Biang Kerok Banjir Kepung Surabaya Saat Kemarau: Alih Fungsi Lahan hingga Sampah
Beritainti.com, Jakarta – Hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya, Jawa Timur, selama dua hari berturut-turut memicu genangan dan banjir di puluhan titik. Ironisnya, bencana hidrometeorologi ini t
Beritainti.com, Jakarta – Hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya, Jawa Timur, selama dua hari berturut-turut memicu genangan dan banjir di puluhan titik. Ironisnya, bencana hidrometeorologi ini terjadi justru saat Indonesia seharusnya memasuki puncak musim kemarau. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, angkat bicara dan membeberkan sederet faktor yang menjadi biang kerok di balik bencana yang mengepung Kota Pahlawan tersebut.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami pada Rabu (24/6/2026), intensitas hujan ekstrem yang berlangsung sejak awal pekan membuat sistem drainase perkotaan kewalahan. Puluhan titik lokasi, mulai dari jalan protokol hingga kawasan permukiman padat penduduk, dilaporkan terendam air dengan ketinggian bervariasi. Situasi ini langsung memicu kemacetan panjang dan melumpuhkan aktivitas warga yang tengah beraktivitas di hari kerja.
Dalam konferensi pers yang digelar secara mendadak, Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh warga Surabaya. “Saya mohon maaf kepada warga Surabaya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saat ini kami bekerja maksimal di lapangan,” ujar Eri. Ia menegaskan bahwa jajarannya bersama petugas gabungan telah dikerahkan untuk melakukan penyedotan air, pembersihan saluran, serta evakuasi warga di titik-titik rawan.
Tiga Faktor Utama Pemicu Banjir di Tengah Musim Kering
Eri Cahyadi merinci, setidaknya terdapat tiga penyebab krusial yang membuat air kiriman dan hujan lokal tidak mampu tertangani dengan baik. Pertama, ia menyoroti masih maraknya penyempitan saluran air dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali di area tangkapan air. Banyaknya betonisasi dan pembangunan permukiman di wilayah resapan membuat air hujan meluncur langsung ke jalan tanpa sempat terserap ke dalam tanah. Kedua, sedimentasi dan penumpukan lumpur di saluran primer membuat kapasitas tampung berkurang drastis.
Faktor ketiga sekaligus yang paling disorot adalah persoalan klasik berupa perilaku masyarakat dalam membuang sampah. Eri menyebut bahwa tumpukan sampah yang menyumbat rumah-rumah pompa dan saluran drainase menjadi pemicu signifikan mengapa genangan di Surabaya sulit surut meski hujan telah reda. “Kita terus berbenah, tapi kalau sampah masih dibuang sembarangan dan menyumbat aliran, pompa secanggih apapun tidak akan mampu mengatasi debit air setinggi ini,” tegasnya.
Pemerintah Kota Surabaya berjanji akan mempercepat program normalisasi saluran, menggencarkan pengerukan sedimentasi, serta menambah kapasitas rumah pompa di kawasan langganan banjir. Meski demikian, Eri mengakui bahwa tantangan terbesar tetap berada pada kesadaran kolektif warga untuk menjaga kebersihan sistem drainase serta menghentikan praktik pendirian bangunan liar di atas saluran air.
Comments (0)