Skor akhir 2-1 untuk Korea Selatan U-23. Stadion Toyota, Jepang tengah, Sabtu (3/10/2026) menjadi saksi bagaimana pasukan Taegeuk Warriors membungkam tuan rumah Jepang di partai final sepak bola putra Asian Games 2026. Kemenangan ini memastikan medali emas edisi kali ini melintasi Laut Timur, sekaligus mengulang memori manis 2023 ketika Korsel juga menundukkan Jepang di babak yang sama.
Laga berjalan sengit sejak menit pertama. Starting XI asuhan pelatih Hwang Sun-hong tampil dengan formasi 4-2-3-1, menempatkan Lee Kang-in sebagai playmaker di belakang striker tunggal Oh Se-hun. Jepang yang dilatih Go Oiwa memakai 4-3-3 dengan trio lini depan Takuma Nishimura, Mao Hosoya, dan Riku Yamane.
Babak Pertama: Tekanan Tuan Rumah dan Gol Pembuka Korsel
Menit ke-12, Jepang mengancam lebih dulu. Mao Hosoya melepaskan tendangan dari tepi kotak penalti, tetapi kiper Kim Jeong-hoon masih sigap menepis bola ke sisi kanan gawang. Statistik awal menunjukkan penguasaan bola 54-46 untuk Jepang, dengan 3 shots on target berbanding 1.
Namun menit ke-23, Korea Selatan memecah kebuntuan. Umpan terobosan Lee Kang-in memotong garis pertahanan Jepang, bola disambar Oh Se-hun dengan sepakan kaki kiri ke sudut kiri bawah gawang. Skor 1-0 untuk Korsel. Assist keempat Lee Kang-in di turnamen ini.
Menit ke-38, Jepang hampir menyamakan kedudukan lewat sundulan Nishimura. Sayang, bola masih membentur mistar. Hingga turun minum, Korsel bertahan dengan keunggulan tipis.
Babak Kedua: Drama VAR, Kartu Merah, dan Penalti Tuan Rumah
Jepang meningkatkan intensitas setelah jeda. Menit ke-58, wasit asal Uni Emirat Arab, Mohammed Abdulla, meninjau insiden di kotak penalti Korsel lewat VAR. Bek Korsel, Park Kyu-min, dianggap menyentuh bola dengan tangan. Penalti untuk Jepang. Riku Yamane tidak menyia-nyiakan peluang, menit ke-61, skor berubah 1-1.
Namun momentum berbalik menit ke-74. Gelandang Jepang, Kenta Sato, menerima kartu kuning kedua setelah pelanggaran keras terhadap Lee Kang-in di tengah lapangan. Kartu merah. Jepang bermain dengan 10 pemain selama 16 menit tersisa.
Korsel memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Menit ke-82, umpan silang dari sisi kanan disambut sundulan pemain pengganti, Kim Ji-soo. Bola membentur tiang dalam dan masuk. Skor 2-1 untuk Korea Selatan. Gol kedua Kim Ji-soo di turnamen ini, semuanya sebagai pemain pengganti.
Analisis Statistik: Efisiensi di Atas Dominasi
Hingga peluit panjang, Jepang mencatatkan penguasaan bola 58 persen dan 7 shots on target, sementara Korsel hanya 42 persen dengan 4 shots on target. Namun efektivitas Korsel luar biasa: dari 4 tembakan tepat sasaran, 2 berbuah gol. Jepang gagal mencetak gol dari permainan terbuka sepanjang laga.
Kim Jeong-hoon tampil heroik dengan 6 penyelamatan, termasuk dua penyelamatan krusial di menit injury time. Kiper berusia 22 tahun itu mencatatkan clean sheet di babak semifinal melawan Uzbekistan, dan meski kebobolan lewat penalti di final, performanya tetap menjadi kunci.
"Kami tahu Jepang akan menguasai bola. Rencana kami adalah bertahan disiplin lalu menyerang cepat. Pemain menjalankan instruksi dengan sempurna. Medali emas ini untuk rakyat Korea," ujar pelatih Hwang Sun-hong usai laga.
Dengan kemenangan ini, Korea Selatan U-23 menutup turnamen dengan catatan lima kemenangan dari enam pertandingan, 12 gol, dan hanya 3 kebobolan. Jepang harus puas dengan medali perak di hadapan pendukung sendiri, mengulang kisah pahit tiga tahun lalu.
Bagi sejumlah pemain Korsel, medali emas ini juga membuka jalan pembebasan wajib militer sesuai regulasi yang berlaku. Lee Kang-in, Oh Se-hun, dan Kim Jeong-hoon kini resmi menyandang status peraih emas Asian Games. Pesta kemenangan berlanjut di sudut lapangan, sementara tuan rumah hanya bisa menatap gawang. Sepak bola memang sering kejam pada mereka yang paling mendominasi.
Comments (0)