BALI — Belanja Kuliner Wisman Tembus Rp7 Triliun

Aroma bumbu rajang, kepulan asap sate lilit di pinggir jalan, hingga sajian kopi spesialitas di kawasan pesisir kini bukan sekadar pengisi perut kosong bag

Sep 17, 2026 - 09:32
0 0
BALI — Belanja Kuliner Wisman Tembus Rp7 Triliun

Aroma bumbu rajang, kepulan asap sate lilit di pinggir jalan, hingga sajian kopi spesialitas di kawasan pesisir kini bukan sekadar pengisi perut kosong bagi para pelancong mancanegara. Sektor kuliner atau food and beverage (F&B) di Pulau Dewata telah bertransformasi menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi paling perkasa. Data terbaru mencatatkan fenomena fantastis: nilai belanja kuliner wisatawan mancanegara (wisman) di Bali berhasil menembus angka Rp7 triliun. Angka megah ini menegaskan bahwa daya tarik Bali kini tidak lagi terbatas pada keindahan alam dan keagungan budaya, melainkan telah merambah kuat ke ranah gastronomi.

Ketergantungan industri F&B lokal terhadap arus wisatawan asing terbukti sangat signifikan. Fenomena ini sekaligus menandai pergeseran mendasar dalam pola konsumsi wisatawan global yang menjadikan petualangan rasa sebagai agenda utama perjalanan mereka, bukan lagi sekadar kebutuhan sampingan saat berlibur.

Transformasi F&B: Dari Pelengkap Menjadi Magnet Utama

Perubahan perilaku konsumen internasional ini selaras dengan temuan nasional. Kementerian Pariwisata mencatat bahwa sebanyak 58,34 persen wisman yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2025 aktif melakukan aktivitas wisata kuliner atau gastronomi. Bali, sebagai episentrum pariwisata nasional, menangkap porsi terbesar dari tren global tersebut. Industri kuliner tidak lagi dapat dipandang sebelah mata sebagai fasilitas pendukung hotel atau objek wisata belaka.

Ketua Bali Tourism Board (BTB), IB Agung Partha Adnyana, menegaskan pergeseran paradigma tersebut. Menurut sosok yang akrab disapa Gus Agung ini, bisnis kuliner telah berintegrasi secara mendalam ke dalam esensi pengalaman berlibur para pelancong modern.

“F&B sekarang sudah menjadi bagian dari destination experience, bukan sekadar pelengkap pariwisata. Wisatawan datang ke Bali juga untuk mencari pengalaman kuliner, kopi, dan budaya,” ujar Gus Agung dalam keterangannya pada Rabu (16/9).

Pengendalian Mutu dan Tantangan Tata Ruang

Pertumbuhan pesat kafe, bistro, dan restoran modern di seluruh penjuru Bali membawa dampak ganda. Di satu sisi, investasi mengalir deras dan menciptakan lapangan kerja baru. Namun di sisi lain, laju pembangunan yang masif menimbulkan tantangan besar terkait tata ruang, keberlanjutan lingkungan, hingga potensi pergeseran nilai lokal. Gus Agung menggarisbawahi bahwa kunci keberlanjutan sektor ini bukan terletak pada pengetatan izin atau pembatasan kuantitas usaha baru, melainkan pada kontrol kualitas dan keselarasan dengan karakter destinasi.

Tata ruang yang terkendali, pengolahan limbah yang bertanggung jawab, serta standar kebersihan yang ketat menjadi syarat mutlak agar ekspansi bisnis F&B tidak merusak citra Bali. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal dan keberanian untuk mengintegrasikan pasokan bahan baku dari petani serta nelayan lokal harus menjadi fokus utama para pelaku usaha modern.

Mengangkat Derajat Kuliner Tradisional Bali

Perputaran uang bernilai Rp7 triliun tersebut dipandang perlu dirasakan distribusinya secara merata. Hasil ekonomi ini diharapkan tidak hanya mengendap di kantong pengusaha restoran berskala internasional atau jaringan waralaba global, tetapi juga menggerakkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pedagang tradisional. Kuliner autentik Bali memiliki daya tawar tinggi dan diferensiasi unik yang tidak dimiliki oleh destinasi internasional lainnya.

“Yang perlu kita tata bukan membatasi munculnya kafe atau restoran baru, tetapi memastikan pertumbuhannya tetap berkualitas dan sesuai dengan karakter Bali. Kuliner tradisional Bali harus kita naikkan kelasnya. Bukan hanya dilestarikan, tetapi dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang autentik, higienis, berkualitas,” tegas Gus Agung.

Strategi menaikkan kelas kuliner tradisional ini dinilai akan memperkuat rantai pasok ekonomi lokal. Ketika restoran kelas atas dan warung tradisional sama-sama menggunakan bahan baku lokal unggulan, maka petani, peternak, dan pengrajin bumbu lokal ikut merasakan manisnya kue pariwisata Bali. Peningkatan mutu penyajian dan narasi kebudayaan di balik setiap masakan Bali diyakini mampu menyerap anggaran belanja wisatawan jauh lebih efektif dan merata di masa mendatang.

Belanja kuliner wisman di Bali tembus Rp7 triliun! Sebanyak 58,34% wisman menjadikan petualangan rasa sebagai bagian utama liburan mereka. Simak analisis mendalam pergeseran tren F&B Bali di Beritainti.com: [Link]

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User