Aguero dan Momen Terakhir yang Mengubah Sejarah Manchester City
Menit ke-93:20. Etihad Stadium bergemuruh. Sergio Aguero melepaskan tendangan mendatar dari sudut sempit, bola menghujam gawang Queens Park Rangers, dan skor akhir berubah menjadi 3-2 untuk Manchester...
Menit ke-93:20. Etihad Stadium bergemuruh. Sergio Aguero melepaskan tendangan mendatar dari sudut sempit, bola menghujam gawang Queens Park Rangers, dan skor akhir berubah menjadi 3-2 untuk Manchester City. Gol itu bukan sekadar gol kemenangan biasa — ia adalah penentu gelar Premier League 2012, trofi liga pertama City dalam 44 tahun dan salah satu momen paling dramatis dalam sejarah sepak bola Inggris.
Musim 2011-2012 berjalan seperti roller coaster. City asuhan Roberto Mancini tampil dominan di paruh pertama, namun Manchester United yang dilatih Sir Alex Ferguson terus menempel ketat. Pada 30 April 2012, City tertinggal delapan poin di klasemen setelah kalah dari Arsenal. Dalam enam pertandingan terakhir, pasukan Mancini menyapu bersih kemenangan, sementara United tergelincir di laga-laga krusial. Menuju pekan terakhir, kedua tim sama-sama mengumpulkan 86 poin, tetapi City unggul selisih gol. Segalanya ditentukan pada 13 Mei 2012.
Starting XI dan Formasi: City 4-2-3-1 vs QPR 4-4-2
Mancini menurunkan starting XI terbaiknya dalam formasi 4-2-3-1. Joe Hart di bawah mistar, dengan Micah Richards, Joleon Lescott, Vincent Kompany, dan Gael Clichy di lini belakang. Yaya Toure dan Gareth Barry mengisi double pivot, sedangkan David Silva, Samir Nasri, dan Carlos Tevez mendukung Aguero sebagai ujung tombak. Di kubu QPR, Mark Hughes — mantan manajer City — memakai formasi 4-4-2 dengan Paddy Kenny di gawang serta Djibril Cisse dan Bobby Zamora di lini depan.
City menguasai bola sejak awal. Statistik penguasaan bola akhir laga mencatat 74 persen untuk City berbanding 26 persen untuk QPR. Tercatat 24 shots dilepaskan City dengan 9 shots on target, sementara QPR hanya melepaskan 3 tembakan tepat sasaran. Menit ke-39, Pablo Zabaleta membuka keunggulan setelah menerima umpan Silva. Babak pertama ditutup 1-0.
Drama Babak Kedua: Kartu Merah, Gol Balasan, dan Ketegangan
Memasuki menit ke-48, QPR menyamakan kedudukan melalui Djibril Cisse setelah kesalahan komunikasi di lini belakang City. Menit ke-55, Joey Barton — mantan pemain City — menerima kartu merah setelah melakukan pelanggaran kasar kepada Tevez, lalu terlibat insiden dengan Aguero dan Kompany. VAR belum ada pada era itu, namun wasit Mike Dean langsung mengusir Barton. Bermain 10 orang justru membuat QPR tampak lebih solid.
Menit ke-66, Jamie Mackie mencetak gol setelah memanfaatkan kelengahan Joleon Lescott, membawa QPR unggul 2-1. Etihad Stadium hening. Jika skor bertahan, Manchester United yang menang 1-0 atas Sunderland akan menyegel gelar. Mancini merespons dengan memasukkan Edin Dzeko dan Mario Balotelli. Dzeko menyamakan kedudukan pada menit ke-90, memanfaatkan kemelut di kotak penalti setelah tendangan sudut Silva. Skor menjadi 2-2, namun City masih butuh satu gol.
Momen Ikonik: Assist Balotelli dan Gol Aguero
Menit ke-93:20, Balotelli, yang baru masuk beberapa menit sebelumnya, merebut bola di sisi kiri dan mengirim assist rendah ke kotak penalti. Aguero mengontrol bola dengan tenang, melewati satu bek, lalu menempatkan tendangan ke sudut kanan gawang Paddy Kenny. Skor akhir 3-2. Gol tersebut tercatat sebagai salah satu gol paling terlambat dalam sejarah gelar Premier League. Aguero menyelesaikan musim dengan 23 gol liga dan 30 gol di semua kompetisi.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya hanya menendang bola dan berdoa," kata Aguero usai laga, dikutip dari wawancara pascapertandingan. Sementara Mancini menyebut momen itu sebagai "keajaiban yang hanya terjadi sekali dalam seratus tahun."
Dari sudut statistik, gelar 2012 menjadi fondasi era keemasan City di bawah pemilik Abu Dhabi United Group. Musim itu City mencetak 93 gol — terbanyak di liga — dan mencatat 17 clean sheet berkat duet Kompany-Lescott. Kompany bahkan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Premier League 2012.
Lebih dari satu dekade kemudian, momen Aguero tetap menjadi referensi wajib ketika membahas drama juara liga. Scudetto Serie A 2022, gelar Liga Champions 2023, hingga dominasi beruntun City tak lepas dari fondasi yang dibangun pada 13 Mei 2012. Tendangan mendatar Aguero dari sudut sempit itu bukan hanya mengubah papan skor, tetapi mengubah peta kekuatan sepak bola Inggris secara permanen.
Bagi QPR, laga itu berakhir pahit, namun mereka tetap bertahan di Premier League musim berikutnya. Bagi City, 93:20 adalah awal dari sebuah dinasti. Ketika peluit panjang berbunyi, lapangan berubah menjadi lautan biru, dan Manchester City resmi menyandang gelar juara Premier League 2012 dengan skor akhir 3-2 — salah satu klimaks paling dramatis yang pernah disaksikan liga ini.
Comments (0)