FIGC Cabut Dukungan untuk Infantino Jelang Pemilihan Presiden FIFA
Skor akhir politik sepak bola dunia memang belum terukir, tetapi menit-menit krusial sudah dimulai. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi mencabut dukungannya terhadap Gianni Infantino jelang pemili...
Skor akhir politik sepak bola dunia memang belum terukir, tetapi menit-menit krusial sudah dimulai. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi mencabut dukungannya terhadap Gianni Infantino jelang pemilihan presiden FIFA, sebuah keputusan yang mengguncang peta kekuatan di Kongres FIFA mendatang. Pengumuman yang keluar dari markas FIGC di Roma itu menjadi tembakan pertama yang menembus pertahanan petahana, yang hampir satu dekade terakhir nyaris tak terusik di pucuk pimpinan federasi sepak bola dunia.
Keputusan ini bukan datang tanpa jejak sinyal. Berbulan-bulan sebelum pengumuman, diskursus soal arah kepemimpinan FIFA menguat di koridor UEFA dan di ruang rapat federasi-federasi besar Eropa. Kini, Italia menempatkan dirinya di barisan terdepan: federasi berjuluk Azzurri itu menjadi salah satu suara besar yang secara terbuka menarik dukungannya. Jika Kongres diibaratkan pertandingan, FIGC baru saja melepaskan shots on target pertamanya, dan bola itu meluncur lurus ke arah gawang sang petahana.
Mengapa Roma Menekan Tombol VAR
Pencabutan dukungan ini adalah produk evaluasi panjang, bukan reaksi spontan. Figur-figur kunci di FIGC menilai bahwa beberapa kebijakan FIFA dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi sejalan dengan kepentingan sepak bola Italia, khususnya dari sisi kalender kompetisi, distribusi pendapatan, dan perhatian terhadap kompetisi domestik yang menjadi tulang punggung pembinaan pemain muda.
Secara data, posisi Italia di panggung global memang fluktuatif. Azzurri mencatatkan clean sheet sepanjang perjalanan menuju gelar Euro 2020 — sebuah pencapaian yang dihiasi catatan tak terkalahkan — namun kemudian gagal total di kualifikasi Piala Dunia 2022. Di level klub, wakil-wakil Serie A kerap tampil impresif di kompetisi Eropa, tetapi stabilitas finansial dan infrastruktur stadion masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas. Ketimpangan itulah yang membuat federasi menginginkan ruang tawar lebih besar di tingkat global.
Keputusan FIGC juga dibaca sebagai pesan politik yang jelas: tidak ada lagi dukungan buta.
"Kami mencabut dukungan karena kami ingin memastikan bahwa federasi-federasi didengar, bukan sekadar dihitung," demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan FIGC di Roma.Kalimat itu menggambarkan keberanian Roma untuk menekan tombol VAR dan meminta wasit — dalam hal ini Kongres — meninjau ulang keputusan.
Hitung-hitungan Suara: Peta Kekuatan Berubah
Dalam ajang pemilihan presiden FIFA, kekuatan diukur dari jumlah federasi anggota. FIFA menaungi 211 federasi anggota, dan setiap suara memiliki bobot yang sama. Dengan dukungan Italia, Infantino sebelumnya bisa mengandalkan blok Eropa yang solid melalui UEFA. Pencabutan dukungan FIGC berarti satu suara dari 55 federasi UEFA kini berpindah ke sisi kritis — dan dalam politik sepak bola, satu suara jarang bergerak sendirian.
Para pengamat membaca langkah Italia sebagai pemicu efek domino. Beberapa federasi Eropa lain dikabarkan tengah memantau perkembangan ini dengan saksama, menunggu apakah kubu kritis akan membentuk formasi yang lebih jelas. Jika dianalogikan dengan taktik di lapangan, petahana yang sebelumnya bermain dengan formasi menyerang penuh kini harus menata ulang lini tengah pertahanannya — mengamankan basis dukungan yang selama ini dianggap aman.
Yang juga menarik, pencabutan dukungan ini terjadi tanpa menyebut kandidat alternatif. Ini adalah langkah negatif murni: FIGC memilih menarik dukungan sebelum memutuskan ke mana suara akan diarahkan. Dalam istilah sepak bola, ini seperti sebuah tim yang mengubah formasi di menit-menit akhir tanpa memasang striker baru — strategi yang berisiko, tetapi juga membuka ruang negosiasi yang lebih lebar.
Dampak ke Sepak Bola Italia dan Sinyal untuk Kongres
Secara domestik, keputusan FIGC berpotensi mengubah hubungan Italia dengan pusat kekuasaan sepak bola dunia. Sumber pendanaan untuk program pembinaan usia muda, dukungan infrastruktur, dan peran Italia dalam turnamen global bisa menjadi bahan pembicaraan ulang. Namun FIGC tampaknya sudah memperhitungkan risiko itu: mereka menilai suara yang lebih independen di Kongres justru akan memperkuat posisi tawar Italia dalam jangka panjang.
Di sisi lain, langkah ini mengirim sinyal ke seluruh 211 federasi: petahana tidak lagi berjalan tanpa hambatan. Setelah bertahun-tahun nyaris tanpa pesaing serius — termasuk saat terpilih kembali tanpa lawan di Kongres sebelumnya — Infantino kini menghadapi pertandingan yang sesungguhnya. Penguasaan bola politik yang selama ini didominasi petahana mulai terbagi, dan setiap federasi kini harus memilih sisi lapangan.
Satu hal yang pasti: Kongres FIFA mendatang akan menjadi panggung dengan tensi tertinggi dalam satu dekade terakhir. FIGC sudah melepaskan tembakan pertamanya, dan kini seluruh mata tertuju pada bagaimana petahana merespons — apakah ia akan menekan balik dengan formasi penuh, atau justru membuka ruang dialog yang selama ini jarang terlihat. Skor akhir belum ditentukan, tetapi laga sudah resmi dimulai.
Comments (0)