Argentina Singkirkan Swiss 2-1 Lewat Drama Akhir
Skor akhir 2-1 untuk Argentina memastikan langkah mereka ke semifinal Piala Dunia 2026. Di Stadion MetLife, New Jersey, La Albiceleste harus bersusah payah menundukkan Swiss yang tampil disiplin dan n...
Skor akhir 2-1 untuk Argentina memastikan langkah mereka ke semifinal Piala Dunia 2026. Di Stadion MetLife, New Jersey, La Albiceleste harus bersusah payah menundukkan Swiss yang tampil disiplin dan nyaris memaksa adu penalti. Gol penentu kemenangan dicetak Julian Alvarez pada menit ke-89, memanfaatkan kemelut di kotak penalti setelah tendangan sudut Lionel Messi.
Pertandingan sejak awal berjalan dengan intensitas tinggi. Argentina mendominasi penguasaan bola hingga 62%, tetapi Swiss membangun tembok pertahanan berlapis dengan formasi 5-4-1 yang sulit ditembus. Statistik shots on target Argentina hanya 4 dari 14 percobaan, sementara Swiss melepaskan 3 tembakan tepat sasaran dari 7 upaya. Kartu kuning pertama diberikan kepada bek Swiss, Manuel Akanji, pada menit ke-31 setelah melanggar Messi di tepi kotak penalti.
Babak Pertama: Tensi Tinggi dan Gol Pembuka via Penalti
Argentina langsung tancap gas. Menit ke-12, Messi melepaskan tendangan bebas melengkung yang masih bisa ditepis kiper Gregor Kobel. Swiss merespons lewat serangan balik cepat: Xherdan Shaqiri mengirim umpan terobosan ke Breel Embolo, namun Emiliano Martinez sigap keluar dari sarangnya.
Menit ke-34, momen krusial terjadi. Angel Di Maria dijatuhkan di kotak terlarang oleh Silvan Widmer. Wasit asal Brasil menunjuk titik putih. Messi maju sebagai eksekutor dan dengan dingin mengecoh Kobel, skor berubah 1-0. Itu adalah gol ke-14 Messi di Piala Dunia, menyamai rekor Miroslav Klose. Hingga turun minum, Argentina unggul 1-0 dengan total penguasaan bola 65% dan 8 tembakan.
Babak Kedua: Kejutan Swiss dan Gol Pamungkas Alvarez
Masuk babak kedua, Swiss meningkatkan pressing. Pelatih Murat Yakin memasukkan Noah Okafor untuk menambah daya gedor. Hasilnya, menit ke-58, umpan silang Remo Freuler dari sisi kanan disundul Embolo yang lepas dari kawalan Cristian Romero. Bola menghujam sudut atas gawang, Martinez tak berkutik. Skor imbang 1-1. Assist Freuler menjadi kunci, sementara Embolo mencatatkan gol ketiganya di turnamen ini.
Argentina sempat frustrasi. Dua peluang emas Lautaro Martinez membentur tiang dan mistar pada menit ke-67 dan 73. Pelatih Lionel Scaloni lantas memasukkan Thiago Almada dan Exequiel Palacios untuk menyegarkan lini tengah.
Ketika laga seolah mengarah ke perpanjangan waktu, sepak pojok Messi di menit ke-89 menciptakan kemelut. Kobel gagal meninju bola dengan sempurna. Bola liar jatuh ke kaki Alvarez yang dengan sontekan pendek menaklukkan kerumunan pemain di garis gawang. Gol tersebut dikonfirmasi VAR setelah sempat diragukan karena potensi offside. Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang.
Analisis Taktik dan Statistik Kunci
Kemenangan Argentina tidak lepas dari kejelian Scaloni mengubah formasi dari 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 di 25 menit terakhir, menempatkan Messi lebih ke dalam sebagai playmaker. Sementara itu, Swiss patut diberikan kredit atas disiplin defensif mereka. Statistik menunjukkan tekel sukses Swiss mencapai 22 kali berbanding 14 milik Argentina.
Dari segi operan, Argentina mencatatkan 587 umpan sukses dengan akurasi 88%, sedangkan Swiss hanya 312 umpan (78%). Namun, justru efektivitas serangan Swiss lebih tajam: setiap 3,3 tembakan mereka menghasilkan gol, sementara Argentina butuh 7 tembakan untuk satu gol.
Kartu kuning lainnya diberikan kepada Rodrigo De Paul (menit ke-76) dan Denis Zakaria (menit ke-82). Tidak ada kartu merah, meski tensi sempat memanas setelah gol Alvarez. Argentina akan menghadapi pemenang laga Brasil vs Maroko di semifinal.
"Kami tahu Swiss akan menyulitkan. Mereka punya organisasi pertahanan yang bagus. Tapi karakter pemain saya luar biasa, mereka pantang menyerah," ujar Scaloni dalam konferensi pers pasca-pertandingan.
Dengan hasil ini, Argentina menjaga asa mempertahankan gelar juara dunia. Swiss pulang dengan kepala tegak setelah memberikan perlawanan sengit hingga detik akhir.
Baca juga:
Comments (0)