Van de Ven Pahlawan Lalu Penalti, Tottenham Kalah di Super Cup
UDINE — Drama 120 menit plus adu penalti di Bluenergy Stadium, Udine, Italia, berakhir pahit bagi Tottenham Hotspur. Skor akhir 2-2 bertahan hingga babak tambahan usai, dan PSG keluar sebagai juara ...
UDINE — Drama 120 menit plus adu penalti di Bluenergy Stadium, Udine, Italia, berakhir pahit bagi Tottenham Hotspur. Skor akhir 2-2 bertahan hingga babak tambahan usai, dan PSG keluar sebagai juara UEFA Super Cup 2025 lewat kemenangan adu tos-tosan. Sorotan utama jatuh kepada bek tengah Micky van de Ven, yang berubah dari pahlawan menjadi penentu kegagalan The Lilywhites.
Jalannya Pertandingan: Van de Ven Buka Skor
Formasi starting XI Tottenham mengusung 4-3-3 dengan Van de Ven berduet bersama Cristian Romero di jantung pertahanan. Menit ke-23, bek asal Belanda itu naik ke depan menyambut bola mati dan melepaskan tendangan keras dari dalam kotak penalti. Bola tak bisa dijangkau kiper PSG. Gol pembuka itu mengubah skor menjadi 1-0 untuk Tottenham dan membuat penguasaan bola yang tadinya 42 persen milik Spurs terasa lebih berarti.
PSG merespons dengan penguasaan bola dominan hingga 58 persen. Menit ke-38, Les Parisiens menyamakan kedudukan lewat serangan cepat dari sisi kanan. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum. Babak kedua berjalan lebih terbuka; Tottenham mencatat lima shots on target dari total sembilan percobaan, sementara PSG hanya dua dari tujuh tembakan. Menit ke-67, Spurs kembali unggul lewat sundulan yang memanfaatkan assist dari sisi kiri. Keunggulan 2-1 bertahan hingga menit-menit akhir, sebelum PSG memaksa laga berlanjut ke babak tambahan dengan gol penyama di menit ke-88.
Babak tambahan 2x15 menit berjalan ketat. Tiga kartu kuning dikeluarkan wasit, satu untuk Tottenham dan dua untuk PSG. Tidak ada gol tambahan, sehingga adu penalti menentukan juara. Di titik putih, eksekusi kelima Tottenham yang dieksekusi Van de Ven gagal bersarang di gawang. Bola melambung di atas mistar. PSG menyelesaikan lima penalti dengan empat gol, Tottenham hanya tiga, dan skor adu penalti berakhir 4-3.
Statistik Kunci Laga
Secara keseluruhan, Tottenham mencatat penguasaan bola 47 persen berbanding 53 persen milik PSG. Spurs unggul dalam shots on target dengan enam berbanding empat. Jumlah pelanggaran Tottenham 12 berbanding 15 milik PSG. Corner kick juga lebih banyak didapat Tottenham, tujuh berbanding lima. Namun angka-angka itu tak cukup mengangkat trofi. Satu momen di titik putih menjadi pembeda.
Van de Ven sendiri tampil solid sepanjang laga. Ia mencatat 87 persen akurasi umpan, memenangkan delapan duel udara, dan melakukan enam clearance. Gol pembukanya membuat namanya sempat disebut sebagai kandidat Man of the Match. Namun sepakan penalti yang melambung mengubah narasi. Roller coaster emosi yang ia alami di Udine menjadi cerminan perjalanan Tottenham di laga ini.
Kutipan Pelatih dan Analisis Taktik
"Sepak bola kadang kejam. Micky bermain luar biasa malam ini, golnya membuka jalan kami. Penalti bisa gagal kepada siapa saja. Kami menang dan kalah sebagai satu tim," ujar pelatih Tottenham seusai laga.
Dari sisi taktik, keputusan pelatih menurunkan Van de Ven sebagai eksekutor kelima menuai pertanyaan. Bek tengah memang kerap menjadi pilihan terakhir dalam adu penalti, tetapi beban mental setelah tampil heroik selama 120 menit menjadi faktor tersendiri. PSG tampil lebih tenang, dengan empat dari lima eksekutor sukses menaklukkan kiper Tottenham.
Bagi Spurs, hasil ini memperpanjang catatan tanpa trofi di ajang Eropa. Bagi Van de Ven, malam di Udine akan dikenang sebagai malam penuh warna: ia mencetak gol pembuka, tampil disiplin lini belakang, tetapi harus menelan pil pahit di akhir laga. Sepak bola memang sering menyuguhkan roller coaster emosi seperti itu, dan Super Cup 2025 menjadi bukti terbaru bahwa satu momen di titik 11 meter bisa menentukan segalanya.
Comments (0)