Enam Bintang Liga Inggris Peraih Golden Boy, Tiga Berseragam Manchester United
Skor akhir 3-1 untuk Manchester United atas Liverpool di Old Trafford, 12 September 2015, menjadi panggung sempurna bagi seorang remaja berusia 19 tahun. Menit ke-86, Anthony Martial yang baru saja ma...
Skor akhir 3-1 untuk Manchester United atas Liverpool di Old Trafford, 12 September 2015, menjadi panggung sempurna bagi seorang remaja berusia 19 tahun. Menit ke-86, Anthony Martial yang baru saja masuk menggantikan rekan setimnya melepaskan tembakan melengkung dari tepian kotak penalti — satu-satunya shots on target yang ia butuhkan untuk mencuri perhatian seluruh stadion. Gol debut itu bukan sekadar drama rutin Liga Inggris; hanya beberapa hari sebelumnya, anak asuh Louis van Gaal itu resmi dinobatkan sebagai pemenang Golden Boy 2015, penghargaan yang dianugerahkan media Italia Tuttosport kepada pemain U-21 terbaik Eropa sejak 2003. Menelusuri daftar peraihnya, terdapat enam nama yang kariernya bersinggungan dengan Liga Inggris, dan tiga di antaranya tercatat di buku sejarah Manchester United.
Rooney dan Fabregas, Sang Perintis
Wayne Rooney menjadi penerima perdana pada 2003 saat masih membela Everton. Sebenarnya namanya sudah bergemuruh sejak Oktober 2002, ketika gol dari luar kotak penalti di menit akhir mengalahkan Arsenal dan mengakhiri rangkaian 30 pertandingan tak terkalahkan The Gunners — semua itu dilakukannya di usia 16 tahun. Setelah pindah ke Old Trafford pada 2004, Rooney menjelma menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub dengan 253 gol, disertai lima gelar Premier League dan satu Liga Champions. Nama lain yang istimewa adalah Cesc Fabregas, satu-satunya pemain yang merebut Golden Boy dua kali, pada 2004 dan 2006. Kapten Arsenal di usia 21 tahun itu mencetak 15 gol di Premier League musim 2009/2010, ditambah deretan assist dua angka yang membuat formasi 4-3-3 Arsenal mengalir begitu tajam.
Anderson dan Balotelli, Gelar Pahit-Manis
Tahun 2008 milik Anderson. Gelandang Brazil itu meraih penghargaan saat sudah berseragam Manchester United, dan ia bahkan turut tampil pada final Liga Champions 2008 di Moskow — termasuk menjalankan tugas sebagai eksekutor penalti yang sukses sebelum timnya mengangkat trofi. Sayang, statistik liga tidak secerah itu: hanya sembilan gol dari 181 penampilan di semua kompetisi. Kisah serupa dialami Mario Balotelli, pemenang 2010 yang kemudian berlabuh di Manchester City. Striker kontroversial itu membukukan 30 gol dari 80 laga untuk City, termasuk dua gol saat menumbangkan Manchester United 6-1 di Old Trafford pada Oktober 2011, ditambah 13 gol liga saat City juara Premier League 2011/2012. Namun disiplin menjadi musuh terbesarnya; kartu merah yang ia terima saat melawan Arsenal pada April 2012 nyaris meruntuhkan mimpi gelar timnya di penghujung musim.
Sterling, Mahkota 2014 di Anfield
Raheem Sterling mengangkat Golden Boy 2014 dalam usia 20 tahun, tepat pada musim keempat sekaligus terakhirnya bersama Liverpool. Menjadi bagian tetap starting XI Brendan Rodgers yang mengandalkan penguasaan bola tinggi lewat formasi diamond, winger cepat ini mencetak 10 gol pada 2013/2014 saat The Reds nyaris menyabet gelar liga, lalu menyusul dengan 11 gol pada 2014/2015 — dua musim beruntun dengan angka pencetak gol dua digit. Gerakan di belakang lini pertahanan lawan menjadi spesialisasinya; ia berlari lincah tanpa kerap terjebak posisi offside. Kepercayaan dirinya memuncak ketika Manchester City merekrutnya dengan mahar 49 juta pound, rekor termahal bagi pemain Inggris saat itu. Di Etihad ia membuktikan kelasnya: 131 gol dari 339 penampilan, termasuk 20 gol liga pada musim 2019/2020.
Martial dan Dominasi Merah Setan
Martial menyusul Sterling setahun kemudian, dan Manchester United tak ragu membayar 36 juta pound — berpotensi membengkak hingga 58 juta — untuk menggaetnya dari Monaco. Gol debut di menit ke-86 melawan Liverpool tadi menjadi prolog sempurna: musim perdananya ditutup dengan 17 gol di semua kompetisi. Hingga menutup babaknya di Old Trafford, striker Prancis itu mengoleksi 90 gol dari 317 penampilan. Dengan Rooney (2003), Anderson (2008), dan Martial (2015), Manchester United menjadi klub Liga Inggris dengan keterkaitan terbanyak terhadap Golden Boy — tiga nama, lebih banyak dari klub mana pun di Inggris, sekaligus bukti betapa kuat magnet Old Trafford bagi generasi muda terbaik Eropa.
Daftar pemenang Golden Boy memang tidak selalu menjadi ramalan pasti, bahkan di era VAR sekalipun. Ada yang menjelma megabintang seperti Rooney, ada pula yang pudar seperti Anderson. Namun satu hal pasti: gelar ini selalu menjadi penanda lahirnya salah satu babak paling menarik dalam sejarah sepak bola Eropa — dan Liga Inggris, dengan segala kilau kompetisinya, telah menjadi panggung utama bagi enam kisah emas tersebut.
Comments (0)