Hashim Ungkap Teknologi Jepang-Taiwan Tekan Emisi Pabrik

Jakarta — Wakil Menteri sekaligus Ketua Satgas Perumahan Hunian Hashim Djojohadikusumo membeberkan adanya teknologi baru asal Jepang dan Taiwan yang mampu

Oct 08, 2026 - 07:02
0 0
Hashim Ungkap Teknologi Jepang-Taiwan Tekan Emisi Pabrik

Jakarta — Wakil Menteri sekaligus Ketua Satgas Perumahan Hunian Hashim Djojohadikusumo membeberkan adanya teknologi baru asal Jepang dan Taiwan yang mampu menangkap emisi karbon pada sektor industri. Pernyataan itu menyoroti bagaimana Indonesia mulai melirik solusi buatan Asia Timur untuk menekan sebaran gas rumah kaca dari pabrik-pabrik yang selama ini menjadi kontributor emisi terbesar.

Dalam paparannya, Hashim menekankan bahwa penangkapan emisi karbon bukan lagi konsep jangka panjang, melainkan teknologi yang sudah bisa dipasang di fasilitas industri berat. Industri semen, baja, petrokimia, dan pembangkit listrik disebut sebagai sektor prioritas karena intensitas emisinya paling tinggi per unit produksi.

Latar: Tekanan Emisi Industri Indonesia

Sektor industri termasuk porsi besar dalam inventaris emisi nasional. Pembakaran bahan bakar fosil pada proses termal, ditambah emisi proses dari reaksi kimia material, membuat pabrik sulat sepenuhnya beralih ke energi terbarukan dalam waktu singkat. Di sinilah teknologi penangkapan karbon menjadi jembatan transisi.

Hashim menilai dua negara Asia Timur tersebut punya keunggulan berbeda:

  1. Jepang — unggul dalam sistem penangkapan karbon berskala pabrik yang terintegrasi dengan unit pembangkit dan fasilitas industri padat energi.
  2. Taiwan — dikenal dengan solusi pemrosesan gas buang dan sistem efisiensi industri yang dapat dipasang pada jalur produksi eksisting tanpa membongkar total fasilitas.
  3. Keduanya menawarkan pendekatan retrofit, yaitu pemasangan pada pabrik yang sudah beroperasi, bukan hanya untuk fasilitas baru.
"Teknologi ini memungkinkan pabrik tetap berproduksi sambil menekan emisinya. Itu yang kita butuhkan sebagai negara industri berkembang," ujar Hashim.

Alasan Memilih Jepang dan Taiwan

Beberapa pertimbangan teknis melatarbelakangi pemilihan kedua negara. Pertama, iklim industri Asia Timur yang padat lahan mendorong pengembangan teknologi kompak dan efisien. Kedua, regulasi iklim di Jepang dan Taiwan yang ketat memaksa perusahaan mengembangkan solusi dekarbonisasi yang teruji komersial.

Ketiga, dari sisi ekonomi, biaya pemasangan sistem penangkapan emisi pada pabrik eksisting relatif lebih terjangkau dibanding membangun ulang seluruh rantai produksi. Bagi Indonesia, opsi ini penting karena target penurunan emisi nasional harus dikejar tanpa mengorbankan daya saing industri.

Tantangan Implementasi di Dalam Negeri

Meski potensinya besar, sejumlah tantangan harus diselesaikan agar teknologi ini benar-benar diterapkan luas. Dalam konteks industri Indonesia, beberapa hambatan berikut perlu diantisipasi:

  • Biaya awal pemasangan yang masih tinggi bagi pabrik menengah.
  • Kesiapan infrastruktur penyimpanan karbon, termasuk lokasi penimbunan jangka panjang.
  • Ketersediaan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan dan merawat sistem penangkapan emisi.
  • Kejelasan insentif fiskal agar perusahaan berani berinvestasi pada teknologi bersih.

Dampak bagi Industri dan Target Iklim

Penerapan teknologi asal Jepang dan Taiwan berpotensi mengubah profil emisi industri Indonesia secara bertahap. Target penurunan emisi sektor industri dapat dicapai lebih cepat jika pabrik besar mulai memasang sistem penangkapan dalam beberapa tahun ke depan.

Selain manfaat lingkungan, ada efek ekonomi yang tidak kalah penting. Produk industri beremisi rendah semakin dicari pasar global, khususnya pembeli dari Uni Eropa yang menerapkan mekanisme koridor karbon. Dengan demikian, dekarbonisasi pabrik bukan sekadar kewajiban lingkungan, tetapi juga strategi akses pasar.

Hashim menyebut pembicaraan dengan pihak Jepang dan Taiwan masih berlanjut ke tahap kajian teknis dan uji coba. Pemerintah menargetkan demonstrasi teknologi di sejumlah fasilitas industri sebelum skema penerapan luas ditetapkan.

Langkah Berikutnya

  1. Kajian teknis bersama pihak Jepang dan Taiwan untuk memetakan pabrik prioritas.
  2. Uji coba pemasangan sistem penangkapan emisi di fasilitas industri terpilih.
  3. Penyusunan kerangka insentif bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi rendah emisi.
  4. Evaluasi hasil uji coba sebelum keputusan penerapan nasional diambil.

Dengan pendekatan bertahap tersebut, Indonesia berharap bisa menekan emisi industri tanpa menghambat laju pertumbuhan produksi. Teknologi Jepang dan Taiwan kini menjadi salah satu kandidat solusi yang dipantau pemerintah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User