Debut BUMN Baru Perminas Garap Logam Tanah Jarang Bareng India
PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), badan usaha milik negara yang baru dibentuk di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), langsung tancap gas denga
PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), badan usaha milik negara yang baru dibentuk di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), langsung tancap gas dengan menggenggam proyek besar pertamanya. Perseroan akan menjalin kerja sama strategis dengan dua entitas asal India, Midwest Limited dan Non-Ferrous Materials Technology Development Centre, untuk menggarap hilirisasi logam tanah jarang atau rare earth di Tanah Air.
Kesepakatan tersebut diteken di sela-sela pertemuan bilateral antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Momentum ini menjadi penanda resmi masuknya Perminas ke panggung industri mineral nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok logam tanah jarang global yang selama ini masih didominasi oleh sejumlah negara.
“Saat ini kami bersama Perminas sedang melakukan penjajakan teknologi terkait hilirisasi, khususnya untuk proses pemisahan dan pemurnian mineral tanah jarang. Kerja sama ini sangat strategis karena India memiliki pengalaman dan teknologi yang mumpuni di sektor tersebut,” ujar Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto.
Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang menjadi komponen vital dalam berbagai produk teknologi tinggi, mulai dari baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga perangkat elektronik dan sistem pertahanan. Selama ini, Indonesia dikenal memiliki cadangan mineral tanah jarang yang cukup besar, terutama sebagai produk sampingan dari penambangan timah dan bauksit, namun kemampuan pengolahan dan pemurniannya masih terbatas.
Kehadiran Perminas diharapkan mampu mengubah lanskap tersebut. Dengan menggandeng mitra dari India yang telah lama mengembangkan pusat teknologi material non-besi, BUMN baru ini akan fokus membangun fasilitas pemisahan dan pemurnian di dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang melarang ekspor mineral mentah dan mendorong terciptanya nilai tambah melalui industrialisasi di sektor pertambangan.
Dalam kerja sama ini, Midwest Limited akan berperan sebagai mitra investasi dan alih teknologi, sementara Non-Ferrous Materials Technology Development Centre menyediakan dukungan riset serta pengembangan sumber daya manusia. Ketiga pihak sepakat untuk segera memulai studi kelayakan dan menentukan lokasi pabrik pengolahan yang akan dibangun di salah satu wilayah dengan potensi logam tanah jarang terbesar di Indonesia.
Pembentukan Perminas sendiri merupakan amanat dari BPI Danantara, lembaga investasi baru yang bertujuan mengkonsolidasikan dan mengoptimalkan pengelolaan aset-aset BUMN di sektor strategis. Dengan proyek debutnya ini, Perminas langsung dihadapkan pada tantangan besar sekaligus peluang emas untuk membawa Indonesia menjadi pemain kunci dalam industri logam tanah jarang dunia. Informasi ini dihimpun dari laporan yang diterima redaksi Beritainti.com.
Comments (0)