Kericuhan Usai Final Piala Dunia 2026, Leandro Paredes Jadi Biang Keladi
Skor akhir 3-2! Argentina resmi dinobatkan sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Prancis dalam final yang berlangsung mencekam di Stadion MetLife, New Jersey. Namun, kemuliaan malam itu n...
Skor akhir 3-2! Argentina resmi dinobatkan sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Prancis dalam final yang berlangsung mencekam di Stadion MetLife, New Jersey. Namun, kemuliaan malam itu nyaris ternoda. Belum juga selebrasi usai, kericuhan besar pecah di area lorong pemain — dan Leandro Paredes dipercaya sebagai biang keladi seluruh insiden tersebut.
Babak Pertama: La Albiceleste Kendalikan Tempo
Lionel Scaloni menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3, menempatkan Lionel Messi sebagai penyerang bayangan didampingi Julián Álvarez dan Ángel Di María. Skema itu langsung membuahkan hasil manis. Menit ke-23, Messi membuka keunggulan Argentina lewat eksekusi penalti yang tenang, mengalahkan Mike Maignan setelah VAR mengonfirmasi pelanggaran Ousmane Dembélé atas Alexis Mac Allister di kotak penalti.
Prancis membalas dengan sabar. Formasi 4-2-3-1 rakitan Didier Deschamps mulai menemukan ritmenya menjelang jeda. Menit ke-41, umpan silang Antoine Griezmann dari sisi kiri disambut tendangan first-time Kylian Mbappé yang menembus jangkauan Emiliano Martínez. Hingga turun minum, statistik mencatat penguasaan bola 56-44 untuk Argentina dengan shots on target 4-2.
Babak Kedua: Drama Gol dan Kartu
Menit ke-58, Argentina kembali unggul. Assist Mac Allister dari lini tengah membelah barisan pertahanan Les Bleus dan sampai ke kaki Álvarez, yang melepaskan tembakan kaki kanan tajam dari tepian kotak penalti. Menit ke-67, nama Paredes sempat masuk buku wasit setelah tackle telat pada Aurélien Tchouaméni — kartu kuning pertama bagi timnya di laga ini.
Tepat ketika Prancis menaikkan intensitas tekanan, Argentina memperbesar keunggulan pada menit ke-79. Operaan terobosan Di María dimanfaatkan Messi dengan sentuhan halus melewati Maignan. Prancis menolak menyerah: gol Mbappé pada menit ke-90+2 lewat penalti memangkas skor menjadi 3-2, namun waktu sudah habis. Upaya penyelamatan di detik-detik akhir bahkan batal karena posisi offside yang ditandai VAR.
Angka-Angka Kunci Final
Secara keseluruhan, Argentina unggul penguasaan bola 53-47, mencatatkan shots on target 7-5, serta total tembakan 16 banding 11. Akurasi passing La Albiceleste mencapai 87 persen, sedikit lebih efisien daripada 84 persen milik Prancis. Duel udara juga dimenangkan Argentina dengan angka 58 persen, bukti dominasi fisik Cristian Romero dan Nicolás Otamendi di jantung pertahanan.
Kericuhan di Lorong Pemain: Paredes Jadi Titik Pemicu
Masalah baru saja dimulai ketika para pemain meninggalkan lapangan. Dilaporkan sejumlah media di lokasi, Paredes berhenti di depan rombongan ofisial Prancis, terlibat adu mulut, lalu melempar botol air ke arah bangku cadangan Les Bleus. Situasi cepat memanas. Pemain dan staf kedua tim saling dorong, polisi dan petugas keamanan harus turun tangan, dan prosesi penyerahan trofi tertunda hampir sepuluh menit.
"Emosi di final memang selalu membara, tetapi tindakan seperti itu tidak bisa dibenarkan. Kami menyerahkan semuanya kepada komite disiplin FIFA," ujar Deschamps dalam konferensi pers pascapertandingan.
Scaloni berusaha meredam situasi. "Leandro adalah pejuang. Kadang emosinya meluap, tapi ia mencintai tim ini. Kita tunggu keputusan FIFA," tuturnya. Kabar dari markas FIFA menyebut komite disiplin telah membuka perkara dan meminta rekaman CCTV lorong stadion sebagai bahan penyelidikan.
Sanksi Mengintai Sang Gelandang
Ini bukan pertama kalinya Paredes tersandung masalah disiplin di panggung besar. Insiden 2022 lalu, ketika ia menendang keras bola ke arah bangku cadangan Belanda di perempatfinal, masih segar di ingatan publik. Jika dinyatakan bersalah, gelandang berusia 32 tahun ini berpotensi mendapat denda signifikan plus larangan tampil untuk beberapa pertandingan internasional ke depan.
Gelar juara dunia keempat sudah di tangan Argentina, Messi kembali menorehkan sejarah, tetapi sorotan pagi ini justru tertuju pada satu nama: Leandro Paredes. Dari pahlawan rotasi menjadi headline negatif dalam hitungan menit — sepak bola memang bisa berubah arah secepat itu.
Comments (0)