Thailand Angkat Trofi Srikandi Merdeka Cup 2026, Garuda Pertiwi Kalah Dramatis
Skor akhir 3-2! Thailand resmi mengangkat trofi Srikandi Merdeka Cup 2026 setelah menumbangkan perlawanan sengit Garuda Pertiwi dalam laga final yang berlangsung ketat sejak menit pembukaan. Gol kemen...
Skor akhir 3-2! Thailand resmi mengangkat trofi Srikandi Merdeka Cup 2026 setelah menumbangkan perlawanan sengit Garuda Pertiwi dalam laga final yang berlangsung ketat sejak menit pembukaan. Gol kemenangan lahir pada menit ke-84, namun timnas putri Indonesia nyaris memaksa perpanjangan waktu sampai peluit panjang dibunyikan wasit di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Babak Pertama: Chaba Kaew Ambil Inisiatif, Garuda Pertiwi Balas Lewat Transisi
Menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3, Chaba Kaew langsung mengambil inisiatif serangan. Menit ke-7, tekanan tinggi di tengah lapangan memaksa kesalahan umpan bek Garuda Pertiwi, dan sepakan Miranda Nild dari luar kotak penalti hanya bisa dipantulkan kaki pemain bertahan. Gelombang serangan Thailand terus mengalir, dan pada menit ke-14 hasilnya datang: sepak pojok Pitsamai Sornsai disambut sundulan Kanjana Sung-Ngoen di titik penalti, bola melesat ke sudut kanan bawah gawang Nadia Rahmawati. 1-0.
Alih-alih runtuh, Garuda Pertiwi justru tampil lebih tertib. Formasi 4-4-2 yang rapat membuat ruang gerak lini tengah Thailand menyempit, sementara transisi cepat lewat sisi sayap menjadi senjata andalan. Menit ke-31, umpan terobosan Marselina Ferdinan menembus garis belakang Thai tanpa terjerat jebakan offside. Claudia Scheunemann mengontrol bola, melewati kiper, dan mencatatkan assist keempatnya di turnamen ini sekaligus menyamakan kedudukan 1-1.
Hingga babak pertama usai, penguasaan bola Thailand tercatat 57 persen, namun shots on target hanya unggul tipis 4 berbanding 3 — angka yang mencerminkan betapa rapatnya duel di lini tengah.
Babak Kedua: Empat Gol dan Satu Putusan VAR yang Menentukan
Ruang ganti menjadi kunci bagi Thailand. Orathai Srimanee masuk menggantikan gelandang defensif, mengubah pola menjadi 4-2-4. Perubahan itu langsung membuahkan hasil pada menit ke-58: kombinasi satu-dua antara Sung-Ngoen dan Nild diakhiri tendangan first-time dari tepian kotak penalti. Thailand unggul kembali 2-1.
Garuda Pertiwi tidak mau menyerah. Menit ke-71, Zahra Musdalifah mengambil bola dari sisi kiri, berputar melewati satu penjagaan, lalu melepaskan tembakan keras dari jarak 18 meter yang menghujam sudut atas. Skor berubah 2-2 dan tribun utara meledak.
Drama sesungguhnya hadir pada menit ke-84. Serangan balik kilat Thailand dimulai dari penyelamatan kiper Waraporn Boonsing, bola berpindah ke sayap kanan dalam tiga sentuhan, dan umpan silang rendah Sornsai disambut sentuhan tipis Srimanee di mulut gawang. Wasit sempat menunggu rundingan VAR selama hampir dua menit untuk memeriksa potensi offside sebelum gol dinyatakan sah. 3-2, dan suasana stadion terbelah dua.
Statistik Akhir: Selisih Tipis di Semua Lini
Data akhir pertandingan menegaskan betapa seimbangnya final ini. Thailand unggul penguasaan bola 58 persen berbanding 42 persen, shots on target 9 berbanding 5, serta duel udara 61 persen. Menariknya, Garuda Pertiwi lebih produktif dalam umpan terobosan dengan rasio 12 berbanding 8 — bukti transisi cepat tetap menjadi identitas mereka sepanjang turnamen.
Disiplin kedua tim juga terjaga: dua kartu kuning untuk masing-masing kubu, tanpa kartu merah dan tanpa penalti selama 90 menit. Thailand yang tiba di final dengan rekor clean sheet di tiga laga fase grup akhirnya harus mengakui kehebatan lini serang Indonesia yang mampu mencetak dua gol dalam satu pertandingan untuk pertama kalinya melawan Chaba Kaew sejak 2019.
Scheunemann Bersinar, Sung-Ngoen Tutup Turnamen dengan Trofi
Meski gagal mengangkat trofi, Claudia Scheunemann layak mendapat sorotan. Penyerang berusia 19 tahun itu menutup kompetisi dengan lima gol dan empat assist, rekor terbaik di antara seluruh pemain. Di kubu juara, Kanjana Sung-Ngoen yang mencetak hat-trick saat semifinal menambah satu gol lagi di final dan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Turnamen.
Kata Pelatih dan Makna Gelar
Kami kalah karena detail kecil, tapi anak-anak memberikan semuanya selama 90 menit. Ini fondasi untuk level yang lebih tinggi,
ungkap pelatih Garuda Pertiwi seusai laga. Sementara itu, pelatih Thailand mengakui lawannya malam ini adalah tim tersulit yang mereka hadapi sepanjang kompetisi. Gelar ini menjadi trofi Srikandi Merdeka Cup kedua bagi Chaba Kaew, sekaligus melengkapi catatan sempurna mereka dengan empat kemenangan dari empat laga. Bagi Garuda Pertiwi, finis sebagai runner-up dengan wajah ofensif seperti ini adalah modal berharga menuju ajang regional berikutnya.
Comments (0)