BI Ungkap Biang Kerok Dolar AS Kembali Tembus Rp 18.000
Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun media kami, mata uang Garuda sempat menyentuh level
Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun media kami, mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (6/7/2026) kemarin.
Secara intraday, dolar AS tercatat menguat hingga mencapai level Rp 18.009 sekitar pukul 14.12 WIB, menandai salah satu pelemahan terdalam rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, Selasa (7/7/2026), rupiah masih berada dalam zona merah di posisi Rp 17.992 per dolar AS, atau melemah 3 poin setara 0,02%.
Sinyal Hawkish The Fed Jadi Pemicu Utama
Bank Indonesia (BI) melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Ramdan Denny Prakoso, memberikan penjelasan terkait gejolak yang menimpa mata uang nasional. Menurutnya, pergerakan rupiah kali ini tidak terlepas dari dinamika kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
"Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga federal funds di level 3,5% hingga 3,75% pada 17 Juni lalu," ujar Ramdan dalam keterangannya yang dikutip media kami, Selasa (7/7/2026).
Meskipun suku bunga ditahan, ekspektasi pasar justru bergerak ke arah yang berlawanan. Para pelaku pasar menangkap adanya sinyal kuat dari sejumlah pejabat The Fed bahwa kenaikan suku bunga acuan masih akan berlanjut di masa mendatang. Persepsi inilah yang kemudian memicu pelarian modal ke aset-aset berbasis dolar AS, menekan nilai tukar rupiah dan berbagai mata uang negara berkembang lainnya.
Laporan dari meja perdagangan mengonfirmasi bahwa sentimen risk-off kembali mendominasi pasar keuangan global. Investor cenderung mencari tempat berlindung yang lebih aman di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS yang masih cenderung restriktif. Hal ini tercermin dari penguatan indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor eksternal lainnya, termasuk kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global yang berpotensi menurunkan permintaan terhadap komoditas ekspor unggulan Indonesia. Situasi ini menempatkan otoritas moneter dalam posisi siaga untuk terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna meredam volatilitas yang berlebihan.
Bank Indonesia sendiri terus berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental perekonomian nasional. Sejumlah instrumen kebijakan, termasuk operasi moneter dan intervensi ganda, telah disiapkan untuk memastikan agar gejolak ini tidak berdampak sistemik terhadap perekonomian domestik.
Comments (0)