China Kembali Luncurkan Rudal dari Kapal Selam Nuklir di Pasifik, AS Sebut Eskalasi Sangat Mengkhawatirkan
Washington – Ketegangan strategis di kawasan Indo-Pasifik kembali mencuat setelah Beijing melakukan uji coba peluncuran rudal dari kapal selam bertenaga nuklir di perairan Samudra Pasifik. Langkah
Washington – Ketegangan strategis di kawasan Indo-Pasifik kembali mencuat setelah Beijing melakukan uji coba peluncuran rudal dari kapal selam bertenaga nuklir di perairan Samudra Pasifik. Langkah militer terbaru ini sontak menuai reaksi keras dari Washington. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan keprihatinan mendalam dan menyebut manuver tersebut sebagai indikasi yang sangat mengkhawatirkan dari perlombaan senjata modern yang terus digenjot oleh Negeri Tirai Bambu.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami pada Selasa (7/7), uji coba yang berlangsung pada Senin (6/7) waktu setempat itu melibatkan peluncuran rudal dari kapal selam nuklir Tipe 094 milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Ini merupakan eskalasi signifikan yang terjadi hanya berselang dua tahun sejak China mengejutkan dunia dengan menembakkan rudal balistik antarbenua (ICBM) ke zona ekonomi eksklusif dekat Polinesia Prancis. Insiden dua tahun silam itu tercatat sebagai peluncuran perdana senjata strategis China di atas perairan internasional dalam kurun waktu lebih dari empat dekade.
“Kami melihat ini sebagai bagian dari pola ekspansi kemampuan ofensif China yang sangat mengkhawatirkan. Pengembangan kemampuan peluncuran dari laut ini secara langsung mengubah kalkulasi keamanan di kawasan, dan berpotensi membahayakan kepentingan sekutu kami,” demikian pernyataan seorang pejabat tinggi pertahanan AS yang dikutip media kami.
Para analis militer dan keamanan kawasan menilai bahwa serangkaian uji coba tersebut bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan sinyal kuat bahwa China telah mencapai lompatan teknologi dalam mewujudkan doktrin triad nuklir yang kredibel. Kemampuan meluncurkan rudal dari kapal selam nuklir adalah komponen paling krusial dalam deterens nuklir karena sifatnya yang senyap dan sulit dideteksi. Dengan keberhasilan uji coba ini, para analis meyakini bahwa China kini memiliki kapabilitas untuk mengancam langsung daratan Amerika Serikat dari berbagai titik di lautan lepas.
Sikap Washington yang tegas ini muncul di tengah kompleksitas hubungan bilateral di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Meskipun ada upaya rekonsiliasi dagang dan diplomatik, Pentagon tetap menempatkan China sebagai "musuh utama" dalam lanskap geopolitik global. Pentagon menekankan bahwa perluasan jangkauan senjata strategis Beijing ini berpotensi mempersempit ruang gerak dan dominasi angkatan laut AS yang selama ini tak tertandingi di Pasifik.
Lebih lanjut, pengamat memperkirakan bahwa insiden ini akan memicu babak baru perlombaan senjata bawah laut. Amerika yang telah lebih dulu matang dengan armada kapal selam kelas Ohio diperkirakan akan meningkatkan patroli deterens di kawasan Pasifik Selatan. Di sisi lain, aktivitas uji coba rudal yang melintasi zona internasional ini juga memantik pertanyaan mengenai mekanisme peringatan dini dan diplomasi pencegahan konflik di jalur pelayaran yang sangat padat. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Pertahanan China belum memberikan pernyataan resmi secara terbuka, namun media pemerintah sebelumnya kerap menegaskan bahwa modernisasi militer tersebut adalah hak kedaulatan yang sah dan bertujuan defensif murni, bukan untuk mengancam negara lain. Ketegangan ini kembali menegaskan bahwa perdamaian di era modern sangat bergantung pada keseimbangan kekuatan yang semakin rapuh di lautan.
Comments (0)