Indonesia Punya Matcha Lokal, Bisakah Bersaing dengan Matcha Jepang?
Jakarta – Demam matcha di Indonesia seolah tak ada habisnya. Dari martabak, klepon, cendol, hingga risol, bubuk hijau khas Jepang ini telah diolah menjadi beragam jajanan yang begitu digemari. Namu
Jakarta – Demam matcha di Indonesia seolah tak ada habisnya. Dari martabak, klepon, cendol, hingga risol, bubuk hijau khas Jepang ini telah diolah menjadi beragam jajanan yang begitu digemari. Namun di balik masifnya tren itu, ada fakta yang kurang manis: hampir seluruh matcha yang beredar di pasaran tanah air masih bergantung pada impor. Padahal, Indonesia adalah salah satu penghasil teh terbesar dunia. Lantas, mampukah matcha lokal tampil dan bersaing dengan produk Jepang yang sudah punya nama?
Gelombang hijau yang terus meluas
Fenomena matcha bukan sekadar tren musiman. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah kedai minuman dan restoran yang menawarkan menu berbasis matcha meningkat tajam. Media kami mencatat, pencarian daring untuk kata kunci “matcha” di Indonesia naik lebih dari dua kali lipat sejak 2023. Tak hanya di kafe premium, matcha juga merambah pasar tradisional—hadir dalam bentuk es doger matcha hingga gorengan kekinian. Sayangnya, gairah ini lebih banyak menguntungkan produsen dari Shizuoka atau Uji daripada petani teh di Jawa Barat atau Sumatera.
“Kesadaran masyarakat terhadap cita rasa matcha sudah tinggi, tapi pemahaman bahwa Indonesia bisa memproduksi matcha sendiri masih minim,” kata Dian Anggraini, periset teh dari Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, dalam laporan kami.
Ironi negeri penghasil teh
Badan Pusat Statistik mencatat, produksi teh kering nasional mencapai 130 ribu ton pada 2025. Meski demikian, Indonesia belum memiliki industri matcha yang terintegrasi. Teh hijau yang ditanam di dataran tinggi lokal mayoritas diolah menjadi teh celup atau teh bubuk biasa, bukan matcha tencha—bahan baku matcha premium yang diproses dengan cara ditutup dari sinar matahari sebelum panen. Proses ini memerlukan standar agronomi dan pengolahan yang ketat, mulai dari pemilihan klon unggul hingga penggilingan batu granit. Minimnya investasi pada fasilitas penggilingan dan sertifikasi organik menjadi penghambat utama.
Peluang dan tantangan produsen dalam negeri
Sejumlah petani dan pengusaha teh di Jawa Barat telah mulai bereksperimen dengan varietas lokal seperti GMB 7 dan Gambung 4 yang memiliki profil rasa umami cukup kuat. Produk mereka mulai muncul di pasar daring dengan harga 20-30% lebih murah dibanding matcha Jepang kelas seremonial. Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal rasa. Reputasi matcha Jepang yang melekat kuat sebagai yang “paling autentik” membuat konsumen kelas atas masih ragu beralih. Selain itu, kualitas warna hijau cerah yang menjadi ciri khas matcha premium sulit dicapai tanpa penguasaan teknik pascapanen yang mumpuni.
Di sisi lain, dukungan berupa pelatihan dari pemerintah daerah dan kolaborasi dengan kementerian pertanian mulai terlihat. Jika ekosistem hulu-hilir ini terbangun, bukan tidak mungkin matcha lokal akan mengisi ceruk pasar yang lebih terjangkau, seperti industri minuman siap saji dan bahan baku kue. Dengan potensi pasar domestik yang luar biasa besar, pertarungan matcha di Indonesia mungkin bukan semata soal meniru Jepang, melainkan menciptakan identitas rasa nusantara yang unik.
Comments (0)