IPC 2026 Soroti Pengembangan Produk di Era Agentic AI
Jakarta — Indonesia Product Conference (IPC) 2026 kembali digelar untuk kelima kalinya dengan mengangkat tema besar pengembangan produk di era Agentic AI.
Jakarta — Indonesia Product Conference (IPC) 2026 kembali digelar untuk kelima kalinya dengan mengangkat tema besar pengembangan produk di era Agentic AI. Ajang tahunan yang menjadi rujukan para praktisi produk di Tanah Air ini mempertemukan lebih dari 1.000 profesional produk serta menghadirkan lebih dari 25 pembicara lintas industri dalam satu panggung kolaborasi.
Penyelenggaraan tahun kelima ini menandai perjalanan IPC sebagai komunitas dan konferensi yang konsisten mendorong pertumbuhan ekosistem product management di Indonesia. Sejak pertama kali dihelat pada 2022, IPC telah bertransformasi dari sekadar pertemuan komunitas menjadi konferensi berskala nasional yang menarik perhatian perusahaan teknologi, startup, hingga korporasi tradisional yang sedang bertransformasi digital.
Perjalanan Lima Tahun IPC
Perjalanan IPC selama lima tahun menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi jumlah peserta, kualitas pembicara, maupun relevansi tema yang diusung. Berikut garis waktu perjalanan IPC dari tahun ke tahun:
- 2022 — IPC pertama digelar sebagai respons atas kebutuhan komunitas produk akan ruang berbagi praktik terbaik. Peserta masih didominasi kalangan startup.
- 2023 — Skala acara membesar seiring keterlibatan korporasi dan perusahaan BUMN yang mulai membangun tim produk internal.
- 2024 — Tema AI mulai diperkenalkan sebagai bagian dari diskusi pengembangan produk, meski masih terbatas pada otomatisasi sederhana.
- 2025 — IPC mengangkat isu AI generatif dan dampaknya terhadap alur kerja tim produk.
- 2026 — Era Agentic AI menjadi fokus utama, dengan pembahasan yang jauh lebih dalam soal agen otonom dalam siklus pengembangan produk.
Agentic AI Jadi Fokus Utama
Pada penyelenggaraan 2026, diskusi tidak lagi berhenti pada pemanfaatan AI sebagai alat bantu. Para pembicara menyoroti bagaimana Agentic AI — sistem AI yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri — mulai mengubah cara tim produk bekerja, mulai dari riset pengguna, penentuan prioritas backlog, hingga pengujian produk.
"Agentic AI bukan sekadar tren, tetapi pergeseran cara kerja. Product manager dituntut mampu mengorkestrasi agen-agen AI tanpa kehilangan sentuhan empati terhadap pengguna," ujar salah satu pembicara dalam sesi panel.
Diskusi juga menyentuh sisi tantangan. Sejumlah pembicara mengingatkan bahwa adopsi Agentic AI menuntut kesiapan data, tata kelola, serta kompetensi baru bagi profesional produk. Tanpa fondasi tersebut, adopsi teknologi berisiko menghasilkan keputusan produk yang tidak akurat.
- Lebih dari 1.000 profesional produk hadir sebagai peserta.
- Lebih dari 25 pembicara dari berbagai industri berbagi pengalaman.
- Tema utama: pengembangan produk di era Agentic AI.
- Penyelenggaraan tahun kelima sejak 2022.
Implikasi bagi Ekosistem Produk Nasional
Kehadiran IPC 2026 menjadi penanda bahwa ekosistem produk Indonesia semakin matang dan adaptif terhadap teknologi baru. Bagi perusahaan, ajang ini menjadi tolok ukur kesiapan tim dalam menghadapi gelombang otomasi cerdas. Bagi individu, IPC menegaskan bahwa kemampuan berkolaborasi dengan AI akan menjadi kompetensi wajib, bukan nilai tambah.
Dengan skala peserta yang menembus 1.000 orang dan lebih dari 25 pembicara, IPC 2026 memperkuat posisinya sebagai konferensi produk terbesar di Indonesia. Penyelenggaraan tahun kelima ini sekaligus menjadi titik tolak menuju era pengembangan produk yang lebih otonom, cerdas, dan berpusat pada manusia.
Comments (0)