JAKARTA — Dokter Farid Ungkap Tanda Dini Disleksia Anak

Proses belajar membaca merupakan fondasi krusial dalam fase tumbuh kembang anak. Namun, bagi sebagian anak, deretan huruf pada halaman buku kerap menjelma

Sep 15, 2026 - 17:39
0 0
JAKARTA — Dokter Farid Ungkap Tanda Dini Disleksia Anak

Proses belajar membaca merupakan fondasi krusial dalam fase tumbuh kembang anak. Namun, bagi sebagian anak, deretan huruf pada halaman buku kerap menjelma menjadi labirin yang membingungkan. Kondisi neurobiologis yang dikenal sebagai disleksia sering kali melatarbelakangi kendala ini, meskipun tidak sedikit masyarakat yang secara keliru menganggapnya sebagai bentuk ketidakmampuan intelektual atau sekadar rasa malas. Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial, Dr. dr. Farid Agung Rahmadi, Sp.A(K), M.Si.Med., menegaskan pentingnya pemahaman mendalam dari orang tua dan pendidik untuk mengenali sinyal-sinyal awal gangguan belajar spesifik ini demi efektivitas intervensi sejak dini.

Perspektif Klinis dan Hambatan Neurobiologis

Disleksia bukan disebabkan oleh kerusakan organ penglihatan maupun tingkat intelegensi yang rendah, melainkan hambatan dalam pemrosesan bahasa di dalam otak. Anak dengan kondisi ini menghadapi tantangan signifikan dalam mengolah fonem—satuan bunyi terkecil dalam bahasa—serta mengaitkannya dengan simbol visual berupa huruf. Analisis klinis menunjukkan bahwa sekitar 5 hingga 10 persen anak usia sekolah mengalami tingkat disleksia yang bervariasi. Diagnosis dini berpotensi menekan hambatan akademis hingga 70 persen apabila penanganan yang tepat diberikan sebelum anak menginjak usia delapan tahun.

"Disleksia membutuhkan perhatian khusus karena berkaitan dengan cara otak memproses informasi bahasa. Mengidentifikasi gejalanya sejak fase awal membaca sangat krusial agar anak tidak mengalami trauma akademis maupun penurunan rasa percaya diri," ujar Dr. Farid Agung Rahmadi.

Indikator Utama pada Fase Belajar Membaca

Pola perilaku anak saat berinteraksi dengan teks dapat menjadi petunjuk awal bagi orang tua. Menurut pemaparan analisis medis, beberapa indikator khas disleksia yang patut diwaspadai meliputi:

  • Kesulitan Fonologis: Hambatan memisahkan dan memanipulasi bunyi kata, seperti kesulitan mengenali rima kata sederhana atau mengeja suku kata dasar.
  • Substitusi dan Inversi Huruf: Kecenderungan membalikkan bentuk huruf serupa secara konsisten, seperti huruf 'b' dengan 'd', atau 'p' dengan 'q', serta membaca kata secara terbalik.
  • Lambatnya Kecepatan Membaca: Anak membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mengeja kata sederhana dibandingkan teman sebayanya, sering kali disertai tingkat kelelahan mental yang tinggi.
  • Kendala Pemahaman Isi Teks: Karena daya konsentrasi habis terpakai hanya untuk mendekode simbol huruf, anak kerap tidak memahami makna dari kalimat yang baru saja dibacanya.

Berikut adalah perbandingan analitis antara perkembangan membaca tipikal dengan sinyal peringatan (red flags) disleksia pada anak:

Fase Usia Perkembangan Tipikal Sinyal Peringatan (Disleksia)
4–5 Tahun Mampu mengenali rima sederhana dan mengidentifikasi abjad. Kesulitan mengingat nama huruf dan sering salah menyebut rima kata dasar.
6–7 Tahun Mengeja kata sederhana dan menghubungkan bunyi dengan huruf. Sering membalikkan bentuk huruf, mengeja sangat lambat, dan cepat frustrasi.
8+ Tahun Membaca kalimat dengan lancar serta memahami konteks cerita. Cenderung menghindari aktivitas membaca dan artikulasi ejaan terbata-bata.

Strategi Pendampingan dan Penanganan Multidisiplin

Pendekatan terhadap anak yang mengidap disleksia tidak dapat disamakan dengan metode pengajaran konvensional. Intervensi yang efektif memerlukan kerja sama multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis anak tumbuh kembang, psikolog pendidikan, serta terapis wicara. Metode pembelajaran multisensori—yang menggabungkan jalur visual, auditori, dan kinestetik—terbukti menjadi strategi paling adaptif dalam membantu struktur otak anak memahami bahasa.

Dukungan emosional dari lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat vital. Tekanan akademis yang berlebihan tanpa disertai pemahaman atas kondisi fisik otak anak berisiko memicu kecemasan sekunder dan depresi. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan bagi orang tua dan penyesuaian kurikulum di sekolah inklusif menjadi langkah konkret dalam menjamin hak tumbuh kembang anak secara optimal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User