Fajar/Fikri Ulangi Dominasi Legendaris Marcus/Kevin Lewat Dwigelar Asia Timur

Lapangan-lapangan turnamen di Asia Timur menjadi saksi kebangkitan ganda putra Indonesia. Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri baru saja menuntaskan misi besar—menjuarai China Open 2026 dan Japa...

Jul 28, 2026 - 05:57
0 0
Fajar/Fikri Ulangi Dominasi Legendaris Marcus/Kevin Lewat Dwigelar Asia Timur

Lapangan-lapangan turnamen di Asia Timur menjadi saksi kebangkitan ganda putra Indonesia. Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri baru saja menuntaskan misi besar—menjuarai China Open 2026 dan Japan Open 2026 secara beruntun. Skor akhir di dua partai puncak itu bukan sekadar angka, melainkan penanda bahwa sektor men’s doubles Merah-Putih kembali menorehkan tinta emas yang sempat menguap selama tujuh tahun.

Rangkaian kemenangan ini mengulangi pencapaian epik Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo pada 2019. Kala itu, pasangan berjuluk Minions tersebut menyapu bersih dua gelar bergengsi di benua yang sama. Kini, Fajar/Fikri menyamai warisan itu dengan karakter permainan yang berbeda: tenaga eksplosif di depan net, pertahanan kokoh, dan transisi menyerang yang jauh lebih terukur. Artikel ini merinci perjalanan mereka di dua turnamen besar tersebut, menyajikan data dan kutipan eksklusif, serta membandingkan dominasi generasi baru dengan sang legenda.

China Open 2026: Pesta Sempurna di Changzhou

Bertanding di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Fajar/Fikri membuka kampanye Asia Timur mereka dengan starting XI yang sudah teruji. Menit ke-11 babak pertama final melawan wakil tuan rumah, Liu Yuchen/Chen Qingchen, pasangan Indonesia langsung menggebrak lewat smash keras Fikri yang menembus 372 km/jam. Angka itu menjadi yang tercepat sepanjang turnamen dan langsung memberi interval pertama dengan keunggulan 11-7. Penguasaan rally mencapai 58 persen di gim pertama, menghasilkan skor akhir 21-15, 21-19.

Gim kedua berjalan lebih sengit. Liu/Chen sempat menyamakan kedudukan di menit ke-38 setelah memanfaatkan kartu kuning bagi Fajar yang dianggap menunda servis. Namun, keputusan VAR yang mengonfirmasi bola keluar dari forehand Liu pada saat kritis di kedudukan 18-18 menjadi titik balik. Fajar/Fikri langsung menutup laga dengan tiga poin beruntun. “Kami menjaga disiplin rotasi dan tidak terpancing permainan net lawan yang cepat,” ujar Fikri seusai laga. Statistik menunjukkan pasangan Indonesia mencatat 7 smes mematikan dan hanya melakukan 4 kesalahan sendiri di gim kedua.

Japan Open 2026: Hattrick Smes dari Pertahanan Baja

Seminggu berselang di Tokyo Metropolitan Gymnasium, panggung final kembali mempertemukan Fajar/Fikri dengan unggulan pertama asal Denmark, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen. Jepang menjadi medan uji ketahanan mental karena pasangan Eropa itu membawa modal taktik flat drive yang selama ini menjadi momok ganda Indonesia. Menit ke-5, Astrup memborbardir sisi backhand Fajar, memaksa pertahanan rendah yang nyaris bobol. Namun, penyelamatan ganda Indonesia yang terukur menghasilkan 62% efisiensi pertahanan di 10 menit awal.

Gim pertama dimenangkan Denmark 22-20 setelah adu setting dramatis. Angin kencang di dalam stadion mempengaruhi flight shuttlecock, tetapi Fajar/Fikri mampu membaca perubahan dengan cepat. Di gim kedua, penguasaan bola mereka melonjak ke 55% dan menciptakan delapan peluang serangan dari net. Fikri yang makin agresif di depan mencatat 3 kill berturut-turut pada menit ke-44 hingga ke-47, mengubah skor dari 14-14 menjadi 17-14. Akhirnya, gim kedua ditutup 21-17.

Gim penentuan berlangsung brutal. Fajar sempat terjatuh dan memerlukan perawatan ringan di menit ke-58 setelah lututnya membentur lantai saat mengejar dropshot. Namun, momen injury time itu justru menjadi katalis. “Kami berjanji satu sama lain untuk tidak membiarkan kelelahan mengalahkan mimpi,” ujar Fajar. Lima menit terakhir menjadi milik Indonesia sepenuhnya: tiga smes Fikri dan dua blok Fajar menghasilkan lima poin berturut-turut. Skor akhir 20-22, 21-17, 21-16 memastikan gelar kedua dalam dua pekan.

Menyamakan Rekor Emas: Analisis Statistik dan Warisan

Banyak yang bertanya: seberapa istimewa dwigelar ini jika dibandingkan dengan torehan Minions? Tujuh tahun silam, Marcus/Kevin merebut China Open dan Japan Open 2019 dalam dua final straight game tanpa kehilangan satu gim pun. Persentase kemenangan mereka saat itu mencapai 100% di fase gugur. Fajar/Fikri memang kehilangan satu gim di Tokyo, namun rata-rata durasi pertandingan mereka 12% lebih singkat (42 menit vs 48 menit) berkat efisiensi penyelesaian di area depan.

Dari sisi shots on target, pasangan baru ini menghasilkan 14,3 winner per gim dibandingkan 13,7 milik Minions. Sementara itu, rasio kesalahan sendiri (unforced errors) lebih rendah 18%, menunjukkan kontrol teknis yang lebih matang. Namun, di aspek kecepatan fisik murni, Marcus/Kevin masih unggul dengan catatan rerata 3,2 pukulan per detik versus 2,9 milik Fajar/Fikri.

“Mereka bukan peniru. Mereka membawa DNA juara dengan warna sendiri. Rekor Marcus/Kevin tidak terkalahkan, tapi disamakan oleh tim yang sama hausnya,” kata pelatih kepala ganda putra, Herry Iman Pierngadi.

Dua gelar beruntun ini juga mempertegas tren statistik: empat turnamen terakhir selalu mencapai final, tiga di antaranya juara. Dengan koleksi 11.200 poin Race to Finals, Fajar/Fikri mengunci diri sebagai unggulan pertama BWF World Tour Finals 2026. Apakah mereka akan melampaui total delapan gelar Super 750+ yang pernah dikumpulkan Minions? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti—tujuh tahun penantian itu berakhir di smes Fajar yang mendarat sempurna di garis belakang Tokyo Metropolitan Gymnasium.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User