906 Pemanah Muda Bersaing di MilkLife Archery Challenge 2026

Panggung utama panahan usia muda nasional kembali bergulir. MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 yang baru saja merampungkan seluruh sesi pertandingan di Jakarta menjadi saksi bagaimana 906...

Jul 27, 2026 - 19:55
0 0
906 Pemanah Muda Bersaing di MilkLife Archery Challenge 2026

Panggung utama panahan usia muda nasional kembali bergulir. MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 yang baru saja merampungkan seluruh sesi pertandingan di Jakarta menjadi saksi bagaimana 906 atlet dari 29 provinsi melepaskan ribuan anak panah demi memperebutkan gelar juara. Kompetisi yang digelar atas kerja sama Djarum Foundation melalui program Bakti Olahraga, MilkLife, dan Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani) ini bukan hanya sekadar turnamen tahunan—ia menjelma etalase talenta panahan yang makin mengilap dari tahun ke tahun. Selama tiga hari penuh, lapangan berubah menjadi laboratorium akurasi: suara anak panah menghujam papan sasaran, detakan detak jantung yang nyaris terdengar di fase eliminasi, dan sorak-sorai kecil dari rekan satu kontingen menjadi latar yang menggambarkan tingginya intensitas persaingan.

Ledakan Partisipasi: Dari Sabang Sampai Merauke

Angka 906 peserta sekaligus mengukuhkan edisi ini sebagai salah satu kejurnas junior dengan partisipasi terbesar dalam sejarah panahan Indonesia. Yang menarik, sebaran provinsi tidak lagi didominasi oleh pulau Jawa. Kontingen Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, hingga Papua berhasil mengirimkan atlet-atlet yang tidak sekadar menjadi pelengkap. Jika dirinci, kuota terbesar tetap datang dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Namun, kejutan muncul dari Sumatera Utara yang memboyong 37 atlet—naik hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya—dan Nusa Tenggara Barat yang untuk pertama kalinya menempatkan wakil di final recurve U-15.

Format Gugur dan Ujian Mental di Garis Tembak

Pertandingan dibagi ke dalam dua divisi utama: recurve dan compound, dengan kelompok umur U-12, U-15, dan U-18 yang memisahkan putra dan putri. Babak kualifikasi menggunakan sistem ranking round standar World Archery: 72 anak panah dari jarak 30, 40, atau 50 meter sesuai kelompok umur. Setelah itu, format head-to-head eliminasi langsung berbasis set point (skor 6, 5, 4, dan X) menguji konsistensi mental setiap pemanah. Seperti yang diperlihatkan di final compound putra U-18, ketika unggulan pertama asal Jawa Timur, Fajar Aditya, harus bertarung hingga shoot-off kelima melawan pemanah DKI Jakarta, Renaldy Saputra. Keduanya sama-sama membukukan skor sempurna 10 pada empat anak panah penentuan. Pada akhirnya, anak panah Renaldy mendarat lebih dekat ke pusat X, menjadikannya kampiun dengan margin hanya 2,3 milimeter.

Dominasi Kontingen dan Kejutan-kejutan di Podium

Jawa Barat muncul sebagai kontingen tersukses dengan membawa pulang 8 medali emas, disusul DKI Jakarta (5 emas) dan Jawa Timur (4 emas). Sektor recurve menjadi lumbung medali bagi Jawa Barat. Sementara itu, nomor compound justru menyajikan persaingan yang lebih merata: Sumatera Selatan mencuri dua emas dari tangan wakil-wakil Jawa. Salah satu momen emosional terjadi ketika Ni Kadek Ayu dari Bali—yang berlatih dengan peralatan pinjaman dari klub—mampu merebut perak di recurve putri U-15, mengalahkan atlet-atlet pelatnas di babak semifinal. “Ini kemenangan mental. Dia tidak terbebani, dan setiap anak panahnya seperti tidak mengenal kata ragu,” ujar pelatih kepala Bali, I Made Sujana, di sela-sela medali ceremony.

Lebih dari Sekadar Kompetisi: Mencetak Prajurit Olimpiade

Ketua Umum PB Perpani, dalam sambutan penutupan, menekankan bahwa ajang ini bukan hanya tentang siapa yang naik podium tertinggi. “Kami melihat data dan statistik dari setiap babak. Konsistensi, recovery setelah kehilangan set, respon terhadap tekanan—itulah yang kami pantau untuk mengisi pelatnas junior dan menyiapkan mereka ke ajang SEA Games hingga kualifikasi Olimpiade 2028,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa dari total peserta, sebanyak 63% berusia di bawah 15 tahun, menandakan masa depan cerah panahan Indonesia. Sementara itu, perwakilan Djarum Foundation menambahkan bahwa program ini akan terus berlanjut dengan roadmap hingga 2030, termasuk pengadaan busur standar kompetisi dan pelatihan pelatih bersertifikat di daerah-daerah yang minim akses.

“Kami ingin setiap anak dengan potensi tidak terhalang oleh keterbatasan alat. Tahun ini saja kami menyalurkan 200 set busur recurve dan compound ke 15 provinsi. Semangat di Kejurnas ini membuktikan investasi itu tidak sia-sia,” ujar Program Manager Bakti Olahraga Djarum Foundation.

Ketika panitia mengumumkan total poin kualifikasi tertinggi sepanjang kejurnas, rekor baru tercipta: 681 dari 720 poin oleh pemanah recurve putra U-18, Arya Dwinanda dari Jawa Barat. Skor itu bahkan melampaui rata-rata poin atlet senior di beberapa turnamen nasional. Dengan segala catatan statistik, drama shoot-off, serta kemunculan wajah-wajah baru, MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 menegaskan bahwa pipa regenerasi panahan Indonesia tidak hanya mengalir deras—ia menyembur deras, siap mendobrak kancah internasional. Ribuan anak panah telah terbang, dan di antara salah satunya mungkin terselip calon peraih medali Olimpiade masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User