Dari Dapur ke Kompos, Gerakan Warga Kurangi Sampah Organik
Upaya mengurangi timbunan sampah sejak dari sumber kini digelorakan oleh warga di kawasan Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Melalui inisiatif bernama Kompos Keliling, warga mengubah sisa dapur seperti
Upaya mengurangi timbunan sampah sejak dari sumber kini digelorakan oleh warga di kawasan Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Melalui inisiatif bernama Kompos Keliling, warga mengubah sisa dapur seperti potongan sayur, kulit buah, dan sisa makanan menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Gerakan ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif tentang pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Program yang dimulai sejak awal tahun 2025 ini digerakkan oleh sekelompok warga yang tergabung dalam paguyuban lingkungan. Setiap pagi, mereka berkeliling ke rumah-rumah warga yang telah mendaftar sebagai peserta, mengumpulkan ember berisi sampah organik yang sudah dipisahkan. Sampah tersebut kemudian diolah di pusat pengomposan komunal yang terletak di lahan sempit bekas ruang terbuka hijau yang dibangun kembali. Dengan teknik pengomposan aerob sederhana yang difasilitasi oleh pendamping dari Dinas Lingkungan Hidup setempat, tumpukan sampah organik berubah menjadi kompos matang dalam waktu tiga hingga empat minggu.
"Awalnya saya skeptis, mampukah kita mengajak banyak rumah tangga memisahkan sampah dengan disiplin. Ternyata setelah berjalan enam bulan, antusiasme warga melampaui ekspektasi. Kini lebih dari 120 kepala keluarga terlibat aktif," ujar Retno Wulandari, salah satu penggagas Kompos Keliling kepada media kami di sela kegiatan pengumpulan pada Rabu pagi (10/8/2025).
Dampak Nyata di Tingkat Rumah Tangga
Berdasarkan laporan yang diterima media kami, program ini berhasil memangkas volume sampah domestik yang dibuang ke TPS hingga hampir 40% di lingkungan RT 03 dan RT 04 yang menjadi percontohan. Setiap keluarga rata-rata menghasilkan 1,5–2 kilogram sampah organik per hari, yang sebelumnya hampir seluruhnya berakhir di truk pengangkut sampah. Kini, limbah tersebut disulap menjadi kompos yang digunakan untuk memupuk taman-taman vertikal, kebun toga, dan tanaman hias di sepanjang jalan lingkungan.
Keterlibatan ibu-ibu rumah tangga menjadi kunci sukses program ini. Mereka tak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga aktif mengikuti pelatihan pembuatan kompos skala rumah tangga. Bahkan, sebagian dari mereka mulai memproduksi kompos secara mandiri menggunakan ember tumpuk yang disubsidi oleh perusahaan swasta melalui program tanggung jawab sosial (CSR).
"Biasanya sisa sayur dan kulit telur langsung dibuang, baunya bikin tidak nyaman. Sekarang tinggal kumpulkan di ember tertutup di dapur, tiap pagi petugas keliling ambil. Rumah jadi lebih bersih, bebas lalat, dan saya dapat jatah kompos gratis untuk tanaman cabe di depan rumah," tutur Sari, warga RT 04 yang telah menjadi peserta sejak bulan pertama.
Dukungan Lintas Sektor dan Perluasan Inisiatif
Keberhasilan Gandaria Utara menarik perhatian sejumlah pihak. Pemerintah Kota Jakarta Selatan, melalui laporan terbaru yang diperoleh media kami, berencana mereplikasi model Kompos Keliling ke lima kelurahan lain yang memiliki karakteristik pemukiman padat serupa. Dukungan anggaran untuk pengadaan mesin pencacah, bioaktivator, dan sarana pengangkut sederhana mulai dialokasikan dalam APBD perubahan tahun ini.
Selain itu, kerja sama dengan startup pengelolaan limbah menambah nilai ekonomi dari gerakan lingkungan ini. Kompos yang dihasilkan kini dikemas dengan merek lokal dan dijual ke toko tanaman hias serta komunitas urban farming di Jakarta. Keuntungan dari penjualan dikembalikan ke kas paguyuban untuk membiayai operasional dan pengembangan program, termasuk rencana mengintegrasikan budidaya maggot untuk mengurai sisa makanan yang sulit dikomposkan.
"Kami berharap ini bukan sekadar tren musiman. Yang lebih penting adalah membangun sistem agar kebiasaan memilah dari rumah menjadi budaya baru. Kalau setiap rumah tangga bertanggung jawab atas sampahnya sendiri, maka taman-taman hijau di kota ini tidak akan lagi dikelilingi gunungan sampah," tegas Retno, menutup perbincangan dengan media kami.
Para pegiat lingkungan menilai inisiatif berbasis komunitas seperti Kompos Keliling menjadi bukti bahwa pengurangan sampah bisa dimulai dari unit terkecil masyarakat. Jika dikelola secara konsisten dan didukung kebijakan yang berpihak, gerakan dari dapur ke kompos ini mampu menjawab problem akut persampahan kota metropolitan tanpa harus bergantung semata pada infrastruktur mahal di hilir.
Comments (0)