Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP Kompak Tak Bergerak
Peta harga bahan bakar minyak (BBM) di jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) nasional pada Senin, 28 September 2026, memperlihatkan pola yang
Peta harga bahan bakar minyak (BBM) di jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) nasional pada Senin, 28 September 2026, memperlihatkan pola yang relatif stabil. PT Pertamina (Persero) bersama tiga operator swasta besar—Shell Indonesia, Vivo Energy Indonesia, dan BP-AKR—memilih menahan harga jual produk mereka di level yang sama seperti pekan sebelumnya. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa tekanan fluktuasi harga minyak mentah dunia belum cukup kuat untuk memicu penyesuaian di tingkat ritel dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan pantauan harga harian, Pertamina tetap mematok harga Pertalite pada angka Rp10.000 per liter, Pertamax Rp12.400 per liter, dan Pertamax Turbo Rp13.900 per liter. Sementara itu, produk diesel seperti Biosolar subsidi masih dijual Rp6.800 per liter, dan Dexlite di kisaran Rp12.150 per liter. Di sisi lain, Shell menawarkan Shell Super Rp12.590 per liter, Shell V-Power Rp13.150 per liter, dan Shell Diesel Rp12.250 per liter. Vivo Energy membanderol Revvo 90 di Rp11.900, Revvo 92 Rp12.350, dan Revvo 95 Rp13.100 per liter. Adapun BP menetapkan BP 92 di Rp12.400 dan BP Ultimate Diesel Rp12.350 per liter.
Faktor yang Menahan Pergerakan Harga
Pengamat energi menilai stagnasi harga ini dipengaruhi oleh beberapa variabel utama. Pertama, harga minyak mentah Brent dan WTI bergerak dalam rentang sempit di kisaran 72 hingga 75 dolar AS per barel selama sepekan. Kedua, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil di level Rp15.450-Rp15.500, sehingga tidak memberikan dorongan depresiasi yang signifikan terhadap biaya impor. Ketiga, kebijakan pemerintah yang belum mengubah formula harga subsidi dan non-subsidi menjadi faktor penentu utama.
“Kami belum melihat urgensi untuk menyesuaikan harga pekan ini. Pergerakan harga minyak dunia masih dalam batas toleransi yang kami tetapkan. Namun, kami terus memantau dinamika geopolitik dan permintaan global,” ujar seorang sumber di lingkungan Pertamina yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, dari sisi konsumen, harga yang tak berubah justru memberi ruang bagi rumah tangga dan pelaku usaha mikro untuk mengatur anggaran transportasi. Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa stabilitas ini bersifat sementara, mengingat ketegangan di kawasan Timur Tengah dan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat masih menjadi risiko yang bisa mengubah arah harga dalam beberapa pekan ke depan.
Perbandingan Harga Antaroperator
Jika dibandingkan, harga BBM non-subsidi di empat operator menunjukkan selisih yang tidak terlalu jauh. Berikut ringkasan poin kunci yang perlu dicermati konsumen:
- Pertalite tetap menjadi pilihan termurah di kelas bensin RON 90 dengan harga Rp10.000 per liter, hanya tersedia di SPBU Pertamina.
- Pertamax (RON 92) dibanderol Rp12.400, bersaing ketat dengan Shell Super, Vivo Revvo 92, dan BP 92 yang berada di rentang Rp12.350-Rp12.590.
- Produk diesel menunjukkan variasi harga cukup lebar, dari Biosolar subsidi Rp6.800 hingga Dexlite Rp12.150 dan Shell Diesel Rp12.250.
- Bensin RON 95 ke atas seperti Pertamax Turbo, Shell V-Power, dan Vivo Revvo 95 dijual di kisaran Rp13.100-Rp13.900 per liter.
Struktur harga ini menegaskan bahwa kompetisi di segmen non-subsidi semakin ketat, terutama untuk produk RON 92 yang menjadi tulang punggung penjualan ritel modern. Konsumen kini memiliki keleluasaan memilih operator berdasarkan harga, kualitas, dan program loyalitas yang ditawarkan.
Proyeksi ke Depan
Ke depan, arah harga BBM di Tanah Air akan sangat bergantung pada tiga hal: pergerakan harga minyak mentah internasional, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kebijakan fiskal pemerintah terkait subsidi energi. Jika harga minyak global menembus 80 dolar AS per barel, bukan tidak mungkin operator swasta akan lebih cepat menyesuaikan harga dibandingkan Pertamina yang memiliki mandat pelayanan publik.
Bagi konsumen, momen harga stabil seperti sekarang bisa dimanfaatkan untuk merencanakan perjalanan dan efisiensi bahan bakar. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena pasar energi global dikenal dinamis dan rentan terhadap kejutan eksternal. Pemerintah pun diharapkan menjaga daya beli masyarakat melalui pengawasan distribusi dan memastikan tidak ada praktik penimbunan menjelang potensi kenaikan harga di masa mendatang.
• Pertalite: Rp10.000/liter • Pertamax: Rp12.400/liter • Shell Super: Rp12.590/liter • Vivo Revvo 92: Rp12.350/liter • BP 92: Rp12.400/liter Harga ditahan akibat minyak mentah dunia yang bergerak sempit dan rupiah stabil. Baca analisis lengkapnya!
Comments (0)