Air Mata Scaloni dan Akhir Era Messi di Timnas Argentina
Momen yang ditunggu sekaligus ditakuti seluruh pencinta sepak bola Argentina akhirnya tiba. Di ruang konferensi pers yang hening, Selasa (6/10), pelatih kepala Lionel Scaloni tak kuasa membendung air ...
Momen yang ditunggu sekaligus ditakuti seluruh pencinta sepak bola Argentina akhirnya tiba. Di ruang konferensi pers yang hening, Selasa (6/10), pelatih kepala Lionel Scaloni tak kuasa membendung air matanya saat mengumumkan bahwa laga terakhir Lionel Messi bersama timnas telah usai. Suasana ruangan mendadak berubah menjadi saksi bisu perpisahan sebuah era keemasan Albiceleste.
Scaloni, yang biasanya tampil tenang dengan analisis taktisnya, kali ini hanya bisa menundukkan kepala. Beberapa kali ia mengusap matanya dengan tisu sambil mencoba mengatur napas. "Saya tidak bisa berkata banyak," ujarnya dengan suara tercekat. "Hari ini bukan tentang taktik, bukan tentang formasi, bukan tentang starting XI. Hari ini tentang seorang manusia yang telah memberikan segalanya untuk negaranya."
Laga Penutup yang Penuh Emosi
Pertandingan itu sendiri sejatinya berjalan seperti laga internasional biasa. Kick-off dimulai pukul 20.30 waktu setempat, dengan penguasaan bola Argentina mendominasi di angka 64 persen. Messi, yang mengenakan ban kapten untuk kesekian kalinya, mencatat 3 shots on target, 4 key passes, dan satu assist cantik di menit ke-37. Namun angka-angka itu terasa tidak lagi menjadi inti cerita.
Menit ke-23 menjadi salah satu momen yang akan terus dikenang. Messi menerima bola di ruang sempit antara lini tengah dan pertahanan lawan, melewati dua pemain dengan gerakan khasnya, lalu melepaskan tendangan kaki kiri yang masih bisa dihalau kiper. Meski tidak berbuah gol, aksi itu mengingatkan publik pada versi terbaik La Pulga yang telah menghiasi sepak bola selama dua dekade terakhir.
Ketika wasit meniup peluit panjang, skor akhir tidak lagi menjadi perhatian utama. Para pemain lawan pun ikut memberi penghormatan. Beberapa di antaranya bahkan meminta tukar kaus dan berfoto bersama Messi di tengah lapangan. Momen itu seakan menegaskan bahwa yang baru saja berakhir bukan sekadar pertandingan, melainkan sebuah babak sejarah.
Scaloni dan Warisan Messi
Scaloni dan Messi memang bukan sekadar pelatih dan kapten. Sejak mengambil alih kursi kepelatihan pada 2018, Scaloni membangun kembali timnas Argentina di sekitar sosok Messi. Hasilnya terlihat nyata: clean sheet di banyak laga penting, koleksi trofi Copa America 2021, hingga puncak tertinggi Piala Dunia 2022. Di balik semua itu, Scaloni kerap menyebut Messi sebagai alasan mengapa proyeknya berhasil.
"Dia tidak hanya membuat kami menang, dia membuat kami percaya. Ketika Messi ada di lapangan, semua orang merasa mungkin. Itu warisan yang tidak bisa dihitung statistik," kata Scaloni dalam sesi tanya jawab.
Secara teknis, peran Messi dalam skema Scaloni memang unik. Ia tidak selalu bermain sebagai penyerang murni, melainkan sebagai false nine atau playmaker bebas yang menarik keluar dari tekanan. Dalam beberapa laga terakhir, ia bahkan turun lebih dalam untuk membantu distribusi bola, mencatat rata-rata 7,2 progressive passes per pertandingan. Kombinasi itu membuat Argentina sulit dibaca lawan.
Namun di balik kehebatan itu, usia dan beban bertahun-tahun kompetisi akhirnya berbicara. Cedera ringan yang sempat membayangi beberapa laga terakhir menjadi tanda bahwa tubuh Messi sudah sampai di titik jenuh. Meski demikian, ia tetap memaksa diri tampil karena satu alasan sederhana: cinta pada jersey albiceleste.
Apa yang Menanti Argentina?
Tanpa Messi, Argentina kini dihadapkan pada pertanyaan besar. Siapa yang akan menjadi tumpuan kreativitas? Siapa yang akan mengambil peran sebagai pemimpin di ruang ganti? Scaloni menyadari bahwa transisi ini tidak akan mudah. Namun ia menegaskan bahwa fondasi tim sudah dibangun lebih kuat dari sebelumnya.
"Kami sudah belajar hidup tanpa dia di beberapa laga. Tentu berbeda, tapi kami punya pemain yang siap. Yang penting sekarang adalah menghormati apa yang sudah dia lakukan, lalu melanjutkan perjalanan," ujar Scaloni.
Beberapa nama muda disebut siap mengambil alih. Ada gelandang kreatif yang musim ini mencatat 12 assist di level klub, ada pula penyerang sayap dengan kecepatan di atas rata-rata. Tapi siapa pun yang datang, bayang-bayang Messi akan selalu ada. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai standar tertinggi yang pernah dicapai sepak bola Argentina.
Konferensi pers ditutup tanpa sesi foto panjang. Scaloni berdiri, menghela napas, lalu meninggalkan ruangan. Di luar, ribuan suporter masih bernyanyi, mengabadikan nama Messi dalam chant yang akan terus terdengar di stadion-stadion seluruh dunia. Malam itu, sepak bola Argentina tidak hanya kehilangan seorang pemain, tetapi juga sebuah bagian dari jiwanya.
Comments (0)