Oct 11, 2026
Olahraga

Blatter dan Platini Kembali Bebas di Banding Kasus Korupsi Swiss

Menit akhir babak perpanjangan hukum akhirnya berbunyi. Sepp Blatter dan Michel Platini keluar dari gedung pengadilan di Muttenz, dekat Basel, Swiss, pada Selasa, 25 Maret 2025, dengan status bebas pe...

Blatter dan Platini Kembali Bebas di Banding Kasus Korupsi Swiss

Menit akhir babak perpanjangan hukum akhirnya berbunyi. Sepp Blatter dan Michel Platini keluar dari gedung pengadilan di Muttenz, dekat Basel, Swiss, pada Selasa, 25 Maret 2025, dengan status bebas penuh. Pengadilan banding Swiss menolak tuntutan Kejaksaan Agung negara itu, sekaligus mengonfirmasi putusan awal yang membebaskan kedua tokoh sepak bola dunia tersebut dari dugaan pembayaran palsu. Skor akhir: 2-0 untuk Blatter dan Platini atas dakwaan korupsi.

Momen kunci tercipta bukan di lapangan, melainkan di ruang sidang. Blatter, mantan presiden FIFA yang menjabat 1998-2015, dan Platini, eks ketua UEFA sekaligus legenda timnas Prancis, langsung menyampaikan pernyataan kepada media begitu meninggalkan gedung. Keduanya menyebut proses hukum ini sebagai pertandingan panjang yang menguras energi, dengan total durasi investigasi lebih dari sembilan tahun.

Kronologi Kasus: Dari Pembayaran Rp30 Miliar ke Meja Hijau

Semua berawal dari transfer senilai 2 juta franc Swiss—setara sekitar Rp30 miliar—yang mengalir dari FIFA ke rekening Platini pada 2011. Jaksa menduga pembayaran itu tidak sah dan dibungkus sebagai honor konsultasi. Dalam persidangan, Blatter dan Platini bersikeras menyatakan uang tersebut merupakan sisa gaji yang tertunda atas jasa Platini sebagai penasihat Blatter antara 1998 dan 2002.

Pengadilan negeri membebaskan keduanya pada Juli 2022. Namun Kejaksaan Agung Swiss mengajukan banding, membuka babak kedua yang berlangsung hingga awal 2025. Sama seperti pertandingan dengan agregat, putusan banding ini menegaskan keunggulan pihak pembela. Tidak ada kartu merah, tidak ada gol penalti, hanya clean sheet bagi kedua terdakwa.

Perlu dicatat, penguasaan bola statistik kasus ini dikuasai jaksa sejak awal. Investigasi Swiss dibuka pada 2015, bersamaan dengan skandal FIFA yang mengguncang dunia. Sejumlah pejabat FIFA ditangkap, kongres diganggu, dan reputasi organisasi jatuh ke titik terendah. Blatter lalu diskors dari aktivitas sepak bola selama delapan tahun oleh komite etik FIFA, sementara Platini juga terkena larangan serupa. Namun putusan pidana Swiss kini berjalan di jalur berbeda: bebas murni.

Analisis Pemain: Blatter dan Platini di Babak Akhir

Dari sisi formasi hukum, tim pembela menurunkan strategi sederhana namun efektif: konsistensi keterangan. Keduanya sejak awal menolak semua tuduhan dan tidak pernah mengubah narasi soal kesepakatan lisan gaji tertunda. Jaksa berusaha menekan dengan dokumen kontrak tertulis, tetapi pengadilan menilai bukti tersebut tidak cukup membuktikan niat jahat.

Blatter, kini berusia 89 tahun, tampil sebagai figur yang tenang. "Saya sudah bilang sejak awal, saya tidak bersalah. Hari ini pengadilan membuktikannya," ujarnya usai sidang, dikutip dari pemberitaan internasional. Platini, 69 tahun, menyebut keputusan ini sebagai pemulihan nama baiknya. "Saya menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang tuduhan palsu," katanya.

Secara statistik karier, keduanya tetap tercatat sebagai tokoh besar. Platini mengoleksi 41 gol dalam 72 penampilan bersama timnas Prancis dan tiga Ballon d'Or berturut-turut pada 1983-1985. Blatter memimpin FIFA melalui lima siklus Piala Dunia, termasuk edisi 2010 di Afrika Selatan dan 2014 di Brasil. Namun warisan keduanya kini bercampur: prestasi administratif versus noda skorsing etik yang tak pernah dicabut.

Dampak ke Sepak Bola Global dan Babak Selanjutnya

Putusan ini tidak menghapus sanksi etik FIFA. Blatter dan Platini tetap tercatat pernah diskors dari dunia sepak bola, meski sudah selesai menjalaninya. Artinya, secara hukum pidana Swiss keduanya bersih, tetapi secara tata kelola olahraga mereka masih membawa catatan sejarah. Ini situasi ganjil yang mirip pemain dengan rekor bersih di liga, namun tetap dilarang tampil di kompetisi internasional.

Bagi FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, keputusan ini menjadi pengingat bahwa era sebelumnya masih menghantui. Kasus ini juga menyoroti batas antara kesepakatan lisan dan kontrak formal dalam organisasi olahraga bernilai miliaran dolar. Tanpa dokumen rapi, tuduhan korupsi sulit dibuktikan di pengadilan, sekalipun secara etika terasa janggal.

Kejaksaan Agung Swiss kini punya opsi terakhir: mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Federal. Namun peluangnya tipis, karena putusan banding sudah bulat. Bila tidak ada langkah hukum baru, maka pertandingan panjang ini benar-benar usai. Blatter dan Platini menutup karier mereka bukan dengan trofi, melainkan dengan lembar putusan pengadilan yang menyatakan mereka bebas dari dugaan pembayaran palsu. Skor akhir tetap 2-0, dan wasit telah meniup peluit panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User