The Nusa Dua Raih Penghargaan Dampak Ekonomi Komunitas Lokal
Paradigma pariwisata modern kian bergeser dari sekadar eksploitasi keindahan alam menuju integrasi keberlanjutan yang inklusif. Kawasan pariwisata terpadu
Paradigma pariwisata modern kian bergeser dari sekadar eksploitasi keindahan alam menuju integrasi keberlanjutan yang inklusif. Kawasan pariwisata terpadu The Nusa Dua, yang dikembangkan oleh PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), kembali membuktikan komitmennya dengan meraih penghargaan bergengsi dalam ajang Bali Tourism Awards. Apresiasi ini menyoroti keberhasilan kawasan dalam memberikan dampak ekonomi riil terhadap masyarakat di sekitar lingkar destinasi.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa integrasi antara resor kelas dunia dan perekonomian rakyat bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah keharusan dalam model bisnis destinasi masa depan.
Kronologi Penganugerahan dan Rangkaian Evaluasi
Proses penilaian hingga penyerahan penghargaan prestisius ini mencerminkan evaluasi ketat terhadap tata kelola destinasi pariwisata:
- Senin, 14 September 2026: Malam penganugerahan Bali Tourism Awards digelar di Bali Beach Convention Center at The Meru Sanur. Dewan juri menetapkan The Nusa Dua sebagai kawasan percontohan berkat kontribusinya dalam memperkuat ketahanan ekonomi komunitas lokal.
- Rabu, 16 September 2026: Manajemen The Nusa Dua memaparkan capaian strategis kawasan pascapenghargaan, menekankan pentingnya sinergi antara pelaku industri perhotelan dan desa penyangga di hadapan publik dan pemangku kepentingan.
“Bagi kami, keberlanjutan bukan hanya bagaimana menjaga lingkungan dan kualitas kawasan, tetapi juga bagaimana aktivitas pariwisata menciptakan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha di sekitar destinasi,” tegas I Made Agus Dwiatmika, General Manager The Nusa Dua.
Transformasi Paradigma Pariwisata Berkelanjutan
Secara analitis, keberhasilan The Nusa Dua bertumpu pada perluasan pilar keberlanjutan (sustainability). Selama bertahun-tahun, isu keberlanjutan kerap direduksi menjadi program reduksi jejak karbon atau konservasi air semata. Namun, ITDC memperluas cakupan tersebut dengan memasukkan indikator kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat lokal.
Langkah strategis yang dijalankan pengelola kawasan mencakup:
- Pemberdayaan Rantai Pasok Lokal: Mendorong hotel dan penyewa (tenant) di kawasan untuk menyerap produk pangan, kerajinan, dan jasa dari pelaku UMKM daerah penyangga.
- Penyerapan Tenaga Kerja Berbasis Komunitas: Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal yang diimbangi dengan program peningkatan kapasitas (upskilling).
- Kemitraan Multipihak: Mengembangkan forum komunikasi rutin antara pengelola, pemerintah daerah, dan tokoh desa adat untuk menyelaraskan agenda pembangunan.
Mendorong Pertumbuhan yang Lebih Merata
Keberhasilan ekosistem The Nusa Dua memperlihatkan bahwa keberlanjutan sosial merupakan modal utama dalam menjaga stabilitas iklim investasi pariwisata. Dengan melibatkan masyarakat desa penyangga ke dalam rantai nilai pariwisata premium, risiko ketimpangan sosial dapat ditekan secara signifikan.
Dwiatmika menambahkan bahwa penghargaan ini bukan garis akhir, melainkan pemantik standardisasi baru. Manajemen berkomitmen untuk terus memperluas program kemitraan inklusif agar pertumbuhan bisnis di kawasan The Nusa Dua berjalan linier dengan peningkatan taraf hidup masyarakat Bali secara luas.
Comments (0)