Katedral Jakarta Gelar Misa Kamis Putih Khidmat, Umat Padati Gereja
Jakarta — Udara malam di sekitar Lapangan Banteng terasa lebih hening dari biasanya, Rabu malam menjelang Kamis Putih. Lampu-lampu katedral menyala keemasa
Jakarta — Udara malam di sekitar Lapangan Banteng terasa lebih hening dari biasanya, Rabu malam menjelang Kamis Putih. Lampu-lampu katedral menyala keemasan, memantul di atas bangunan megah Gereja Katedral Jakarta yang berdiri sejak 1901. Di dalam, ribuan umat Katolik berdiri rapat, mengenakan pakaian rapi, sebagian besar berwarna putih, menanti dimulainya liturgi pembuka rangkaian Tri Hari Suci — Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci — menuju perayaan Paskah.
Misa Kamis Putih menandai peringatan institusi Ekaristi dan sakramen imamat, sekaligus peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian yang menjadi puncak seluruh tahun liturgi Gereja Katolik. Dalam kalender liturgi, inilah momen ketika Gereja mengenang perjamuan terakhir Kristus bersama para murid, lalu berjalan menuju salib dan kubur yang kosong.
Perjamuan Terakhir yang Dijadikan Teladan
Inti perayaan Kamis Putih adalah pembacaan kisah Perjamuan Malam Terakhir, ketika Yesus mengambil roti dan anggur, lalu membasuh kaki para muridnya sebagai tanda pelayanan. Di Katedral Jakarta, upacara pembasuhan kaki dilakukan oleh uskup atau imam kepada sejumlah umat terpilih, meniru gestur Kristus yang berlutut di hadapan para murid.
Jikalau Aku, Tuhan dan Guru, telah membasuh kakimu, maka kamu pun wajib membasuh kaki sesamamu. Aku telah memberi kamu teladan, supaya kamu berbuat sama seperti yang Aku perbuat kepadamu.
Ringkasnya, pesan liturgi ini menegaskan bahwa otoritas dalam Gereja tidak diukur dari kekuasaan, melainkan dari kesediaan melayani. Perintah kasih itu menjadi benang merah homili yang disampaikan imam dalam misa, sekaligus pengingat bahwa Paskah bukan sekadar tradisi, melainkan ajakan mengubah cara umat memandang sesama.
Umat Memadati Katedral dan Paroki Sekitar
Gereja Katedral Jakarta dikenal sebagai salah satu tempat perayaan paling ramai setiap Paskah. Sejak sore, umat sudah mengantre di halaman gereja, sementara kapasitas kursi di dalam terisi penuh. Sebagian besar jemaat memilih berdiri di lorong-lorong samping dan halaman ketika lampu misa dimatikan, menyisakan cahaya lilin yang bergerak pelan seperti ombak kecil di kegelapan.
Perayaan serupa juga berlangsung di paroki-paroki se-Jakarta, seperti Katedral Berhati Suci di Menteng, Gereja Trikora Kalideres, serta sejumlah gereja di wilayah Bekasi dan Tangerang. Polisi lalu lintas sejak sore mengatur arus kendaraan di kawasan Lapangan Banteng karena peningkatan kepadatan lalu lintas menjelang tengah malam.
Di berbagai paroki, jadwal Misa Kamis Putih biasanya digelar dua hingga tiga sesi, dimulai pukul **17.00 WIB** hingga **19.00 WIB**, agar umat pekerja dapat mengikuti liturgi tanpa harus menunggu larut malam. Setelah Misa, dilanjutkan adorasi Ekaristi sampai pukul 24.00 WIB, meniru kebiasaan murid-murid yang berjaga bersama Kristus di Taman Getsemani.
Dari Kamis Putih ke Jumat Agung
Rangkaian Tri Hari Suci berlanjut ke Jumat Agung dengan liturgi khusus yang dimulai pukul 15.00 WIB, mengenang wafatnya Yesus di salib. Pada hari itu, umat diajak berpuasa dan berdzikir, sementara altar dibiarkan kosong tanpa hiasan. Sabtu Suci menjadi hari tanpa Misa Ekaristi, hanya perayaan vigil Paskah pada malam harinya, yang secara simbolis menyalakan lilin Paskah sebagai tanda terang yang mengalahkan kegelapan.
Bagi umat Katolik, tiga hari ini bukan sekadar agenda ibadah. Inilah inti iman yang diwariskan dari generasi ke generasi: bahwa kematian tidak memiliki kata terakhir. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah berhenti, Kamis Putih mengajak warga Jakarta melambat sejenak, merenung, dan kembali pada pertanyaan paling sederhana — sejauh mana kita melayani sesama.
• Ribuan umat memadati Misa pembuka Tri Hari Suci • Upacara pembasuhan kaki jadi momen puncak liturgi • Adorasi Ekaristi berlangsung hingga pukul 24.00 WIB • Rangkaian berlanjut ke Jumat Agung pukul 15.00 WIB
Comments (0)