Istri Mahathir Mohamad Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun
KUALA LUMPUR — Kabar duka menyelimuti dunia politik Malaysia. Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali, istri mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, mengh
KUALA LUMPUR — Kabar duka menyelimuti dunia politik Malaysia. Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali, istri mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, menghembuskan napas terakhir pada usia 100 tahun. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Mahathir melalui akun Instagram pribadinya, memicu gelombang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh politik, akademisi, hingga masyarakat biasa yang mengenal sosoknya sebagai figur publik yang hangat dan bersahaja.
Kepergian Siti Hasmah menandai berakhirnya satu babak panjang dalam sejarah politik Malaysia modern. Ia bukan sekadar pendamping seorang pemimpin negara, melainkan juga seorang dokter yang mengabdikan hidupnya pada dunia kesehatan dan kesejahteraan sosial. Sepanjang karier politik Mahathir yang membentang lebih dari empat dekade, Siti Hasmah selalu hadir di sisi suaminya, menjadi saksi sekaligus bagian dari berbagai keputusan penting yang membentuk arah pembangunan Malaysia.
Figur di Balik Layar Kekuasaan Mahathir
Dalam banyak analisis politik Malaysia, posisi Siti Hasmah kerap digambarkan sebagai kekuatan tenang di balik kepemimpinan Mahathir yang terkenal tegas dan kontroversial. Ia dikenal mampu meredam ketegangan, memberikan perspektif humanis, dan menjaga keseimbangan antara ambisi politik sang suami dengan kebutuhan keluarga. Peran semacam ini jarang terdokumentasi secara formal, namun diakui luas oleh mereka yang pernah bekerja dekat dengan keluarga Mahathir.
"Siti Hasmah adalah teladan bagi perempuan Malaysia. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampil di podium, tetapi juga hadir dalam keteladanan sehari-hari," ujar seorang pengamat politik Malaysia yang enggan disebutkan namanya.
Sebagai dokter lulusan Universitas Malaya, Siti Hasmah sempat aktif di dunia kesehatan sebelum suaminya terjun ke politik penuh waktu. Perannya sebagai dokter pertama yang mendampingi seorang Perdana Menteri Malaysia menciptakan preseden penting bagi keterlibatan perempuan dalam ruang publik. Ia juga dikenal aktif dalam berbagai program kesehatan ibu dan anak, serta kampanye kesadaran gizi yang menjadi bagian dari agenda pembangunan sosial era 1980-an hingga 1990-an.
Jejak Panjang Seabad Perjalanan Hidup
Mencapai usia 100 tahun adalah pencapaian luar biasa, terlebih bagi seseorang yang hidup di tengah dinamika politik tinggi selama puluhan tahun. Siti Hasmah melewati berbagai periode penting: kemerdekaan Malaysia, krisis ekonomi 1997, reformasi politik 1998, hingga kembalinya Mahathir ke kursi perdana menteri pada 2018. Di setiap fase itu, ia konsisten menjaga citranya sebagai figur yang tidak mencampuri urusan kekuasaan secara langsung, namun tetap relevan dalam percakapan publik.
| Aspek | Peran Siti Hasmah |
|---|---|
| Bidang Kesehatan | Dokter, aktivis kesehatan ibu dan anak |
| Politik | Pendamping setia, penasihat informal |
| Sosial | Teladan perempuan Malaysia |
Kabar duka ini tidak hanya menjadi peristiwa personal bagi keluarga Mahathir, tetapi juga momen refleksi bagi Malaysia tentang perjalanan kepemimpinan negara. Banyak pihak menilai kepergian Siti Hasmah menutup era ketika sosok perempuan di lingkaran kekuasaan berperan sebagai penyeimbang moral, bukan sekadar simbol pendamping. Kehilangan ini terasa lebih dalam karena ia adalah salah satu dari sedikit figur yang mampu melintasi garis politik tanpa kehilangan simpati publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai jadwal pemakaman. Namun sejumlah tokoh politik Malaysia telah menyampaikan penghormatan terakhir mereka melalui media sosial, menandai betapa luas penghormatan yang mengalir untuk perempuan yang telah hidup selama satu abad penuh pengabdian.
Comments (0)