AJI Sultra Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis Hilang di Krakatau
Komunitas jurnalis di Sulawesi Tenggara menggelar aksi solidaritas dan doa bersama untuk lima pewarta foto yang dilaporkan hilang kontak saat menjalankan t
Komunitas jurnalis di Sulawesi Tenggara menggelar aksi solidaritas dan doa bersama untuk lima pewarta foto yang dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik di kawasan perairan Selat Sunda, Banten. Aksi yang diprakarsai oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari ini menjadi manifestasi empati mendalam sekaligus wujud sokongan moril bagi keluarga korban serta tim pencari yang tengah bertaruh dengan waktu di lapangan.
Kelima jurnalis tersebut sebelumnya tengah meliput aktivitas vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sebelum akhirnya kehilangan kontak. Insiden ini memicu gelombang keprihatinan luas di kalangan praktisi media nasional, mengingat tingginya risiko yang membayangi kerja-kerja jurnalistik kebencanaan di wilayah perairan ekstrem.
Solidaritas Profesi dan Penguatan Moril
Ketua AJI Kendari, Nursadah, menegaskan bahwa perkumpulan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan bentuk ikatan profesi lintas daerah. Harapan terbesar tetap tertuju pada keselamatan para jurnalis, sembari terus memberikan dorongan psikologis bagi keluarga yang menanti kepastian informasi.
"Tentu kami berharap lima kawan kita itu bisa ditemukan dengan selamat dan kalaupun tidak, kita menerima bisa mengetahui titik keberadaannya," ujar Nursadah dalam keterangannya di Kendari.
Nursadah menambahkan bahwa dukungan moral juga dialamatkan secara khusus kepada Tim SAR gabungan dan instansi terkait yang menyisir perairan Selat Sunda. Upaya pencarian multisektoral—termasuk pelacakan sinyal telekomunikasi oleh kementerian terkait serta temuan serpihan logistik di laut—dinilai memerlukan dorongan energi positif agar proses evakuasi berjalan optimal.
Evaluasi Protokol dan Mitigasi Risiko Liputan Ekstrem
Insiden hilangnya lima jurnalis di zona rawan bencana vulkanik ini membuka kembali diskursus penting mengenai keselamatan kerja pers. Kerja jurnalistik di medan berbahaya menuntut kalkulasi risiko yang matang, bukan semata-mata kecepatan perolehan informasi visual atau eksklusivitas berita.
AJI Sultra menilai peristiwa ini harus menjadi momentum refleksi kolektif bagi seluruh insan pers dan perusahaan media di Indonesia. Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen vital penyelamat nyawa.
- Kaji Cepat Risiko (Risk Assessment): Setiap penugasan ke wilayah bencana aktif, seperti gunung berapi dan laut lepas, wajib melalui penilaian bahaya mutlak sebelum jurnalis diberangkatkan.
- Dukungan Logistik dan Alat Pelindung Diri: Perlengkapan keselamatan standar, seperti pelampung bersertifikasi, sistem pelacak darurat (PLB), dan alat komunikasi satelit, harus dipenuhi oleh manajemen media.
- Koordinasi Terpadu: Jurnalis lapangan dituntut untuk terus menjalin komunikasi berkala dengan posko pemantau resmi demi memitigasi potensi perubahan cuaca dan dinamika erupsi secara mendadak.
Keberanian di garis depan tidak boleh mengorbankan nyawa. Bagi komunitas jurnalis di Sulawesi Tenggara, peristiwa di Selat Sunda ini menjadi pengingat tegas: tidak ada berita seharga nyawa. Keselamatan jurnalis harus tetap ditempatkan sebagai prioritas tertinggi dalam ekosistem media modern.
Comments (0)