Gempa M 6,5 Filipina Terasa hingga Sangihe Sulut, BMKG Jelaskan Pemicunya
Jakarta - Sebuah gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada Kamis sore. Getaran kuat akibat gempa ini ternyata tidak hanya dirasakan di negara tersebut, melainkan
Jakarta - Sebuah gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada Kamis sore. Getaran kuat akibat gempa ini ternyata tidak hanya dirasakan di negara tersebut, melainkan juga menjalar hingga ke sejumlah daerah di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera memberikan penjelasan terkait peristiwa yang sempat membuat warga panik tersebut.
Menurut keterangan resmi BMKG, gempa terjadi tepat pada pukul 18.43 WIB. Hasil analisis awal menunjukkan parameter magnitudo sebesar 6,8, namun setelah melalui pemutakhiran data, kekuatan gempa dikoreksi menjadi magnitudo 6,5. Lokasi episentrum gempa terdeteksi pada koordinat 5,40 derajat Lintang Utara dan 125,23 derajat Bujur Timur. Titik tersebut berada di laut, sekitar 200 kilometer arah Barat Laut dari Tahuna, yang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Utara. Kedalaman pusat gempa tercatat mencapai 31 kilometer, menandakan bahwa ini termasuk dalam kategori gempa dangkal.
Pemicu dan Mekanisme Gempa
"Berdasarkan analisis mekanisme sumber dan kedalaman hiposentrum, gempa ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia di wilayah Filipina bagian selatan. Ini merupakan jenis gempa menengah yang energinya mampu merambat hingga ke daratan Sulawesi Utara," jelas Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam keterangan tertulis yang diterima media kami.
BMKG menegaskan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, meskipun episentrumnya berada di laut. Masyarakat di wilayah pesisir diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa energi yang dihasilkan oleh gempa dengan magnitudo 6,5 dan kedalaman tersebut tidak cukup untuk memicu gelombang laut yang membahayakan.
Selain di Tahuna, getaran gempa dilaporkan turut dirasakan oleh warga di beberapa kecamatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Skala intensitas getaran yang dirasakan bervariasi, dengan sebagian warga melaporkan merasakan goncangan seperti truk besar yang melintas selama beberapa detik. Bahkan, beberapa warga di wilayah daratan Sulawesi Utara, seperti di Melonguane dan sekitarnya, juga melaporkan turut merasakan guncangan tersebut, meskipun dalam intensitas yang lebih ringan. Meski sempat menimbulkan kepanikan sesaat, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa yang ditimbulkan dari dampak gempa di wilayah Indonesia.
BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik di kawasan tersebut dan mengimbau masyarakat untuk selalu waspada serta memperoleh informasi resmi hanya dari sumber-sumber terpercaya. Peristiwa ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana geologi, mengingat posisi Indonesia dan negara tetangga yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Zona ini memang terkenal dengan intensitas gempa bumi dan aktivitas vulkanik yang tinggi, sehingga potensi gempa susulan dengan magnitudo yang lebih kecil tetap harus diantisipasi oleh warga yang bermukim di daerah rawan.
Comments (0)