Hashim Beberkan Bahan Baku Baru Avtur dari Mikroalga Laut
JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan terobosan baru dalam penyediaan bahan bakar penerbangan atau a
JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan terobosan baru dalam penyediaan bahan bakar penerbangan atau avtur di Indonesia. Bahan baku yang dimaksud bukan lagi sepenuhnya bergantung pada minyak bumi, melainkan dapat diproduksi dari mikroalga yang berasal dari laut. Pernyataan ini menandai arah kebijakan energi nasional yang semakin serius menggarap potensi bioenergi berbasis sumber daya kelautan.
Dalam paparannya, Hashim menjelaskan bahwa mikroalga memiliki kandungan lipid tinggi yang dapat diolah menjadi bahan bakar cair setara avtur. Kandungan minyak pada mikroalga disebut mencapai 20 hingga 50 persen dari berat keringnya, jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman darat konvensional seperti kelapa sawit atau jarak. Keunggulan lain, mikroalga mampu tumbuh cepat dan tidak memerlukan lahan pertanian produktif karena dibudidayakan di kolam atau reaktor tertutup.
Mengapa Mikroalga Menjadi Opsi Strategis?
Langkah ini tidak lepas dari tekanan global terhadap industri penerbangan untuk menekan emisi karbon. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) melalui skema CORSIA mewajibkan maskapai melaporkan dan mengurangi emisi secara bertahap. Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi salah satu instrumen utama, dan Indonesia dinilai memiliki modal besar karena kaya akan biodiversitas laut.
"Mikroalga adalah masa depan bahan bakar. Kita punya laut yang luas, sinar matahari sepanjang tahun, dan itu kombinasi sempurna untuk produksi biomassa," ujar Hashim dalam keterangannya, dikutip dari Detikcom. Pernyataan ini sejalan dengan roadmap energi terbarukan yang menargetkan bauran energi baru terbarukan lebih besar pada akhir dekade ini.
Perbandingan Potensi Bahan Baku Avtur
| Jenis Bahan Baku | Kandungan Minyak | Kebutuhan Lahan | Status Pemanfaatan di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Mikroalga | 20–50 persen | Rendah (kolam/reaktor) | Riset dan pengembangan awal |
| Kelapa Sawit | 18–20 persen | Luas | Komoditas utama, masih pangan |
| Jarak Pagar | 25–30 persen | Sedang | Terbatas, non-pangan |
| UCO (minyak jelantah) | Bervariasi | Nol (limbah) | Bahan baku SAF komersial terbatas |
Dari tabel di atas terlihat bahwa mikroalga menawarkan efisiensi ruang yang jauh lebih baik. Namun, tantangan utama bukan pada kandungan minyak, melainkan pada biaya produksi dan teknologi pemanenan. Proses kultivasi mikroalga dalam skala besar masih membutuhkan fotobioreaktor atau kolam terbuka dengan pengadukan dan pencahayaan terkontrol, yang saat ini menelan biaya cukup tinggi.
Peta Jalan dan Tantangan Hilirisasi
- Riset dan pengembangan — Identifikasi spesies mikroalga lokal yang cepat tumbuh dan berlipid tinggi, terutama dari perairan tropis Indonesia.
- Pilot project — Pembangunan fasilitas budidaya skala menengah di kawasan pesisir untuk menguji produktivitas per hektare.
- Uji coba konversi — Pengolahan biomassa menjadi bioavtur melalui proses hidrogenasi dan hydrocracking, serta pengujian kualitas sesuai standar ASTM D7566.
- Komersialisasi bertahap — Integrasi dengan kilang Pertamina dan mandat pencampuran SAF pada penerbangan domestik.
Sejumlah pengamat energi menilai langkah ini realistis dalam jangka panjang, namun mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan opsi cepat seperti minyak jelantah dan limbah pertanian. "Mikroalga itu menjanjikan, tapi butuh 5-10 tahun untuk komersial. Jalur transisi tetap diperlukan agar target penurunan emisi penerbangan tidak tertunda," kata seorang analis energi di Jakarta.
Jika berhasil, Indonesia berpotensi tidak hanya memenuhi kebutuhan avtur domestik, tetapi juga menjadi pemain utama pasar SAF di kawasan Asia Pasifik. Kombinasi kekayaan laut, permintaan penerbangan yang terus tumbuh, dan komitmen iklim global menjadikan mikroalga sebagai peluang strategis yang layak diperhitungkan.
Comments (0)