Gianni Infantino: Arsitek Transformasi Sepak Bola Dunia di Era FIFA

Kongres Luar Biasa FIFA di Zurich, 26 Februari 2016, menjadi titik balik bagi sepak bola dunia. Gianni Infantino, pengacara kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970, terpilih sebagai presiden ke-9 FIFA se...

Aug 28, 2026 - 17:15
0 0
Gianni Infantino: Arsitek Transformasi Sepak Bola Dunia di Era FIFA

Kongres Luar Biasa FIFA di Zurich, 26 Februari 2016, menjadi titik balik bagi sepak bola dunia. Gianni Infantino, pengacara kelahiran Brig, Swiss, 23 Maret 1970, terpilih sebagai presiden ke-9 FIFA setelah memenangi putaran kedua pemungutan suara dengan 115 suara dari 207 suara yang sah, mengungguli pesaing terdekatnya, Salman bin Ibrahim Al Khalifa. Hampir satu dekade kemudian, pria berusia 56 tahun itu tetap menjadi pengendali tertinggi sepak bola global — sekaligus sosok yang mengubah peta kompetisi dunia menjadi lebih besar, lebih kaya, dan tak pernah lepas dari sorotan.

Dari Sekretaris UEFA Menuju Singgasana Sepak Bola Dunia

Sebelum menduduki kursi paling berpengaruh di planet sepak bola, Infantino adalah sekretaris jenderal UEFA sejak 2009. Di bawah kendalinya, Liga Champions berkembang pesat dan pendapatan kompetisi antarklub Eropa itu menembus miliaran euro per musim. Pengalaman itulah yang menjadi modal utamanya ketika berkampanye dengan janji pemerataan pendapatan FIFA kepada seluruh asosiasi anggota.

Hasilnya nyata. Pada 5 Juni 2019, Infantino kembali terpilih tanpa lawan dalam kongres di Paris, dan diulang lagi pada 16 Maret 2023 di Kigali, Rwanda. Ia kini memimpin 211 asosiasi anggota — lebih banyak dari jumlah negara anggota PBB — dengan mandat yang praktis tanpa oposisi internal. Dalam pidatonya, ia kerap menekankan satu kalimat: “FIFA harus melayani 211 asosiasi, bukan sebaliknya.”

Ekspansi Piala Dunia: Dari 32 Menjadi 48 Tim

Keputusan paling monumental era Infantino diumumkan pada 10 Januari 2017, ketika Dewan FIFA memutuskan Piala Dunia 2026 diperluas dari 32 menjadi 48 tim. Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu memainkan 104 pertandingan — rekor baru dalam sejarah 96 tahun Piala Dunia. Formatnya: 12 grup berisi empat tim, lalu 32 tim terbaik melaju ke babak gugur.

Data penyelenggaraan lama pun menopang ambisinya. Piala Dunia 2022 di Qatar tercatat ditonton 5 miliar orang secara kumulatif di seluruh dunia, sementara hadiah total turnamen itu menyentuh US$440 juta, naik dari US$400 juta pada edisi Rusia 2018. Total penonton final Argentina vs Prancis yang berakhir dramatis 3-3 (4-2 lewat adu penalti) menjadi bukti bahwa Piala Dunia tetap menjadi magnet terbesar olahraga global.

Rekor Finansial di Bawah Kepemimpinannya

Infantino juga mentransformasi mesin uang FIFA. Siklus komersial 2023–2026 diproyeksikan menghasilkan pendapatan US$11 miliar, didorong kontrak hak siar dan sponsor yang terus menanjak. Salah satu gebrakannya adalah peluncuran FIFA+, platform streaming resmi yang menayangkan pertandingan langsung dari ratusan federasi di seluruh dunia.

Ambisi terbesarnya terlihat dari Piala Dunia Antarklub edisi baru yang menampilkan 32 tim dan digelar pertama kali di Amerika Serikat pada Juni 2025, dengan proyeksi pendapatan mencapai miliaran dolar. Di sisi lain, Piala Dunia Wanita 2023 di Australia dan Selandia Baru memecahkan rekor hadiah US$150 juta, naik drastis dari US$30 juta pada edisi 2019 — langkah yang dinilai sebagai upaya pemerataan gender di panggung tertinggi.

Kontroversi yang Tak Pernah Jauh

Karier Infantino tidak berjalan mulus tanpa gunjingan. Ia beberapa kali menjadi sorotan penyelidikan etik, termasuk penyelidikan dewan etik pada 2020 yang kemudian dinyatakan selesai tanpa dakwaan. Kritik juga datang dari pemain dan liga-liga Eropa yang menilai kalender pertandingan internasional semakin padat dan mengancam kesehatan atlet.

Pada 2025, FIFPRO dan European Leagues resmi mengajukan gugatan ke Komisi Eropa terkait Piala Dunia Antarklub baru yang dinilai membebani jadwal. Infantino membalas dengan tajam, menyebut kritik itu lahir dari kekhawatiran kehilangan posisi dalam peta komersial sepak bola. “Kami membangun masa depan, bukan mempertahankan masa lalu,” ujarnya saat itu.

Menuju Piala Dunia 2026: Ujian Terbesar

Kini semua mata tertuju pada Piala Dunia 2026, turnamen pertama dalam sejarah dengan 48 tim dan tiga negara tuan rumah. FIFA menargetkan 6 miliar penonton kumulatif dan dampak ekonomi hingga puluhan miliar dolar bagi Amerika Utara. Bagi Infantino, ini adalah panggung pembuktian terbesar setelah satu dekade memimpin.

Dari Zurich 2016 hingga Kigali 2023, dari 32 menjadi 48 tim, dari US$400 juta menjadi US$440 juta hadiah, Infantino telah menulis ulang buku panduan FIFA. Sepak bola dunia kini lebih besar, lebih komersial, dan lebih kompleks dari sebelumnya. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang memimpin FIFA, melainkan ke arah mana pria Swiss kelahiran Italia ini membawa bola bundar itu pada dekade berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User