Menit ke-90+4, wasit meniup peluit panjang. Skor akhir 2-1 untuk Argentina atas Spanyol di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, 20 Juli 2026. Namun sorotan tak hanya pada gol kemenangan Albiceleste, melainkan juga pada sosok Claudio Tapia, Ketua Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), yang terlihat memberi isyarat dari tribun kejuraan sebelum kick-off dimulai. Gestur itu menjadi tanda bahwa tekanan mental dan taktik telah dipersiapkan matang oleh tim pelatih.
Jalannya Pertandingan: Dominasi Spanyol yang Tak Berbuah
Spanyol memulai laga dengan formasi 4-3-3 dan langsung menguasai penguasaan bola hingga 63% di babak pertama. Menit ke-12, Pedri melepaskan umpan terobosan kepada Lamine Yamal, tetapi tendangan pemain muda itu masih melebar di sisi kanan gawang Emiliano Martínez. Argentina yang tampil dengan starting XI 4-4-2 bertahan rapat, mengandalkan serangan balik cepat melalui Lionel Messi dan Julián Álvarez. Menit ke-23, Messi melepaskan tendangan bebas dari jarak 25 meter, tetapi kiper Spanyol Unai Simón melakukan penyelamatan gemilang. Statistik babak pertama mencatat Spanyol unggul shots on target 4-2, tetapi skor tetap 0-0.
Babak kedua, Spanyol meningkatkan intensitas. Menit ke-58, Álvaro Morata mencetak gol setelah memanfaatkan umpan silang Dani Olmo. VAR sempat meninjau potensi offside, namun gol disahkan karena Morata berada sejajar dengan bek terakhir Argentina. Argentina merespons dengan memasukkan Ángel Di María dan Lautaro Martínez. Menit ke-72, Lautaro menyamakan kedudukan lewat sundulan setelah assist Messi. Penguasaan bola bergeser menjadi 55% untuk Spanyol, tetapi Argentina lebih efektif dengan 5 shots on target berbanding 6 milik Spanyol.
Peran Claudio Tapia di Balik Layar
Claudio Tapia, yang telah memimpin AFA sejak 2017, dikenal sebagai figur yang aktif memberi dukungan moral kepada para pemain. Menjelang laga final, ia terlihat berbicara dengan pelatih kepala Lionel Scaloni dan memberi isyarat tangan yang mengindikasikan instruksi taktis tambahan. Meski tidak masuk ke area teknis, kehadiran Tapia di tribun VIP menjadi simbol stabilitas organisasi di tengah tekanan publik. Di babak kedua, ia beberapa kali berdiri menyaksikan peluang emas Argentina, termasuk tendangan Messi yang membentur tiang gawang pada menit ke-81.
"Kami tahu Spanyol akan menguasai bola, tetapi kami percaya pada transisi cepat. Pemain menjalankan rencana dengan disiplin luar biasa," ujar Scaloni dalam konferensi pers usai laga.
Kemenangan ini mencatatkan clean sheet kedua Argentina di fase gugur, setelah sebelumnya mengalahkan Brasil 1-0 di semifinal. Tapia sendiri dikabarkan akan menggelar perayaan resmi di Buenos Aires, namun ia menegaskan fokus berikutnya adalah kualifikasi Piala Dunia 2030.
Statistik Kunci dan Analisis Taktik
Secara keseluruhan, Spanyol mencatat penguasaan bola 58%, shots on target 6, dan 8 kartu kuning. Argentina mencatat 42% penguasaan bola, 7 shots on target, dan 5 kartu kuning. Tidak ada kartu merah dalam laga ini, tetapi wasit mengeluarkan 13 kartu kuning—terbanyak dalam final Piala Dunia sejak 2006. Gol kemenangan Argentina tercipta pada menit ke-88 melalui tendangan voli Enzo Fernández setelah assist tidak langsung dari Messi. VAR kembali mengecek potensi handball di area Spanyol, tetapi tidak ada pelanggaran.
Formasi 4-4-2 yang diterapkan Scaloni terbukti mampu meredam kreativitas Pedri dan Yamal. Sementara Spanyol yang mengandalkan 4-3-3 gagal memanfaatkan keunggulan jumlah umpan (612 berbanding 389). Tapia, dalam pernyataannya kepada media Argentina, menyebut kemenangan ini sebagai "hasil kerja keras seluruh elemen, bukan hanya pemain." Ia juga menyinggung pentingnya pembinaan usia muda yang telah berjalan sejak 2019.
Dengan hasil ini, Argentina menambah koleksi gelar Piala Dunia menjadi empat, menyusul 1978, 1986, dan 2022. Spanyol harus puas menjadi runner-up untuk pertama kalinya sejak 2010. Laga berlangsung dalam suhu 28 derajat Celsius dengan kelembapan 65%, faktor yang menurut analis memengaruhi ritme Spanyol di 15 menit terakhir. Claudio Tapia pun meninggalkan stadion dengan senyum lebar, tanda bahwa misi di New Jersey telah tuntas.
Comments (0)