Oct 10, 2026
Olahraga

Air Mata Messi di Monumental, Pesta Perpisahan 21 Tahun Bersama Argentina

Menit ke-90+3, wasit meniup peluit panjang. Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela, namun angka itu nyaris tak berarti dibanding apa yang terjadi setelahnya. Lionel Messi berdiri di tengah ling...

Air Mata Messi di Monumental, Pesta Perpisahan 21 Tahun Bersama Argentina

Menit ke-90+3, wasit meniup peluit panjang. Skor akhir 3-0 untuk Argentina atas Venezuela, namun angka itu nyaris tak berarti dibanding apa yang terjadi setelahnya. Lionel Messi berdiri di tengah lingkaran, kedua tangannya menutup wajah, bahunya bergetar. Estadio Monumental, Buenos Aires, Sabtu malam itu, bukan lagi sekadar stadion—ia menjadi altar perpisahan bagi seorang ikon yang telah mengabdi 21 tahun untuk La Albiceleste.

Messi turun sebagai starter dalam formasi 4-3-3 racikan Lionel Scaloni, berperan sebagai false nine yang bebas bergerak ke kanan dan ke tengah. Sepanjang 90 menit, ia mencatatkan 78 sentuhan bola, 4 key passes, dan 3 shots on target—statistik yang, untuk ukuran pemain berusia 38 tahun, tetap luar biasa. Penguasaan bola Argentina mencapai 64 persen, dengan 17 tembakan ke arah gawang lawan, sementara Venezuela hanya mampu membalas dengan 3 shots on target dari total 36 persen penguasaan bola.

Gol pembuka lahir pada menit ke-23. Menerima umpan terobosan dari Enzo Fernández, Messi menggiring bola melewati satu bek, lalu melepaskan tendangan kaki kiri dari tepi kotak penalti. Bola meluncur rendah ke sudut kanan gawang, tak terjangkau kiper. Monumental meledak. Itu adalah gol internasional ke-115 dalam kariernya—sebuah angka yang mengukuhkan posisinya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Argentina.

Babak Kedua: Assist dan Standing Ovation

Memasuki babak kedua, tempo Argentina sedikit menurun, tetapi Messi tetap menjadi poros permainan. Pada menit ke-58, ia mengirim assist cantik kepada Julián Álvarez, yang dengan tenang menaklukkan kiper Venezuela. Itu adalah assist ke-58 untuk tim nasional, menambah koleksi rekor yang nyaris mustahil dikejar pemain mana pun dalam satu generasi. Menit ke-71, Scaloni menarik Messi keluar. Seluruh stadion berdiri. Standing ovation berlangsung lebih dari dua menit, diselingi nyanyian “Muchachos” yang menggema dari tribun.

Di bangku cadangan, Messi terlihat menyeka matanya dengan jersey. Kamera menangkap momen ketika ia memeluk Scaloni erat, lalu menundukkan kepala. Tangis itu bukan tangis kekalahan—melainkan tangis perpisahan. Sebuah karier yang dimulai pada 2005, ketika seorang remaja berusia 17 tahun masuk sebagai pengganti melawan Hungaria dan langsung mendapat kartu merah, kini berakhir dengan 196 caps, lebih dari 800 gol di level klub dan negara, serta trofi Piala Dunia 2022 yang menjadi puncak segala-galanya.

Statistik 21 Tahun yang Nyaris Mustahil Diulang

Mari kita letakkan angka-angka itu di atas meja. Selama 21 tahun bersama timnas Argentina, Messi mencatatkan 196 penampilan, 115 gol, dan 58 assist. Ia melewati empat generasi pemain, tujuh pelatih berbeda, dan enam gelaran Copa América. Ia meraih Piala Dunia 2022 di Qatar, dua Copa América (2021, 2024), satu Finalissima, dan satu medali emas Olimpiade 2008. Dalam hal konsistensi, tidak ada pemain yang mampu menyamai rekornya: rata-rata 0,59 gol per pertandingan internasional—angka yang bahkan melampaui banyak striker murni.

Sepanjang laga perpisahan ini, Messi juga mencatatkan akurasi umpan 89 persen dan 6 dribel sukses dari 8 percobaan. Ia tidak hanya menjadi penyerang, tetapi juga playmaker, eksekutor bola mati, dan pemimpin mental di lapangan. Formasi 4-3-3 yang diterapkan Scaloni sengaja dirancang untuk memaksimalkan ruang gerak Messi, dengan Rodrigo De Paul dan Enzo Fernández sebagai pengangkut bola di lini tengah.

Warisan yang Tak Akan Pernah Pudar

Scaloni dalam konferensi pers seusai laga menyebut malam itu sebagai “malam yang tidak akan pernah saya lupakan.” Ia menambahkan, “Kami tidak hanya kehilangan seorang kapten. Kami kehilangan seorang maestro yang mengajarkan seluruh generasi bagaimana mencintai jersey ini.” Sementara itu, Messi sendiri hanya berkata singkat di mixed zone: “Saya sudah memberikan segalanya. Sepak bola memberi saya lebih dari yang pernah saya impikan.”

Malam di Monumental menjadi penutup babak paling gemilang dalam sejarah sepak bola Argentina. Bagi para penggemar, ini bukan sekadar pertandingan terakhir—ini adalah momen ketika mereka harus belajar merelakan. Tidak ada lagi nomor 10 yang menari di antara bek-bek lawan, tidak ada lagi tendangan bebas yang membuat seluruh stadion menahan napas. Yang tersisa hanyalah kenangan, trofi, dan rekaman gol yang akan diputar ulang selama beberapa generasi.

Argentina menang 3-0. Namun malam itu, skor akhir bukanlah hal utama. Yang utama adalah seorang pria yang menangis di tengah lapangan, dikelilingi 80 ribu orang yang berdiri menghormatinya. Sepak bola mungkin akan melahirkan bintang-bintang baru, tetapi tidak akan pernah ada Messi yang lain. 21 tahun, 196 caps, 115 gol—dan satu warisan yang abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User