling moderat. Artinya, strategi pertumbuhan BACH tidak hanya bergantung pada modal hasil penawaran umum, melainkan juga pada arus kas operasional dan pinjaman bank yang telah disepakati (komitmen kredit dari Bank Mandiri senilai Rp 100 miliar). Hal ini mereduksi risiko dilusi berlebihan di awal, tetapi menimbulkan beban bunga yang dapat menggerus laba bersih tahun berjalan, terutama ketika suku bunga acuan masih bertengger di level 5,75%.
Risiko Sektoral dan Proyeksi Kinerja
Meski sektor teknologi Indonesia diprediksi tumbuh 8,2% tahun ini menurut data Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI), persaingan di ceruk smart city semakin ketat. Pemain lama seperti Telkom Sigma dan startup dengan pendanaan ventura besar (contoh: Qlue) telah memiliki jejak rekam panjang. BACH perlu membuktikan bahwa solusi mereka yang mengandalkan sensor proprietary memiliki diferensiasi yang signifikan. "Jika dilihat dari gross margin yang hanya 22% di laporan keuangan 2025, model bisnis BACH masih sangat bergantung pada pengadaan perangkat. Mereka harus cepat menggeser pendapatan ke recurring dari data analytics untuk memperbaiki profil margin," tambah Andi Sutrisno.
Secara makro, sentimen terhadap saham teknologi juga dipengaruhi oleh potensi perlambatan belanja pemerintah daerah menjelang Pilkada serentak 2027. Namun, manajemen optimistis bahwa proyek-proyek yang sudah masuk anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) perubahan 2026 tidak akan terhambat secara signifikan. Perseroan menargetkan pendapatan Rp 340 miliar pada akhir tahun buku 2026, naik 64% dari realisasi 2025 sebesar Rp 207 miliar. Jika target ini tercapai, saham BACH di harga IPO diperdagangkan pada forward PER sekitar 10,2 kali, masih lebih rendah dari valuasi sektor. Investor yang memiliki horizon jangka panjang mungkin akan mengakumulasi, tetapi volatilitas jangka pendek patut diwaspadai mengingat rata-rata volume perdagangan saham baru yang masih tipis di pekan pertama pencatatan.
Comments (0)