WASHINGTON — AS Tuduh DeepSeek dan Alibaba Tiru Teknologi AI Google

Perang dingin teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan. Pemerintah Federal Amerika Serikat secara r

Sep 11, 2026 - 13:16
0 1
WASHINGTON — AS Tuduh DeepSeek dan Alibaba Tiru Teknologi AI Google

Perang dingin teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan. Pemerintah Federal Amerika Serikat secara resmi melayangkan tuduhan berat terhadap dua entitas kecerdasan buatan (AI) terkemuka asal Tiongkok, yaitu DeepSeek dan Alibaba. Kedua perusahaan tersebut diduga kuat memanfaatkan teknik penyulingan model atau knowledge distillation secara tak sah untuk meniru kapabilitas intelijen dari sistem AI unggulan AS milik OpenAI (ChatGPT) dan Google (Gemini).

Langkah tegas Washington ini menandai pergeseran fokus sengketa geopolitik, yang sebelumnya didominasi pembatasan ekspor perangkat keras seperti chip semikonduktor canggih, kini meluas ke ranah arsitektur perangkat lunak dan etika pelatihan model data. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa pengembang Tiongkok memanen data keluaran (*output*) dari model-model AS untuk melatih sistem mereka sendiri secara efisien, yang dinilai sebagai bentuk pelanggaran kekayaan intelektual (HKI) secara terselubung.

Strategi Distilasi: Efisiensi Biaya atau Pelanggaran HKI?

Dalam lanskap pengembangan AI, knowledge distillation sebenarnya merupakan teknik umum di mana model yang lebih kecil dan efisien (*student model*) dilatih menggunakan pengetahuan yang diekstraksi dari model yang jauh lebih besar dan kompleks (*teacher model*). Namun, permasalahan hukum muncul ketika proses penyulingan ini dilakukan tanpa lisensi komersial dari pemilik model utama.

Keberhasilan DeepSeek yang mengejutkan Silicon Valley beberapa waktu lalu—meluncurkan model R1 dengan efisiensi tinggi—kini berada di bawah bayang-bayang dugaan eksploitasi data pihak ketiga. Biaya pelatihan DeepSeek R1 yang dilaporkan hanya menelan sekitar US$ 6 juta berbanding terbalik dengan modal ratusan juta dolar AS yang dikucurkan perusahaan Silicon Valley.

"Penggunaan keluaran model pihak kedua untuk melatih model pesaing tanpa izin lisensi bukan sekadar pintasan teknis, melainkan pelanggaran kekayaan intelektual secara sistematis yang merugikan inovator asli," ujar seorang pejabat senior Departemen Perdagangan AS dalam keterangan resminya.

Pihak regulator menekankan bahwa efisiensi ekstrem yang dicapai pengembang Tiongkok tidak sepenuhnya murni hasil inovasi internal, melainkan efek dari menumpang pada riset intensif milik perusahaan rintisan dan raksasa teknologi Amerika.

Perbandingan Pendekatan Pengembangan AI

Untuk memahami eskalasi persaingan ini, berikut adalah perbandingan arsitektural dan operasional antara pendekatan pengembang AS dan Tiongkok:

Parameter Analisis Model Tertutup AS (OpenAI / Google) Model Tiongkok (DeepSeek / Alibaba Qwen)
Metodologi Utama Pelatihan skala penuh dari data mentah (pre-training) Distilasi data sintetis & penghematan komputasi
Estimasi Biaya Pelatihan > US$ 100 Juta per iterasi utama < US$ 10 Juta (berkat distilasi)
Isu Legalitas Data Lisensi data langsung & kepemilikan privat Dipertanyakan (diduga memanen output API AS)

Eskalasi Perang Teknologi Washington dan Beijing

Tuduhan ini diperkirakan akan memperketat sanksi teknologi dari AS terhadap Tiongkok. Beberapa langkah konkret yang sedang dipertimbangkan oleh otoritas Washington meliputi:

  • Pembatasan Akses API: Memperketat verifikasi identitas pengembang global untuk mencegah penambangan data sintetis dari alamat IP berisiko tinggi.
  • Pengawasan Ekspor Software: Memasukkan klausul lisensi ketat yang melarang penggunaan output model AS untuk pelatihan model komersial asing.
  • Sanksi Entitas Baru: Memasukkan startup AI Tiongkok yang terbukti melanggar ke dalam daftar hitam perdagangan (*Entity List*).

Praktek penyulingan model ini menempatkan industri AI global pada persimpangan jalan etis. Di satu sisi, teknik ini mendorong demokratisasi AI dengan menghadirkan model berbiaya murah. Namun di sisi lain, jika dilakukan tanpa batas hukum yang jelas, investasi triliunan rupiah dalam riset mendasar berisiko kehilangan perlindungan komersialnya, yang pada akhirnya dapat memperlambat laju inovasi global.

Pemerintah AS menuding pengembang AI Tiongkok melanggar HKI lewat teknik penyulingan model (distillation) demi memangkas biaya pelatihan secara drastis. Simak ulasan analitis lengkapnya di website Beritainti.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User