Yogyakarta — Menteri Ekraf Sebut Jamu Mampu Naikkan Daya Saing Global

Yogyakarta, 13 Juni 2026 — Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa jamu bukan sekadar warisa

Jul 08, 2026 - 15:13
0 0
Yogyakarta — Menteri Ekraf Sebut Jamu Mampu Naikkan Daya Saing Global

Yogyakarta, 13 Juni 2026 — Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa jamu bukan sekadar warisan budaya, melainkan dapat menjadi motor penggerak daya saing Indonesia di pasar global. Pernyataan itu disampaikan dalam Podcast Jejamuan: Jelajah Jamu Nusantara Episode 1 yang digelar di Kepatihan Pakualaman, Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).

Acara perdana bertajuk “Peradaban” ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri, budayawan, dan pemangku kebijakan untuk mendiskusikan posisi jamu sebagai produk ekonomi kreatif yang siap menembus persaingan internasional. Riefky hadir sebagai narasumber utama dalam sesi yang menyoroti transformasi komoditas herbal Indonesia menjadi kekuatan diplomasi budaya sekaligus penggerak ekspor bernilai tambah tinggi.

Rangkaian Acara Podcast Jejamuan

Gelaran bernuansa kultural di kompleks Kepatihan Pakualaman ini berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Berikut kronologi kegiatan yang menjadi fondasi diskusi tentang potensi global jamu:

  1. 09.00 WIB – Pembukaan dan Pameran Rimpang: Acara dimulai dengan pameran edukatif yang menampilkan lebih dari 50 varietas tanaman obat asli Nusantara. Pengunjung dapat menyaksikan langsung rantai nilai, dari bahan baku segar hingga produk kemasan siap ekspor.
  2. 10.15 WIB – Keynote Menekraf: Teuku Riefky Harsya menyampaikan pidato kunci di hadapan pelaku UMKM, eksportir, dan komunitas lokal. Ia membeberkan data terkini pasar jamu nasional yang menunjukkan akselerasi signifikan pascapandemi.
  3. 11.00 WIB – Diskusi Panel: Riefky bergabung dengan maestro jamu dan praktisi ekspor untuk merumuskan strategi perluasan pasar global. Diskusi ini membahas standarisasi produk, kemasan berorientasi selera internasional, hingga pemanfaatan platform digital untuk penetrasi pasar.
  4. 12.30 WIB – Workshop dan Bimbingan Teknis: Di sesi penutup, pelaku usaha kecil mendapat pendampingan sertifikasi halal dan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) yang menjadi syarat wajib ekspor ke kawasan kaya seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Potensi Ekonomi Jamu di Arena Internasional

Dalam pemaparannya, Riefky mengungkapkan bahwa nilai pasar produk jamu dan obat herbal Indonesia telah menembus Rp 5,4 triliun pada tahun 2025, tumbuh rata-rata 12,7 persen per tahun sejak 2020. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat, segmen minuman serbuk herbal dan suplemen cair menyumbang 62 persen dari total omzet industri.

Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor berbasis rempah dan produk herbal Indonesia pada kuartal I/2026 mencapai USD 97,3 juta, atau meningkat 18,4 persen secara tahunan. Riefky menyebut bahwa permintaan tinggi datang dari Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa Timur, didorong oleh tren global “back to nature” serta preferensi konsumen terhadap pengobatan preventif.

“Produk jamu tidak hanya mewakili kearifan lokal, tetapi juga memiliki multiplier effect yang luar biasa. Setiap kenaikan 1 persen pangsa pasar ekspor kita berpotensi menciptakan 4.500 lapangan kerja baru di sektor pertanian rimpang, pengolahan, dan distribusi,” ujar Riefky, merujuk pada analisis tim riset Kemenekraf.

Untuk memperkuat daya saing, pemerintah tengah menggenjot program “Jamu Goes Global” yang mencakup pendanaan riset berbasis bukti klinis, insentif fiskal bagi eksportir pemula, hingga promosi terpadu melalui Indonesia Spice Up the World. Targetnya, pada 2028, nilai ekspor jamu bisa menembus USD 250 juta per tahun, menjadikan Indonesia pemain utama industri wellness global yang diproyeksikan bernilai USD 1,8 triliun di 2027.

Implikasi Pasar dan Agenda Strategis

Langkah ini akan memberi angin segar bagi emiten farmasi dan konsumer yang memiliki lini herbal seperti Sido Muncul dan Deltomed, yang sudah merambah pasar regional. Analis menilai, jika standarisasi dan branding kolektif “Nusantara Spice” berhasil, margin laba kotor eksportir jamu berpotensi naik hingga 5–8 persen poin karena premiumisasi harga di luar negeri.

Di sisi lain, tantangan masih menganga pada harmonisasi regulasi dengan negara tujuan ekspor dan ketersediaan bahan baku berkualitas. Acara di Yogyakarta ini diharapkan menjadi katalis sinergi lintas kementerian agar potensi jamu sebagai pilar daya saing bangsa tak lagi sekadar retorika.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User